TAKHRIJ HADITS (Sebuah Pengantar)

A. Pengertian Takhrij

Kata takhrij secara etimologis berarti istinbath (mengeluarkan), tadrib (memperdalam) dan taujih (menampakkan) dan kata itu secara isytiqaq berasal dari kata kharaja yang berarti nampak atau jelas.[1] Sedangkan menurut Mahmud Tahan, takhrij itu asalnya adalah berkumpulnya dua perkara yang saling berlawanan dalam satu masalah (Ijtima’u amraini mutadladlaini fi syaiin wahid).[2] Sedangkan menurut istilah ada beragam pengertian:

  1. Sinonim dari ikhraj, yakni seorang rawi mengutarakan suatu hadits dengan menyebutkan sumber keluarnya (pemberita) hadits tersebut.
  2. Mengeluarkan hadits-hadits dari kitab-kitab kemudian menyebutkan sanad-sanadnya.
  3. Menukil hadits dari kitab-kitab sumber dengan menyebutkan mudawwinnya serta menjelaskan martabat haditsnya.

Mahmud Thahan mendefinisikan bahwa takhrij adalah:

الدلالة على موضع الحديث فى مصادره الأصلية التى أخرجته بسنده ثم بيان مرتبته عند الحاجة

“Penunjukkan terhadap tempat hadits dan sumber aslinya yang dijelaskan sanadnya dan martabatnya sesuai dengan keperluan”.[3]

Dari sana kita melihat bahwa takhrtj adalah meliputi kegiatan :

  1. Periwayatan (penerimaan, pemeliharaan, pentadwinan dan penyampaian hadits)
  2. Penukilan hadits dari kitab-kitab asal untuk dihimpun dalam suatu kitab tertentu.
  3. Mengutip hadits-hadits dari kitab-kitab fan baik itu tafsir, tauhid, fiqh, tasawuf dan akhlak dengan menerangkan sanadnya.
  4. Membahas hadits-hadits sampai diketahui martabatnya.

Yang dimaksud dengan sumber asal adalah kitab-kitab koleksi hadits atau kitab-kitab pan tertentu seperti dikemukakan diatas yang memuat hadits yang diperoleh melalui periwayatan langsung dari gurunya, yeng gurunya ini mendapatkan hadits itu dari guru-guru sebelumnya secara berantai sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Jadi penyusun kitab itu merupakan rawi terakhir dari suatu rangkaian sanad. Hadits-hadits yang dimuat dalam kitabnya itu bukan hasil pengutipan dari kitab-kitab lain yang sudah ada.contoh kitab yang merupakan sumber asli, antara lain: Kutuh ul-Sittah, al-Muwaththa, T’a/isir al-‘l’hubari, al-Um dan sebagainya. Penjelasan mengenai hadits ditakhrij atas kedudukan shahih hasan dan dlaif baru dilakukan apabila diperlukan. Dengan demikian penjelasan mengenai kualifikasi hadits yang ditakhrij itu tidak merupakan keharusan, sebab hal itu bukan merupakan tujuan pokok.[4]

B. Faktor pendorong kegiatan takhrij hadits

Di masa lalu ulama hadits belum bahkan ticlak memerlukan kaidahkaiadah penelitian seperti sekarang. Karena rcta-rata pengetahuan mereka tentang seluk beluk hadits sangat luas dan sarana untuk mendapatkan hadits dari sumber aslinyapun cukup kuat.. sehingga apabila mereka membutuhkan hadits dengan cepat langsung teringat pada kitab hadits bahkan judul dan jilidnyapun mereka langsung mengingatnya. Sehingga mereka dengan sangat mudah mendapatkan hadits yang mereka butuhkan.

Sedangkan untuk zaman sekarang, para ulama tidak semahir dulu oleh karena itu kegiatan penelitian hadits sangat diperlukan. Adapun yang dimaksud dengan penelitian itu adalah mentakhrij hadits dari kitab-kitab aslinya. Tanpa melalui takhrtl ini maka sangat sulit untuk mengetahui asal-usul riwayat hadits. Demikian juga tentang siperawi hadits itu, dan ada tidaknya riwayat sebagai syahid atau tabi’ dalam hadits yang ditelitinya.

