PERIWAYATAN HADITS

Pendahuluan

Dalam sejarah perkembangan hadits, kaum muslimin memberikan perhatian yang sangat besar terhadap hadits Nabawy. Mereka sangat bersemangat untuk menghafal, memindahkan dan menyampaikannya sejak masa-masa awal Islam. Disamping itu, mereka juga bersemangat untuk menghimpun dan mengkodifikasikannya. Dalam proses pengkodifikasian, hafalan dan tulisan saling menunjang dalam pemeliharaan hadits, seperti halnya perhatian yang sungguh sungguh dari kaum muslimin dan ulama khususnya dalam rangka membela dan menjaganya.

Selanjutnya, implementasi dari kesungguhan kaum muslimin itulah maka muncullah dua obyek kajian pokok dalam ilmu hadits yaitu llmu Hadits Riwayah dan Ilmu Hadits Dirayah. Berbicara tentang llmu Hadits Riwayah maka berbicara mengenai sabda, perbuatan, taqrir dan sifat Rasulullah SAW sebagai obyeknya yang dipandang dari sudut pengutipannya secara cermat dan akurat.[1] Adapun sabda, perbuatan, taqrir dan sifat Rasul tidak terlepas dari sistem perirvavatan (riwayah). Dalam kamus llmu Hadits, riwayat artinya menceritakan, mengabarkan, cerita, kabar, yakni kabar yang berisi ucapan, prilaku atau lain-lain yang dikatakan dari sahabat Nabi SAW, baik kabar itu benar ataupun tidak.[2] Ahmad Umar Hasyim mendefinisikan riwayat sebagai berikut:

الرواية هي أداء الحديث وتبليغه مع إسناده الى من عزي اليه بصيغة من صيغ الأداء المطابقة لحالة التحمل

“Riwayah adalah menyampaikan hadits dan memberikannya disertai sanad-sanad kepada seseorang yang ditemuinya dengan suatu bentuk dari bentuk-bentuk penyampaian yang bertingkat karena keadaan tahammulnya.”[3]

Periwayatan hadits Nabi oleh rawi dilakukan dengan dua cara, yaitu diriwayatkan dengan lafadz aslinya sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi dan diriwayatkan dengan maknanya saja karena rawi tidak hafal benar lafadz aslinya. Mengenai periwayatan cara pertama, tidak ada perbedaan pendapat tentang kebolehannya. Sedangkan periwayatan hadits dengan makna merupakan masalah ilmu riwayah hadits yang paling penting karena padanya terjadi perbedaan pendapat dan ketidakjelasan serta banyak problematikanya. Perbedaan pendapat tersebut berkisar pada hukum meriwayatkan hadits dengan makna, terutama sebelum masa tadwinul hadits.

B. Riwayat Al-Hadits bi Al-Lafdz dan bi Al-Ma’na

1. Riwayat Al-Hadits bi al-Lafdz

Disamping para ulama begitu bersemangat dalam menghafal, memindahkan dan me-njaga dengan sungguh-sungguh hadits Nabi, ulama juga bersemangat untuk menyampaikan hadits persis seperti yang mereka’dengan tanpa penggantian dan perubahan sedikitpun. Periwayatan hadits seperti ini adalah periwayatan hadits dengan lafadz (riwayat hadits bi al-Lafdz). Periwayatan hadits dengan lafadz adalah meriwayatkan dengan lalfal asli sebagaimana para sahabat menerimanya dari Nabi.[4] Hal ini dikarenakan para sahabat tersebut hafal benar atas apa yang diucapkan Nabi.[5] LafaI asli yang dimaksud adalah isi atau matan hadits secara keseluruhan yang diucapkan oleh Nabi tidak kurang dan tidak lebih. Dengan demikian, haditshadits yang diriwayatkan dengan lafadz aslinya hanya berlaku bagi hadits-hadits qauliyah (ucapan) yang hapal benar lafadz aslinya dari Nabi. Dr. Ahmad Umar Has.vim mendefinisikan periwayatan hadits dengan lafadz sebagai berikut:

اما الرواية بالفظ فهي رواية الحديث على النحو الذي تحمله الراوى وبالفظ الذى سمعه دون تغيير او تبديل او زيادة او نقص او تقديم او تأخير

