AL-QUR’AN SEBAGAI KALAMULLAH

PENDAHULUAN

Abu Zaid (1990:243-287) memaparkan pandangan lmam al-Ghazali yang termuat dalam kitab Jawahiru al-Quran bahwa al-Quran itu bagaikan samudra lepas. Di dalamnya terkandung aneka kekayaan, mulai dari benda yang paling rendah nilainya hingga yang paling tinggi, mulai dari kayu bakar yang terdampar di tepi pantai, batu karang berbagai jenis ikan, hingga mutiara dan permata yang terdapat di dasar laut. Sikap manusia terhadapnya beragam sesuai dengan kemarnpuannya. Ada orang yang hanya menikmati keindahan lautan dan kesegaran udara pantai, dan ada pula nelayan yang mengambil ikan. Namun seorang penyelam yang ahli dapat terjun ke dasar samudra untuk mencari permata dan mutiara.
Al-Quran merupakan kitab yang telah memberikan pengaruh yang begitu luas dan mendalam terhadap jiwa manusia. Bagi kaum muslimin al-Quran adalah wahyu dari Allah. Al-Quran merupakan dasar keyakinan keagamaan, keibadatan, sumber dari segala sumber hukum dan pembimbing tingkah laku bermasyarakat dan individu.
Imam al-Ghazaii menjelaskan bahwa makna-makna al-Quran yang bertalian dengan ketuhanan itulah yang laksana mutiara dan permata. Dan mutiara al-Qur’an yang paling tinggi kualitasnya ialah makna tentang Dzat Rabb semesta alam, kemudian diikuti dengan makna tentang sifat-sifat-Nya, dan tentang aneka perbuatan-Nya. Menurut Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin mengatakan bahwa seluruh cabang ilmu pengetahuan yang terdahulu dan yang akan datang yang telah diketahui maupun yang belum, bersumber dari al-Quran al-Karim.
Secara keseluruhan, isi al-Quran dapat diklasifikasikan ke dalam tiga pembahasan pokok, yaitu: 1. Pembahasan mengenai prinsip-prinsip akidah (keimanan), 2. Pembahasan yang menyangkut prinsip-prinsip ibadah, dan 3. Pembahasan yang berkenaan dengan prinsip-prinsip syariat.
Dilihat dari sifatrya, Manna al-Qatthan menyebutkan, bahwa al-Quran bersifat Nur (cahaya), Huda (pemberi petunjuk), Syifa (penyembuh), Rahmat (rahmat), Mau-fuhah (nasihat), Mubarak (penuh barokah), Mubin (nyata, penjelas), Busyro (membawa berita gembira), Azlu (tidak terkalahkan), Majid (mulia), dan Nadzir (membawa berita duka).
Selain nama-nama al-Qur’an di atas, terdapat juga nama-nama lain, yaitu; Habhm (ikatan), shirath al-Mustaqiim (jalan lurus), Qayyiman (penegak), ‘Aliyun ( yang Tinggi), Qaolan (firman).

A. Pengertian Al-Qur’an Sebagai Kalamullah
Kalam (perkataan) Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril dengan lafal dan maknanya. Al-Qur’an sebagai kitab Allah menempati posisi sebagai sumber pertama dan utama dari seluruh ajaran Islam dan berfungsi sebagai petunjuk atau pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Al-Qur’an menurut bahasa berarti “Bacaan”. Di dalam al-Qur’an sendiri ada pemakaian kata “quran” dalam arti demikian sebagai tersebut dalam ayat 17-18 surat 75 Al-Qiyamah (ensiklopedi Islam):
kalam1Artinya: (17) “Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. (18) Apabila kami Telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu.”
Para ahli mengemukakan beberpa definisi Al Qu’an sebagai berikut:
l. Iman Jalaludin As-Sayuthy, di dalam bukurrya yang bernama “Itmam al-Dirayah”, disebutkan:
kalam2Artinya: “AI-Qur’an ialah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk melemahkan pihak-pihak yan g menentangnya, walaupun hanya dengan satu surat saja dari padanya.
Unsur-unsur penting yang disebutkannya dalam definisi sifat Al-Qur’an itu sebagai:
a. Firman Allah
b. Diturunkan kepada Nabi Muhammad
c. Berfungsi sebagaai mukjizat
2. Syeh Muhammad Al-Khuddhary Bik, dalam bukunya yang bernama “Usul fiqih” disebutkan:

kalam3Artinya: “Al-Kitab itu ialah Al-Quran yaitu frman Allah dalam bahasa Arab, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk tadzabur, dzikir, telah disampaikan kepada kita dengan jalan mutawatir, telah tertulis di dalam mushaf, dimulai dengan surah al Fatihah, dan diakhiri dengaan surat An-Nas.”
Dapat kita lihat, bahwa unsur-unsur yang disebutkan dalam definisi itu ialah sifat-sifat Al-Qur’an sebagai:
a. Firman Allah dalam bahasa Arab
b. Diturunkan kepada Nabi Muhaammad SAW
c. Sanadnyaa adalah mutawatir
d. Sudah di dalam mushaf
e. Terdiri dari beberapa surat yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan di akhiri dengan surat an-Nas, menurut tertib urut-urut dalam mushaf.
3. Ustadz Syeh Muhammad Abduh Di dalam bukunya “Risalat al-Tauhid,” disebutkan:

kalam4“Al-kitab ialah Al-Quran yang dituliskan dalam mushaf-mushaf dan telah dihafal oleh umat Islam sejak masa hidupnya Rasulullah sampai pada masa kita sekarang ini”
Unsur penting dalam definisi ini ialah:
a. Sifat Al-Qur’an sebagai kitab suci
b. Telah dituliskan dan telah dihafal oleh para penganutnya sejak masa hidupnya rasulullah sampai sekarang
Al-Qur’an al-karim merupakan syariat yeng universal, inti agama Islam dan dasar agama. Mengetahui Al-Quran, akan berfungsi menjelaskan argumentasi dalam menyimpulkan beberapa hukum dan menjelaskan pada pihak yang pro atau kafir kontra, menjelaskan sah atau tidaknya ibadat atau shalat.
Al-Qur’an al-karim sebagai peraturan masyarakat adalah aturan yang umum ditetapkan terhadap komunitas negara dan individu, baik dalam urusan keyakinan ibadat, muamalat, tanpa ada perbedaan bagi semua Mukmin dalam melaksanakannya.

Proses turunnya Al Qur’an
Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi SAW melalui beberapa cara, antara lain sebagai berikut:
1. Malaikat Jibril melnasukan wahyu itu ke dalam hati Nabi SAW tanpa memperlihatkan wujudnya.
2. Malaikat Jibril menampakkan dirinya kepada Nabi SAW sebagai seorang laki-laki dan mengucapkan kata-kata di hadapannya, sehingga Nabi cepat mengetahui dan menghafal ayat-ayat yang disampaikannya.
3. Wahyu turun kepada Nabi SAW seperti bunyi gemerincing lonceng. Menurut Nabi SAW suara inilah yang sangat berat dirasakan sehingga Nabi SAW mencucurkan keringat, meskipun wahyu itu turun di musim dingin
4. Malaikat Jibril turun membawa wahyu dengan menampakkan wujudnya yang asli, seperti dinyatakan dalam surat an-Najm ayat 13 dan 14.
Dengan cara lain, dari segi turunnya, Al-Qur’an disampaikan melalui Malaikat Jibril yang terpercaya (al-Ruh al-Amin). Dengan demikian jika ada wahyu Allah yang langsung disampaikan kepada Nabi Muhammad, tanpa perantaraan Malaikat Jibril, seperti hadis Qudsi. (hadis yang lafalnya dari Rasulullah dan maknanya dari Allah) tidaklah termasuk Al-Qur’an. Atau mungkin wahyu-wahyu lainnya yang tidak tertulis yang disampaikan Tuhan kepada manusia.
Ibnu Khaldun mengatakan bahwa keadaan pada waktu Rasulullah SAW menerima wahyu itu bagaikan kemanusiaan yang bersifat jasmani tanggal dan ia mencapai tingkat kemalaikatan yang berbentuk rohani. Ada pula dalam bentuk lain, yaitu kebalikannya, karena ia perpindahan kemalaikatan dari bentuk ruhnya yang khusus jadi berbentuk manusia yang jasmani.
Rasulullah SAW menceritakan bagaimana cara dan rasa yang beliau alami waktu turun wahyu pertama, yaitu seperti yang dikatakan Aisyah ra: Haris bin Hisyam menanyakan kepada Rasul SAW, “Wahai Rasul SAW! Bagaimana cara turunnya wahyu ?” Jawab beliau, “Kadang-kadang ia datang kepadaku bagaikan dering lonceng. Itu yang paling berat, tapi jelas, sehingga saya dapat menghafal dan mengumpulkannya, seperti yang diucapkan Jibril. Kadang-kadang diperlihatkan kepada saya Malaikat Jibril. sebagai seorang laki-laki. Dia berbicara dengan saya. Saya dapat mengerti apa yang diucapkannya kepada saya.”
Menurut Manna’ al-Qattan dalam kitabnya yang berjudul Mabahits Fi Ulum al-Quran, al-Quran sendiri diberi berbagai nama oleh Allah Swt Sebagaaimana diabadikan dalam al-Qur’an.(QS. Al-Isra :9).