Shuhudi Ismail mengemukakan tiga hal yang menyebabkan pentingnya kegiatan takhrij hadits, yaitu:[5]

  • Untuk mengetahui asal-usul riwayat hadits yang diteliti, sebab tanpa diketahui asalusulnya suatu hadits akan sulit ditentukan kualitasnya. Sehingga sanad dan matan hadits yang bersangkutan sulit diketahui susunan menurut pengambilannya.
  • Untuk mengetahui seluruh riwayat bagi’hadits yang akan diteliti. Sebab hadits yang akan diteliti kemungkinan memiliki lebih dari satu sanad dan mungkin saja salah satu sanadnya berkualitas dlaif sedangkan yang lainnya shahih.
  • Untuk mengetahui ada tidaknya mutabi pada sanad yang diteliri.
  • Objek, metode dan fungsi takhrij hadits.

C. Objek Takhrij Hadits

Adapun yang menjadi objek takhrtj hadits adalah semua kitab seperti kitab taf-sir, fiqh, ahkam, sejarah dan sebagainya. Karena dalam kitab-kitab tersebut kemungkinan ada Suatu hadits yang belum ditentukan nilai atau derajatnya seperti shahih, hasan dan dlaif.

Dari berbagai kitab tersebut, terdapat materi-materi keislaman yang di antaranya bersumber dari Nabi Muhammad. Lebih-lebih apabila hadits tersebut belum dipastikan derajatnya. Maka hadits tersebut ditakhrij satu persatu. Seperti yang pernah dilakukan oleh Imam Al-Hafidz al-Iraqi terhadap kitab lhya Uum alD i n kary a Abu Hamid Al-Ghazali.

D. Metode Takhrij Hadits

Adapun metode takhrij itu bermacam-macam. Suhudi Ismail dalam bukunya cara praktis mencari hadits, mengemukakan bahwa metode takhrij terbagi kepada dua bagian:

Pertama, Takhrij al-ahadits bi al-alfazh, yaitu penelitian hadits berdasarkan petunjuk lafaz. Kitab ruiukannya adalah kamus hadits Mujam al-Mufahras li Alfaz al Hadits al-Nabawy karya A.J Wensick dan kawan-kawan yang diterjemahkan oleh Muhammad Fu’ad Abd Baqy.

Kedua, Takhrij al-Hadits bil-Maudlu’i, yaitu penelusuran hadits berdasarkan tema/topik masalah. Kitab kamus hadits dalam metode ini adalah Miftah Kunuz al-Sunnah karya A.J Wensinck. Kitab rujukannya ada 14 macam, yaitu 9 macam kitab rujukan Mu’jam ditambah dengan Musnad Zaid ibn Ali, Musnad Abu Daud al-Thaayalisi, Thabaqat ibn Sa’ad, Sirah lbn Hisyam dan Maghnazy al-waqidi.[6]

Sementara itu, Abu Muhamad Abdul Mahdi, mengemukakan lima metode yang digunakan untuk takhrij hadits, yaitu:

Takhrij menurut lafal pertama hadits

Pentakhrij menitik beratkan pada huruf pertama dari matan hadits yang diteliti (hadits disusun berdasarkan huruf hijaiyah). Kitab yang biasa digunakan adalah: al-Jami’ al-Shaghir, al-Fath al-Kabir semuanya karya Imam al-Suyuthi, dan kitab Jami al-Azhar karya Imam al-Syafi.

Takhrij melalui kata-kata yang terdapat dalam matan hadits, baik berupa ism atau fiil. Kitab yang biasa dipakai adalah Mujam al-Mufahrash li Alfaz al-Hadits al-Nabawy karya A.J Wensinsk.

Takhrij melalui perawi hadits pertama

Baik perawi dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan tabi’in. kitab yang biasa digunakan adalah kitab al-Athraf dan kitab-kitab musnad.

Takhrij menurut tema/topik hadits

Dalam metode ini pentakhrij menitik beratkan pada tema atau pokok bahasan yang terkandung dalam matan hadits, yang kemudian menyimulkan tema tersebut. Kitab yang dipakai adalah Kanz al-Umam dan Muntakhab Kanz alumam karya al-Hindy, Miftah Kunuz al-sunnah karya wensinck dan yang lainnya.