“Adapun riwayat bi al-lafadz adalah meriwayatkan hadits dengan contoh yang dikemukakan oleh rawi dan dengan lafadz yang didengarnya tanpa peruhahan atau penggantian, penambahan atau pengurangan dan (tanpa) mendahulukan atau mengakhirkan.”[6]

Dan menurutnya, hukum meriwavatkan hadits dengan lafadz adalah boleh tanpa ada perbedaan pendapat diantara para ulama, bahkan periwayatan hadits seperti ini merupakan periwayatan 1’ang paling tinggi dan paling kuat selamamemenuhi syarat-syarat keshahihannva.[7]

Hadits yang diriwayatkan dengan lafadz asli dari Nabi, dapat diketahui dari beberapa hadits yang diriwayatkan oleh beberapa rarvi dengan redaksi yang sama sebagaimana diterima dari Nabi. Di barvah ini dikutip dua buah hadits qauliyah yang diriwayatkan oleh rawi yang berbeda dengan lafadz asli.

حدثنا قتيبة قال حدثنا الليث عن يزيد بن حبيب عن ابي الخير عن عبد الله ابن عمر انّ رجلا سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم اي الإسلام جير؟ قال تطعم الطعام وتقرأ السلام على من عرفت ومن لم تعرف (رواه البخارى)

“Qatibah telah menceritakan kepada kami, dia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Laits dari Yazid Ibn Habib dari Abi al-Khair dari Abdullah Ibnu Umar, sesuangguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW: “ Islam yang bagaimana yang paling baik? Beliau menjawab: “Kamu memberi makanan dan kamu mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan (kepada) orang yang kamu tidak mengenalnya.[8]

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما: انّ رجلا سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم اي الإسلام جير؟ قال تطعم الطعام وتقرأ السلام على من عرفت ومن لم تعرف (رواه مسلم)

“Dari Abdullah Ibnu Umar r.a. sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW: Islam yang bagaimana yang paling baik? Beliau menjawab: Kamu memberi makanan dan kamu mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan (kepada) orang yang kamu tidak mengenalnya.”[9]

2. Riwayat al-Hadits bi al-Ma’na

Sehubungan dengan keterbatasan ingatan atau hafalan para sahabat terhadap hadits yang disampaikan oleh Nabi, maka ada kalanya para sahabat meriwayatkan dengan makna atau maksudnya saja karena mereka tidak ingat lafadz yang aslinya. Periwayatan seperti itu dikenal dengan periwatan dengan makna (riwayat al-had’its bi al nta’na). Sehubungan dengan hal itu, maka para sahabat meriwayatkan hadits Nabi dengan redaksi kalimat yang disusun oleh mereka sendiri, karena mereka tidak hafal ucapan yang aslinya atau kesimpulan dari apa yang diperbuat Nabi atau yang disabdakannya.[10] Oleh karena itu banyak ha’dits yang mempunyai maksud yang sama tetapi matannya berbeda-beda.[11] Ahmad Umar Hasyim mendefinikan riwayat hadits dengan makna sebagai berikut:

واما الروية بالمعنى فمرادبها أداء الحديث وروايته بمعناه سواء كان اللفظ كله من عند الراوى أو بعضه بشرط ان يحافظ على المعنى

“Dan adapun riwayat bi al-ma’na, yang dimaksud dengannya adalah penyampaian hadits dan periwayatannya dengan maknanya baik seluruh lafadznya dari rawi atau sebagian dengan syarat ia memelihara maknanya.”[12]

Untuk lebih jelasnya berikut ini dikutip beberapa contoh periwayatan hadits dengan makna bagi hadits qauliyah dan fi’liyah.

حدثنا عبيد الله موس قال أخبرنا حنظلة بن أبي سفيان عن عكرمة بن خالد عن عمر رضي الله عنهما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم بني الإسلام على خمس شهادة ان لا اله الا الله وان محمدا رسول الله واقام الصلاة وإيتاء الزكاة والحج وصوم رمضان

“Telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Musa, dia berkata, telah memberitakan kepada kami Handzolah bin Abi Sufyan dari Ikrimah bin khalid dari Ibnu Umar r.a. berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW, “Islam didirikian di atas lima perkara: kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, haji dan puasa bulan ramadlan.”[13]

عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: بني الإسلام على خمس على ان يوحد الله, وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة وصيام رمضان والحج. فقال رجل: الحج وصيام رمضان؟ فقال: لا, صيام رمضان والحج, هكذا سمعته من رسول الله صلى الله عليه وسلم.

“Dari lbnu Umar r.a dari Nabi SAW bersabda: Islam didirikan atas lima perkara: mentauhidkan Allah SWT, mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, shaum Ramadhan dan haji. Maka seorang laki-laki bertanya: Haji dan shaum ramadhan? Maka dia (Abdullah bin Umar) menjawah: bukan, shaum ramadhan dan haji, begitulah saya mendengarnya dari Rasulullah SAW.[14]

Kedua matan (isi) hadits tersebut di atas diriwayatkan secara makna, artinya redaksi hadits yang disampaikan-oleh Imam Bukhon berbeda dengan redaksi hadits yang disampaikan oleh Imam Muslim, tetapi maksud dan makna kedua hadits tersebut adalah sama yaitu tentang lima rukun atau pilar lslam. Hal ini terjadi karena para rawi yang meriwayatkan hadits tersebut tidak hapal lafadz aslinya, sehingga mereka meriwayatkan dengan lafadz atau redaksi mereka dan tentunya tidak menyalahi makna atau maksud yang dikandung oleh hadits tersebut. Jadi, hadits qauliyah seperti di atas tidak terlalu diriwayatkan dengan lafadz aslinya apalagi hadits fi’liyah dan taqrirryah.

Selanjutnya berikut ini dikutip dua contoh hadits fi’liyah yang diriwayatkan bi al-ma’na.

riwayat1“Telah menceritakan kepada kami Abul Mayan, dia herkata telah menberitakan kepada kami syuaib dari al-Zuhri berkata telah memberitakan kepadaku Atha Ibnu Yazid dari Humron, hamba sahaya Ustman hin Affan, sesungguhnya dia (Humron) melihat Ustman melaksanakan wudhu, maka dia menenggelamkan kedua tangannya dari bejananya kemudian membasuh keduanya tiga kali kemudian memasukan tangan kanannya dalam berwudhu kemudian berkumur, menghirup air (dengan hidung), mengeluarkannya kemudian membasuh wajahnya tiga kali dan kedua tangannya hingga kedua sikunya tiga kali kemudian mengusap kepalanya kemudian membasuh setiap kaki tiga kali kemudian dia (Ustman) berkata: saya melihat Nabi SAW berwudhu seperti wudhu saya yang ini dan beliau bersabda barang siapa yang berwudhu seperti ini kemudian ia sholat dua rakaat dengan tidak menghadatskan dirinya dalam kedua rakaat itu, maka diampuni oleh Allah S.WT dosa-dosanya yang telah Ialu”.[15]

riwayat2“Dari Humran, hamba sahaya Ustman bin Affan r.a, sesungguhnya Ustman bin Affan mengajak berwudhu, kemudian dia berwudhu maka dia membasuh kedua telapak tangannya tiga kali kemudian berkumur, mengeluarkan air dari hidung kemudian membasuh wajahnya tiga kali kemudian membasuh tangannya yang kanan hingga sikunya tiga kali kemudian membasuh tangannya yang kiri seperti itu kemudian mengusap kepalanya kemudian membasuh kakinya yang kanan hingga kedua mata kaki tiga kali kemudian membasuh yang kiri seperti itu kemudian dia (Ustman) berkata: saya melihat Rasulullah SAW berwudhu, seperti wudhu saya ini kemudian bersabda Rasulullah SAW: Barang siapa berwudhu seperti wudhu saya ini kemudian berdiri dengan ruku (sholat) dua rakaat dengan tidak menghadatsi dirinya dalam kedua rakaat itu, maka diampuni dosanya yang telah lalu”.[16]

Kedua hadits di atas juga diriwayatkan dengan maknanya, apalagi kedua hadits tersebut fi’liyah. Dengan jelas dapat dilihat bahwa kedua hadits tersebut diriwayatkan dengan redaksi atau lafadz yang berbeda namun memiliki makna dan maksud yang sama yakni tentang kaifiyat wudhu yang lebih utama dan sempurna. Dan masih banyak hadits yang diriwayatkan dengan makna atau bahkan kesimpulan para sahabat (rawi) mengenai aqwal, af’al-dan taqrir Nabi Muhammad SAW dan redaksi haditsnya adalah dari pada para sahabat sendiri.