Takhrij berdasarkan Status hadits

Metode ini pengkhususkan dengan cara menelusuri status haditsnya, seperti kitab-kitab mursal, hadits Qudsi, Masyhur dan sebagainya. Kitab-kitabnya adalah kitab al-Murasil karya Abu Daud, al-Hadits al-Qudsiyyah karya al-Sakhawy dan sebagainya.

Sedangkan menurut Mahmud al-Thahan ada lima teknik dalam mentakhrij sebuah hadits, yaitu:

  1. 1.       Metode takhrij melalui pengetahuan tentang nama para sahabat perawi hadits

Metode ini digunakan hanya bilamana nama sahabat itu tercantum pada hadits yang akan ditakhrij. Apabila nama sahabat itu tidak tercantum maka tidak dapat diusahakan untuk mengetahuinya, dan sudah barang tentu metode ini tidak dapat dipakai. Apabila nama sahabat tercantum atau tidak tercantum tetapi dapat diketahui dengan cara tertentu maka dapat menggunakantiga macam kitab, yaitu: kitab-kitab Musnad, kitab-kitab Mu’jam dan kitab-kitab Athraf.

Kitab musnad adalah kitab yang disusun berdasarkan nama sahabat atau hadits-hadits para sahabat dikumpulkan secara tersendiri. Kitab-kitab musnad yang ditulis oleh para ahlijumlahnya sangat banyak, antara lain sebagai berikut: Musnad Ahmad bin Hambal, Musnad Abu Balq Sulaiman lbn Daud, Musnad Musaddad ibn Musarhad,Musnad Waidillah dan lain,lain.

Kitab Mu’jam adalah kitab yang disusun berdasarkan nama-nama sahabat, guru, negeri atau yang lainnya dan nama itu diurutkan secara alfabetis. Adapun kitab-kitab mu’jam yang terkenal adalah:

  • Al-Mu.ium al-Kabir Ii Abi Qasim Sulaiman ibn Ahmad al-T’habrani
  • Al-Mu’jam al-Ausath Ii Abi qasim sulaiman ibn Ahmad al-Thabrani
  • Mu’jam al-Shaghir li Abi Qasim sulaiman ibn Ahmad al-Thabrani
  • Mujam al-shabah li Ahmod ibn al-Hamdani
  • Mu’jam al-Shahabah li Abi Ya’la Ahmad Ali al-Mashhili

Kitab athraf adalah kitab yang penyusunannya hanya menyebutkan sebagian matan hadits yang menunjukkkan keseluruhannya. Kemudian menyebutkan sanad-sanadnya, baik secara keseluruhan ataupun dinisbahkan ke kitab-kitab tertentu. Sistematika kitab ini biasanya mengikuti musnad para sahabat secara alfabetis. Dimulai dari nama sahabat yang diawali dengan huruf alif kemudian ba dan seterusnya.kitab athraf ini juga banyak jumlahnya antara lain:

  • Athraf al-Shahihaini li Abi Mas’ud lbrahirn ibn Muhammad al-Dimasyqi
  • Athraf at-Shahihai ti Abi Muhammad Khataf lbn Muhammad al-wasithidan yang lainnya.

Adapun manfaat dari kitab macam ini adalah memberi informasi tentang berbagai sanad suatu hadits secara keseluruhan dalam satu tempat. Dengan demikian dapat diketahui dengan mudah apakah hadits itu shahih dla’if atau masyhur. Dan memberi informasi tentang siapa saja di antara para penyusun kitab-kitab hadits yang meriwayatkan dan dalam bab apa mereka cantumkan. Memberi imformasi tentang jumlah hadits setiap sahabat yang diriwayatkan haditsnya dalam kitab-kitab yang dibuat athrafnya.

  1. 2.       Metode takrij hadits melalui lafazawal dari matan hadits

Metode ini dipakai apabila permulaan lafaz hadits-hadits ini dapat diketahui dengan tepat, jenis kitab yang dipakai dengan inetode ini adalah Kitab-kitab hadits yang disusun untuk hadits-hadits yang populer dalam masyarakat, antara lain:

  • Al-T’adzkirah fi al-hadits al-Musytahirah I i al-zarkasyi
  • Al-Durar al-Muntatsirahfi ahadits al-Musytahirah li al-Suyuti dan yang lainnya

Kitab hadits yang disusun secara alfabetis (huruf Hijaiyah) antara lain al-Jami’ alShaghir min hadits al-Basyir al-Nadzir li Jalal al-Din Abdurrahman Abi Bakr alSuyuti, Kitab ini bqrisi kurang lebih 10031 hadits, yang diringkas dari kitab jam’u al-Jawami. Dalam kitab ini hadits-hadits disusun secara alfabetis menurut permulaan lafaz hadits kemudian lafaz sesudah yang pertama sebagaimana kamus pada umumnya untuk memudahkan penemuan hadits. Cara penyebutan hadits dalam kitab ini mula-mula disebutkan matan hadits selengkapnya. Kemudian dalam tanda kurung disebutkan perawinya setelah itu baru nama sahabat (tidak dalam kode) dan terakhir kode nilai hadits dalam tanda kurung.

Contoh:

عن إبن عباس (صح)

Dalam kitab ini kode perawi ada 30 kode sedangkan dalam kode nilai hadits ada tiga, yaitu shahih dan hasan dan dlaif. Kitab-kitab kunci atau indeks bagi kitab-kitab’tertentu antara lain:

  • Miftah al-Shahihain li al-Tauqadi
  • Fahras li tartib al-hadits shahih Muslim li muhammad fuad Abdul Baqi dan yang lainnya.

Mengingat kitab tersebut hanya menyebutkan tharaf sebagian hadits maka untuk mengetahui teks hadits secara lengkap dapat dibuka sumber aslinta dengan petunjuk yang ada.

  1. 3.       Metode takhrij melalui pengetahuan salah satu lafaz hadits

Metodc ini hanya mcnggunakan satu kitab penunjuk saja yaitu ul-Mu’jum al-Mufahras li alfaz al-Hadits al-Nabawy. Kitab ini merupakan susunan Dr. A.J Weinsink, Dr. Muhammad Fuad Abd al-Baqi dan lain-lain.

Kitab-kitab hadits sumber asli yang dijadikan rujukan oleh kitab ini ada sembilan, yaitu: Shahih Bukhary, Shahih Muslim, sunan al-Turmudzi, sunan Abu Daud, sunan al-Nasai, sunan lbn Majah, Muwathhta’ Malik, Musnad Ahmad dan sunan al-Darimi. Masing-masing mempunyai kode tersendiri. Disamping disebutkan sumber asli juga disebutkan nama kitabnya (sub judul dalam kitab sumber), kecuali Musnad Ahmad karena memakai sistem Musnad. Dan disebutkan pula nomor babnya, kecuali dalam Shahih Muslim dan Muwattha’ Malik, Musnad Ahmad dan al-Darimi. Masing-masing mempunyai kode tersendiri.

Kitab ini disusun hampir mirip dengan susunan kamus pada umumnya karena itu diperlukan pengetahuan tentang ilmu sharafnya. Kelebihan kitab ini adalah dapat mengambil kata apa saja yang kita kehendaki dari hadits yang akan kita takhrij tidak harus mengetahui nama sahabat perawinya atau lafaz hadits itu sebagaimana metode-metode terdahulu.

  1. 4.       Metode takhrij melalui pengetahuan tema hadits

Metode ini akan mudah digunakan orang yng sudah terbiasa dan ahli dalam hadits. Orang yang awam dalam soal hadits akan sulit menggunakannya karena hal yang dituntuk dalam metode ini adalah kemampuan menentukan tema atau salah satu dari tema suatu hadits yan g akan ditakhrij. Baru kemudian kita membuka kitab hadits pada bab dan kitab yang mengandung tema tertentu.