Demikianlah uraian mengenai riwayat al-hadits bi al-lafdzi wal ma’na.Tetapi mengenai periwayatan dengan cara yang kedua (bil ma’na) di dalamnya mengandung problematika sekitar hukum periwayatan secara makna yakni boleh tidaknya periwayatan dengan cara tersebut. Hal ini sangat dipahami sehubungan dengan periwiatan dengan makna aaalatr periwayatan dengan redaksi atau lafadz Sahabat (rawi) dan tidak dengan lafadz aslinya dari Nabi. Dengan demikian para sahabat (rawi) meriwayatkan hadits berdasarkan kesimpulan mereka, ada yang ditambah, dikurangi bahkan diganti. Di sinilah letak sumber problematika periwayatan hadits dengan makna. Namun ada sebuah catatan bahwa perbedaan pendapat sehubungan dengan periwayatan dengan makna hanya terjadi pada masa periwayatan dan sebelum masa pembukuan hadits.[17] Adapun setelah masa pembukuan hadits, pusat permasalahannya berkisar tentang hukurn periwayatan dengan makna yang redaksi tentang hukum periwayatan dengan makna yang redaksi ataulafadz hadits tersebut tidak sesuai dengan lafadzasli dari kitab haditsnya.

a. Riwayat Al-Hadits bi al-Ma’na Qobla Tadwin al-hadits

Periwayatan hadits dengan makna termasuk masalah ilmu riwayat hadits yang paling penting, terutama sebelum pembukuan kitab hadits, karena padanya terjadi perbedaan pendapat dan ketidakjelasan serta banyak problemnya. Mengenai polemik periwayatan dengan makna Dr. Nuruddin ITR, memaparkan sebagai berikut: tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama bahwa orang yang bodoh, rawi pemula, belum mahir dalam ilmu hadits adalah tidak boleh meriyawatkan dan menceritakan hadits kecuali dengan lafadz yang didengarnya. Banyak ulama shalat dan kalangan muhadditsin serta fuqaha bersikap sangat tegas dalam hal melarang periwayatan hadits dengan maknanya kecuali harus dengan lafalnya.[18] Di antara mereka yang melarang hal tersebut adalah lbnu Sirin dan Abu Bakar Ar-Rozi.[19] Jumhur ulama termasuk imamyang empat berpendapat bahwa boleh seseorang meriwayatkan hadits dengan makna dengan syarat selain rawi tersebut mengetahui lafadz-lafadz hadits dan maksudnya juga dia sangat selektif serta mengidentifikasi karakter-karakter lafadz-lafadz hadits.[20] Dengan kata lain rawi tersebut benar-benar faham terhadap bahasa dan maksud hadits tersebut. Bahkan periwayatan hadits dengan rnakna telah dilakukan oleh para sahabat dan ulama salaf periode pertama, sehingga seringkali mereka mengemukakan suatu makna dalam suatu masalah dengan beberapa redaksi yang berbeda-beda.

Adapun Ajaj Al-Khathib dalam kitabnya Ushul al-Hadits memaparkan secara terperinci mengenai periwayatan secara makna. Menurutnya secara mayoritas ulama cenderung berpendapat bahwa seorang penulis muhaddits boleh merirwayatkan hadits secara makna, tidak dengan lafadz aslinya, bila ia memahami bahasa Arab dengan segala seluk beluknya dan mengerti makna-makna dan kandungan hadits serta memahami kata yang bisa merubah makna dan kata yang tidak merubahnya. Namun bila perawi tidak mengerti dan tidak memahami katakata yang bisa merubah makna. Maka ia tidak diperbolehkan meriwayatkan hadits dengan makna. Selanjutnya ia mengemukakan bahwa walaupun secara prakteknya para sahabat, tabi’in dan ahli hadits seperti Abdullah Ibnu Mas’ud, Abu Darda,Anas bin Malik dan lain-lain meriwayatkan secara makna terutama mengenai keadaan, peperangan atau peristiwa tertentu maka mereka banyak yang berhati-hati dan seusai meriwayatkan mereka mengatakan. “AU KAMA QALA” (atau seperti yang disabdakan Nabi), “AU NAHWA HADZA” (atau ungkapan sejenis), atau “AU SYIBHAHU” (Atau ungkapan yang serupa). Dari pendapat AJaj al-Khathib tersebut, jelaslah bahwa orang yang mengerti betul kata-kata yang bisa merubah makna boleh meriwayatkan hadits secara makna, bila ia tidak ingat lafadz aslinya dan selama ia merasa aman dari kekeliruan juga tetap harus berhati-hati dalam meriwayatkannya.[21]