Adapun kitab-kitab yang digunakan dalam metode ini adalah kitab-kitab yang disusun secara tematis. Kitab-kitab ini dapat dibedakan dalam tiga kelompok, yaitu:

  • Kitab-kitab yang berisi seluruh tema agama, yaitu kitab-kitab al-Jawami’ berikut dengan mustakhraj dan musradraknya, al-Na’ajim, al-Zawaid dan kitab Kunuz al-Sunnah. Di antara kitab yang termasuk kelompok ini adalah al-Jami al-Shahih li al-Bukhari, al-Jami al-Shahih li Muslim, Mustakhraj al-Ismaili, Misbah al-Zujajah fi Zawaid lbn Majah Ii al-Bushairi.
  • Kitab-kitab yang berisi sebagian tema-tema agama yaitu kitab Sunan Abi Daud I’i Suluiman lhn al-Asy’ats, Muwaththa Ii Imam fulatik lhn Anas al-Madani. Dan lain sebagainya.
  • Kitab-kitab yang berisi satu aspek saja dari tema-tema aganra yaitu kitab-kitab hadits yang berkenaan dengan hukum saja, akhlak dan sebagainya. Termasuk dalam kelompok ini antara lain. Al-Ahkam Li Abd al-Ghani lbn Abd al-Wahid al-Muqdisi, Kitah Akhlaq al-Nabi Li Abi al-Syaikh Abi Muhammad Abu Jullah lbn Muhammad al-Asfahani.
  1. 5.       Metode takhrij melalui pengetahuan tentang sifat khusus matan atau sanad hadits itu.

Yang dimaksud dengan metode takhrij ini adalah memperhatikan keadaan-keadaan dan sifat hadits baik yang ada pada matan atau sanadnya. yang pertama diperhatikan adalah keadaan atau sifat yang ada pada matan kemudian yang ada pada sanad selanjutnya yang ada pada kedua-duanya.

Dari segi matan, apabila dalam hadits itu nampak ada tanda-tanda kemaudluan baik karena ada kerancuan dalam bahasa atau karenajelas bertentangan dengan nash al-Qur’an yang sharih maka cara,yang paling mudah untuk mengetahui asal hadits itu adalah dengan mencarinya dalam kitab yang mengumpulkan haditshadits maudlu’. Dalam kitab ini akan diterangkan jelas hal tersebut. Kitab semacam ini ada yang disusun secara alfabetis antara lain al-Mashnu’fi Ma’rifuti al-Hadits al-Maudlu’ li al-Syaikh ali al-Qari al-Harawi dan ada pula yang tematis antara lain kitab Tanzih al-Syari’ah al-Marfu’ah ‘an al-Hadits al-Shafiyah al-Maudlu’ah Ii al-Kanani.

Dari segi sanad, apabila di dalam sanad suatu hadits ada ciri tertentu misalnya isnad hadits itu mursal maka hadits tersebut dapat dicari dalam kitab yang mengumpulkan hadits-hadits mursal seperti al-Marasil li Abi Hatim abd Rahman Ibn Muhammad al-Handhali al-Razi atau mungkin ada seorang perawi yang lemah dalam sanadnya maka dapat dicari dalam kitab Mizan al-l’tidal Li al-Dzahabi.

Dari segi matan dan sanad, ada beberapa sifat dan keadaan yang kadang-kadang terdapat pada matan dan kadang-kadang pada sanad misalnya ada illat atau ibham, maka untuk mencari hadits-hadits semacam itu, yaitu Illal al-Hadits li lbn Abi Hatim al-Razi, Al-Mustafad min Mubhomat al-Matn wa al-lsnad li Abi Zar’ah.

Metode yang kedua dari metode takhrij adalah takhrij Tashhih. Tashih dalam arti menganalisis keshahihan hadits dengan mengkaji rawi, sanad dan matan berdasarkan kaidah. Dari kesemua istilah hadis itu adalah hasil dari pengklasifikasian hadits baik dilihat dari kualitas  maupun kuantitas. Kegiatan tashhih dilakukan dengan menggunakan kitab Ulum al-hadits yang berkaitan dengan rijal al-hadits, Jarh wa al-Ta’dil, Ma’ani al-Hadits , Gharib al-Ahadits dan lain sebagainya.

Kegiatan ini dilakukan oleh mudawwin sejak dulu. Musannaf, Musnad, Sunan dan Shahih merupakan koleksi dari hadits yang sudah diseleksi dari keseluruhan dari penerimaan yang jauh lebih banyak dari hasil koleksi tersebut.