Dan menurut Ahmad Umar Hasyim, seseorang tidak diperbolehkan meriwayatkan secara makna, artinya tetap menjaga lafadz-lafadznya tanpa merubahnya, yakni pada macam-macam hadits berikut:

  1. Hadits-hadits yang berhubungan dengan tauqifiyyah seperti nama-nama Allah dan sifat-sifatnya.
  2. Hadits-hadits yang mencakup sebagian nash atau bentuk lafadz ibadah seperti do’a-do’a.
  3. Hadits-hadits yang memuat ungkapan-ungkapan Nabi yang Jami’ (padat makna).
  4. Segala sesuatu yang berkaitan dengan lafadz-lafadz ibadah seperti adzan, iqamat, takbir-takbir shalat dan bentuk tasyahud.[22]

Demikianlah para ulama telah sepakat ketidakbolehannva meriwayatkan macam-macam hadits tersebut di atas secara makna -sebagaimana kesepakatan para ulama tentang ketidakbolehannya meriwayatkan dengan makna apabila rawi tersebut tidak mengerti lafadz-lafadz, dalalah-dalalah, maksud-maksud, tidak selektif, tidak ‘arif terhadap syariah serta tidak berhati-hati. Namun sebaliknya, apabila rawi mengerti lafadz-lafadz, dalalah-dalalah, ‘arif terhadap syariah dan maksud-maksudnya serta selektif dan hati-hati maka para ulama berpendapat boleh meriwayatkan secara makna.[23]

b. Riwayat Al-Hqdits bi Al-Ma’na Ba’da Tadwinul al-Hadits

Setelah hadits dibukukan dalam sebuah kitab maka perbedaan pendapat di atas telah hilang dan periwayatan hadits harus mengikuti lafadz yang tertulis dalam kitab itu, sehingga tidak perlu lagi menerima periwayatan hadits dengan makna. Oleh karena itu, sekarang tidak di perbolehkan seorang pun meriwayatkan hadits dengan maknanya saja, kecuali :ekedar mengingatkan hadits tersebut dalam majlismajlis ta’tim, sedangkan dalam rangka berhujjah atau mengutip dalam kawa-karya tulis, maka harus dengan lafadznya.[24] Demikian juga Dr. Mahmud Ath-Thahan, tidak membolehkan periwayatan dengan makna dari kitab-kitab hadits yang telah disusun sehingga merubah lafadz-lafadz yang di dalamnya walaupun sesuai dengan maknanya kalaupun ada kebolehan periwayatan dengan rnakna, itu pun karena keterpaksaan.[25] Berbeda dengan para teolog muslim, mereka menyepakati diperbolehkann,va meriwayatkan hadits menurut pengartian saja (riwayat bil ma,na), selama pengertiannya tidak dilanggar.[26] Memang berdasarkan realita, kebanyakan rawi mengambil kemudahan dalam periwayatan hadits dengan makna. Hal ini mengingat bahwa keharusan meriwayatkan hadits dengan lafadznya mengakibatkan kesulitan yang serius bagi para rawi karena mereka mesti hati-hati dan benar-benar rnenguasai hadits. Dan penyampaian hadits itu ada kalanya berdasarkan kitabnya dan ada kalanya berdasarkan hapalan periwayatan.

Bagi para Muhadditsin mereka sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits, sehingga seorang rawi tidak diperbolehkan meriwayatkan kecuali hadits yang telah terbukti kebenarannya.[27] Sehubungan dengan hal tersebut, apabila seorang rawi ragu tentang kebenaran hadits tersebut, maka berarti ia meriwayatkan sesuatu yang belum pasti kebenarannya dan keasliannya dari nabi dan dikhawatirkan telah terjadi perubahan padanya sehingga termasuk orang-orang yangdiancam oleh Nabi: “…..Barang siapa berdusta terhadap diriku (membuat sesuatu kedustaan, padahal aku tidak mengatakannya), hendaklah ia bersedia menempati kediamannya di dalam neraka.”