Ilmuwan masa kini dan yang mendatang yang paham kaidah tashhih dan menemukan kitab-kitab ulum al-Hadits tidak ada kesulitan untuk mengadakan analisis kualitas hadits.

Metode yang ketiga yaitu takhrij I’tibar. I’tibar berarti mendapatkan informasi dan petunjuk dari literatur baik dari kitab yang asli, kitab-kitab syarah dan kitab-kitab fan yang memuat dalil-dalil serta mempelajari kitab-kitab yang memuat problematika hadits, dengan mengetahui diwan yang mengoleksi suatu hadits maka kita dapat mengetahui langsung kualiltas haditsnya. Sebab para ulama sudah sepakat jenis kitab menunjukkan kualitas hadits tertentu. Bila atas petunjuk diwan belum dapat informasi tentang kualitas hadits perlu dilihat komentar kitab-kitab syarh. Kitab ini merupakan komentar dan pembahasan secara meluas dan mendalam terhadap {eks hadits yang tercantum pada diwan hadits asal dan terhadap hadits yang tercantum pada kitab kutipan. I’tibar lainnya dalam melihat kualitas hadits adalah dengan menelaah kitab-kitab fan tertentu yang memuat dan menggunakan hadits sebagai dalil dalam pembahasannya.

E. Metode Kritik Sanad

Ketika para ulama memilah-milah hadits menjadi hadits shahih dan dlaif dengan segala macam-macamnya, berarti itu merupakan sebuah gambarari bahwa mereka telah berupaya melakukan kritik hadits, karena kaidah-kaidah kritik sanad dan matan hadits dapat diketahui dari pengertian hadits shahih.

Sebuah hadits terdiri dari sanad dan matan, masing-masing tidak dapat dipisahkan. Tidak dapat dikatakan sebuah hadits apabila salah satu unsurnya tidak ada. Apabila sanadnya akurat maka matan haditsnya berpijak pada pondasi yang kokoh. Sebaliknya jika sanadnya tidak akurat maka matan hadits nya berpijak pada sesuatu yang tidak kuat dan haditsnya akan menjadi goyah.

Hadits shahih adalah yang sanadnya bersambung, rawimya bersifat adil dan dlabith tidak terdapat syad dan juga tidak terdapat illat. Tiga unsur pertama berkaitan dengan sanad sedang dua unsur lainnya berkenaan dengan sanad dan matan. Menurut Syuhudi Ismail kelima unsur pokok dalam persyaratan ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya tumpang tindih.[7] Unsur pokok tersebut adalah kaidah mayor. Setiap kaidah mayor memiliki kaidah minornya yaitu:

Unsur kaidah mayor pertama, sanad bersambung, mengandung unsur kaidah minor: muttashil, marfu’, mahfuz dan tidak mu’allal.

Unsur kaidah mayor kedua, rawi bersifat adil mengandung unsur kaidah minor beragama Islam, mukallaf dan melaksanakan ketentuan agama dengan memelihara muru’ah.

Unsur kaidah ketiga, rawi bersifat dlabith dan mengandung unsur kaidah minor hafal dengan baik hadits yang diriwayatkan, mampu dengan baik menyampaikan hadits yang diriwayatkannya, mampu dengan baik menyampaikan riwayat hadits yang dihafalnya, terhindar dari syududz dan terhindar dari illlat.

Syarat persambungan sanad merupakan hal yang sangat penting dalam kritik sanad. Dalam ilmu sanad, bahwa runtutan sanad dan rawi harus benar benar utuh, berkesinambungan dan jelas. Ini berarti tidak terdapat satu atau lebih rawi dalam sanad itu yang gugur, disembunyikan ataupun samar-samar. Selain itu harus dapat dibuktikan bahwa si penyampai dengan si penerima terjadi pertemuan langsung sehingga dengan demikian keduanya harus hidup sezaman.

Untuk mengetahui hal tersebut maka para ulama Hadits menyusun semacam ilmu yang disebut ilm tarikh ruwat yang berisi tentang biografi para perawi hadits. Cara untuk mengetahui apakah sanadnya benar-benar muttashil adalah dengan melihat shighat tahamulnya. Ulama hadits sepakat bahwa siyagh tahamul yang menggunakan lafaz sama dan qira’at lebih tinggi derajatnya dibanding dengan bentuk penyampaian yang lainnya[8], dan tidak ketinggalan siyagh al-lsnad pun harus diperhatikan.[9] Selain hal-hal di atas adalagi orang yang melakukan kritik sanad dilihat dari aliran politik rawinya. Sebab diindikasikan. para perawi meriwayatkan hadits sejalan dengan aliran politiknya. Ali dalam shaltanya suka mengeraskan bacaan basmalahnya. Pada zaman Umayyah pendukungnya melarang menjaharkan basmallah sebagai upaya menghapuskan jejak Ali.[10]

F. Metode Kritik Matan

Matan mcrupakan bagian yang tidak tcrpisahkarr clari scbuah haclits. Fungsi sanad adalah pada hakikatnyasebagai penopang keabsahan seb uah matan. Yang menjadi sasaran kritik hadits sebenarnya adalah keabsahan matan hadits itu sendiri. Maka sangat wajar apabila matan dijadikan objek kritik. Kegiatan ini lah yang melahirkan istilah kritik matan.

Kalangan orientalis sering menudulr bahwa teori’kritik hadits yang ada di kalangan umat Islam menggunakan teori sempit sebab menjadi sasaran kritik hanya sebatas sanad dari suatu hadits, tidak menembus matan hadits. Pandangan itni tidak sepenuhnya benar dan tidak sepennuhnya salah. Adapun tolak ukur penelitian matan yang dikemukakan oleh ulama tidak seragam, mcnurut khaib alBahdadi seperti yang dikutip oleh al-Adlabi bahwa suatu matan hadits barulah dinyatakan makbul apabila:

  1. Tidak bertentangan dengan akal sehat
  2. Tidak bertentangan dengan hukum al-Qur’an yang muhkam
  3. Tidak bertentangan dengan hadits mutawatir
  4. Tidak bertentangan dengan amalan yang telah menjadi kesepakatan para ulama salaf shalih
  5. Tidak bertentangan dengan hadits ahad yang kualitas keshahihannya lebih kuat

Butir-butir di atas oleh sebagian ulama dijadikan tolak ukur apakah status hadits paalsu atau tidak. Menurut jumhur ulama tanda-tanda matan hadits palsu adalah:

  1. Susunan bahasanya tidak sama
  2. Kandungan haditsnya bertentangan dengan akal sehat
  3. Pernyataanya sangat sulit diintepretasikan secara rasional
  4. Kandungan pernyataannya bertentangan dengan tujuan pokok ajaran Islam Kandungan pernyataannyabertentangan dengan hukum alam
  5. Kandungan pernyataannya bertentangan dengan fakta sejarah
  6. Kandungan pernyataannya bertentangan dengan petunjuk al-eur’an atau hadits mutawatir
  7. Kandungan pernyataannya berada di luar kewajaran bila diukur dari petunjuk umum ajaran Islam.[11]

Dalam prakteknya penelitian matan tidaklah mudah, dalam hal ini ada beberapa hal yang menjadi penyebab sulitnya penelitian matan, antara lain:

  • Adanya periwayatan secara makna
  • Acuan yang dijadikam sebagai pendekatan tidak satu macam
  • Latar belakang munculnya petunjuk hadits tidak selalu mudah dapat diketahui adanya hubungan kandungan petunjuk hadits yang berkaitan dengan hal-hal yang berdimensi supra rasional
  • Masih lengkapnya kitab-kitab yang membahas secara khusus penelitian matan hadits.

Sebagian para ulama menyatakan bahwa seseorang barulah dapat melakukan penelitian yang dapat membedakan antara hadiys yang tergolong palsu dan yang shahih apabila orang tersebut :

  • Memiliki keahlian dibidang hadits
  • Memiliki pengetahuan yang luas dan mtindalam tentang ajaran Islam
  • Telah melakukan penelitian yang cukup
  • Memiliki akal yang cerdas sehingga mampu memahami pengetahuan secara benar
  • Memiliki tradisi keilmuan yang tinggi.