Dari perbedaan pendapat di atas, dapat dilihat bahwa sekelompok ulama ada yang memperketat sistem periwayatan dengan makna dari kitab-kitab hadits yang telah disusun dan ada juga yang memperlonggar sehingga mereka berlebih-lebihan dalam meriwayatkan hadits. Adapun jalan tengah yang bisa lebih dijadikan pegangan mengenai periwayatan hadits dengan makna adalah pendapat jumhur yang mengatakan bahwa apabila seseorang yang menerima hadits telah memenuhi kriteria atau syarat tertentu dari para ulama tersebut di atas, telah mernbanding-bandingkan kitabnya dengan selektif maka ia boleh meriwayatkannya.[28] Bahkan menurut Hasbi Ash-Shiddieqy yang penting dari hadits ialah isinya, sedangkan bahasa dan lafal boleh disusun dengan kata-kata lain asal isinya telah ada dan sama.[29]

C. Aspek Epistimologi dan Aksiologi Riwayat Al-Hadits bi Al-Lafdz wa bi al-Ma’na

Dari segi lafdziyah, untuk mengehhui bahwa suatu hadits diriwayatkan secara lafadz dari hadits’hadits yang telah dibukukan dalam kitab hadits adalah sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan baik dari segi sanad, rawi. sebelum atau sesudah matan-matan hadits tersebut tidak ditemukan ciri-ciri khusus yang menunjukkan bahwa hadits tersebut diriwayatkan dengan lafadz. Namun saya berkeyakinan bahwa dari sekian banyak hadits Nabi, terdapat beberapa hadits yang diriwayatkan dengan lafadz asli dari Nabi. Alasannya adalah karena banl’ak sahabat dan tabi’in yang teruji’kuat hapalannya sehingga dalam proses perirvavatan dari orang ke orang. dari generasi ke generasi disampaikan dengan lafadz aslinya yang hafal benar sebagaimana dari Nabi.

Di samping itu, tidak semua sahabat dilarang oleh Nabi untuk mencatat segala sesuatu yang berasal dari beliau, tetapi ada beberapa sahabat yang diizinkan untuk mencatat atau menuliskannya, seperti Abdullah bin Amr, Safi’ Ibn Khudaij. Anas bin Malik dan Amr lbn Hazam.[30] Dengan demikian di antara sahabat ada yang meriwayatkan dengan hafalan kuat dan ditunjang dengan tulisan. Kemudianbarangkali dapat dijadikan alternatif untuk mengetahui hadits yang diriwayatkan dengan lafadz dengan cara membandingkan beberapa hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang berbeda tetapi lafadz-lafadznya ada kesamaan.

Dan untuk hadits yang diriwayatkan secara makna, dapat diketahui dari keterangan-keterangan atau catatan-catatan pentadwin hadits setelah suatu hadits ditulisnya. Di antara catatan atau keterangan tersebut seperti “wa rawa Ba’dahu”, “wa fi riwayatin lahu”, “wa hadza lafdzu”, “wa ma’nahu”, dan kata-kata “Au kama qala”, “Au Nahwa hadza’ atau “Au Syibhahu’. Disamping itu juga dapat diketahui dengan cara membandingkan beberapa hadits yang diriwayatkan dengan lafadz-lafadz yang berbeda, tetapi makna dan maksudnya sama.

Adapun manfaat atau kegunaan mempelajari dan mengetahui riwayat hadits dengan lafadz dan makna adalah disamping kita mengetahui dan dapat membedakan lafadz yang asli dari Nabi atau bukan. juga kita bisa lebih yakin untuk mengamankan hadits tersebut mengenai keshahihannya.

 

D. KESIMPULAN

Dalam meriwayatkan hadits Nabi, rarvi menggunakan dua cara yaitu meriwayatkan dengan kifadz dan merirryayatkan dengan makna. Seorang rawi meriwayatkan hadits dengan lafadzkarena ia hafal benar lafadz aslinya sebagaimana yang disampaikan Nabi. Dan tidak ada perbedaan dalam hal kebolehan meriwayatkan hadits dengan cara tersebut. Sedangkan seorang rawi yang meriwayatkan, hadits secara makna dikarenakan ia tidak hafal lafadz aslinya, sehingga ia meriwayatkan dengan makna atau maksudnya dan dengan redaksi hadits yang ia susun sendiri. Dan mengenai hukum periwayatan hadits seperti itu ada yang membolehkan dengan syarat-syarat tertentu dan ada yang melarangnya dengan tegas, baik meriwayatkan sebelum maupun sesudah masa tadwin al-Hadits.

Degan beberapa konsep dan kaidah tentang riwayat hadits dengan lafadz makna tersebut di atas maka bisa dijadikan pedoman untuk menganalisa dan meneliti hadits-hadits Nabi sehingga mampu membedakan antara hadits yang diriwayatkan dengan lafadz dan hadits yang diriwayatkan dengan makna. Dan selanjutnya kita dapat memilih dan memilah hadits-hadits Nabi yang bisa diamalkan karena keshahihannya.


[1] Ajaj al-Khatib, Ushul al-Hadits (terjemah), (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998), cet. Ke-1, hal. xi

[2] Totok Jumantoro, Kamus Ilmu Hadits, (Jakarta: Bumi Aksara, 1997), cet. Ke-1, hal. 211

[3] Ahmad  Umar  Hasyi m. Qawaidu  Ushul  Al-Hadits,  (Beirut:  Darul  Fikr),  h. 230

[4] Endang  Soetari,  Problematika Hadits,  (Bandung:  Gunung Djati Press, 1997) cet. Ke-1,  hal. 28

[5] Miftah Farid,  As-Sunnah, (Jakarta:  Pustaka,  2001),  cet.  Ke-1,  hal. 38

[6] Ahmad Umar Hasyim, loc.  Cit.

[7] Ibid

[8] Muhammad  Ibnu  Ismail  Al-Bukhari,  Shahih  At-Bukhari,  (Beirut.  Darul  Fikr)  Jilid l, hal.  14.

[9] Imam  Al-Husian  lr4uslim,  lt4ukhtashar  Shahih  Musliam, (Beirut:  Darul  Fikr,  1987),  jilid I,  tt.

[10] Miftah Farid,  Loc.  Cit

[11] M. Syuhudi  Ismail,  Pengantar  Ilmu  Hadits, (Jakarta:  Angkasa,  1994)  hal. 88

[12] Ahmad  Umar Hasyim, loc. cit.

[13] Muhammad Ibnu  Ismail Al-Bukhori,  Op.cit.,  Jilid l,  hal. 11

[14] Imam  Al-Husain  Muslim,  op.cit., hal. 22

[15] Muhammad  Ibnu  Ismail  Al-Bukhori, op.cit., Jilid. 1, hal. 43.

[16] lmam  Al-Husain  Muslim,  op.cit., hal. 44

[17] Nuruddin  ITR,  Manhaj al-Naqdi  Fi Ulum  al-Hadits,  (Beirut:  Darul  Fikr,  1997),  hal.  228.

[18] Ibid., hal .227.

[19] Mahmud  Ath-Thahan,Tafsir Musthalah Al-Hadits,  (Surabaya:  Bankul  lndah,  l985),  hal. 128.

[20] Ibid

[21] Ajaj  Al-Khathib, op.cit., hal. 216-217.

[22] Ahmad  Umar Hasyim, op.cit., h 230-234

[23] Ibid, hal. 232.

[24] Nuruddin  ITR, loc.cit.

[25] Mahmud  Al-Thahan, Ioc.cit

[26] G.H.A.  Juynboll,  Kontroversi  Hadits  di Mesir,  (Bandung:  Mizan, 1999),  cet ke-I, hal. 167-169

[27] Nuruddin  ITR,  op.cit., hal. 208.

[28] Ibid

[29] Hasbi  Ash-Shiddieqy, Sejarah  dan  Pengantar  llmu  Hadits,  (Semarang:  Pustaka  Rizki  Putra, 2001 ),  cet  ke-8, hal. 43

[30] Ajai  Al-Khathib.  cp.cit, hal. 132-133

Pos ini dipublikasikan di Ilmu Hadits dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s