Persyaratan yang digunakan oleh al-Khatib tersebut tidaklah berlebihan sebab dalam meneliti suatu matan hadits, ssorang peneliti memikul beban tanggung jawab yang sangat berat. Tanggung jawab penelitian matan hadits tidak hanya bertanggung jawab berlaku pada dunia keilmuan semata akan tetapi berkaitan juga dengan moral keagamaan.

KESIMPULAN

Takhrij sebagai metode untuk menentukan kehujahan hadits itu terbagi pada tiga kegiatan yakni:

  1. Takhrij al-Naql yaitu penelusuran, penukilan dan pengambilan hadits dari berbagai kitab hadits (mashadir ashliyyah) sehingga dapat teridentifikasi hadits-hadits tertentu yang dikehendaki lengkap dengan rawi dan sanadnya masing-masing.
  2. Takhrij al-Tashhih yaitu menganalisis kashahihan hadits dengan mengkaji rawi, sanad dan matan berdasarkan kaidah.
  3. Takhrij al-I’tibar yaitu mendapatkan informasi dari petunjuk dan literatur baik dari kitab diwan yang asli, kitab syarh dan kitab-kitab fan yang memuat dalil-dalil hadits serta mempelajari kitab-kitab yang memuat problematika Hadits.

DAFTAR PUSTAKA

Abu Muhammad Abdul Mahdi, Metode Takhrij Hadits, Dina Utama, Semarang.

Ajjaj al-Khatib, Ushul al-Hadits Ulumuhu wa Musthalah, Dar al-Fikr, Beirut, Libanon,tt.

Al’Syiba, AI-Sunnah wa Makanatuhu fi Tasyr i’ al -IsIam, Dar al-Qaunniyyah, Beirut, Libanon,l996.

Jalaluddin Rahmat, Pemahaman Hadits: Perspektif Historis dalam pengembangan Pemikiran ter hadap Hadits, LPPI, UMY, Yogyakarta.

Muhammad Al-Thahan, Ushul al-Takhrij wa al-Dirasat al-Asanid, Daral-Qur’an al-Karim, Beirut, Libanon, 1981.

M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadits, Bulan Bintang, Jakarta, 1991.

Syeikh al-Jasim, al-Jadawil al-Jamiah fi Ulum al-Nafi’at, Muassasah al-Kalimah, Kuwait, 1995.

Ushul al-Hadits wa Dirasah al-Asanid, Kairo, Dar al-Kutub al-Salafiyah, 1982.


[1] Abu Muhammad  Abdul  Mahdi, Metode  Takhrij  Hadits (Dina  Utama, Semarang,1994), hal.2.

[2]  Muhammad  Al-Thahan,  Usul  al-Takhrij  wa al-Dirasat  al-Asanid, (Dar  al-Quran  al-Karim Beirut,  Libanon,  1981).  hal. l-2

[3] Ushul  al-Hadits wa Dirasah  al-Asanid,  (Kairo,  Dar  al-Kutub  al-Salafiyah),  1982, hal. 9

[4] Syeikh  al-Jasim, al-Jadawil  al-Jamiah fi  UIum  al-Nafi’ah, (Muassasah  al-Kalimah, Kuwait, 1995),  ha1.3

[5] M.  Syuhudi  Ismail,  Metodologi  Penelitian  Hadits, Bulan Bintang, Jakarta,  1991).  hal.42

[6] Op.Cit, hal, 49-51

[7] M. Syuhudi  Ismail,  Op.Cit,  hal  111

[8] Ajjaz al-Khatib,  Ushul al-Hadits  Ulumuhu  wa  Musthalahuhu, Dar  al-Fikr,  Beirut,  Libanon, tt,  134-135

[9] Ibid,  hal.  147

[10] Jalaluddin Rahmat,  Pemahaman  Hadits; Perspektif  Historis  dalam  pengembangan  Pemikiran terhadap  Hadits,  (LPPI,  UMY,  Yogyakarta),  1996,  ha1.147

[11] Al-Syiba,  Al-sunnah  wa Makanatuhu fi  Tasyri’  al-Islam, (Dar  al-Qaumiyyah,  Beirut, Libahon, 1996),  hal. 96-100.

Pos ini dipublikasikan di Ilmu Hadits dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s