B. Wahyu
Wahyu menurut pengertian bahasa ialah bisikan halus. Karena itu ilham termasuk wahyu. Dengan wahyu ini, nabi dan rasul sepanjang zaman mendapat petunjuk dan bimbingan dari Tuhan, yang akan disampaikan kepada umatnya.
Menurul Subhi Soleh memberi definisi:
– Wahyu sebagai ilham kepada manusia (Q.S.al-Maidah: 111)
– Sebagai ilham kepada binatang (instink) (Q.S.al-Nahl: 68)
– Sebagai isyarat yang cepat (Q.S.Maryam: ll),
– Jiwa yang disampaikan kepada Malaikat (Q. S.at-Anfal: 12)
Wahyu menurut syariat yaitu kalamullah yang diturunkan kepada Nabi dengan cara rahasia, tersembunyi, dan luar biasa bagi manusia.
Hasbi ash-Shidieqy mengatakan bahwa wahyu berarti menerima pembicaraan secara rohani, kemudian pembicaraan itu berbentuk dan tertulis dalam hati. Wahyu merupakan limpahan ilmu yang dituangkan Allah swt ke dalam hati para nabi dan rasul. Muhammad Abduh juga mengambil arti wahyu sebagai ‘irfan (pengetahuan).
Syekh Muhammad Rasid Rida mengatakan bahwa wahyu Allah swt yang diturunkan kepada nabi-nabi-Nya adalah suatu ilmu yang dikhususkan untuk mereka dengan tidak dipelajari. Kumpulan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW disebut al-Qur’an, yang merupakan pembawa rahmat bagi alam semesta dan petunjuk bagi manusia dalam hidup dan kehidupannya.

C. Cara Turunnya Wahyu
Para ulama rnenyebutkan beberapa kaifiyat penyampaian wahyu:
Pertama, Malaikat Jibril datang kepada Nabi SAW,dengan diiringi seperti bunyi lonceng. Cara ini dirasakan paling berat oleh nabi SAW. Dari Abdullah bin umar, ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada nabi SAW adakah engkau merasakan wahyu? Nabi menjawab: Aku mendengar bunyi lonceng kemudian pada saat itu aku diam. Tidaklah diwahyukan kepadaku melainkan aku menyangka bahwa nyawaku sedang diambil”.
Kedua, disampaikan perkataan ke dalam hati dan akalnya, sebagaimana di jelaskan Nabi SAW: “sesungguhnya ruh al-quds memasukan perkataan ke dalam hati dan akalku”.
Jibril datang kepadanya dalam bentuk manusia kemudian menyampaikan wahyu kepadanya sebagaimana dijelaskan dalam hadis shahih: “dan kadang kadang malaikat (Jibril) menjelma sebagaai seorang lelaki yang datang kepadaku kemudian ia menyampaiakannya kepadaku lalu aku pun memahami dengan baik apa yang diucapkannya. Cara ini paling mudah bagi rasulullah SAW.
Keempat, Malaikat datang kepadanya di dalam tidur (mimpi) kemudian ia menyampaikan ayat-ayat.
Kelima, Allah berfirman kepadanya baik dalam keadaan jaga sebagaimana terjadi dalam Isra’, ataupun di dalam tidur sebagaimana dijelaskan di dalam hadis Mu’adz: “Rabb-ku datang kepadaku kemudian berfirman: Apa yang dipertentangkan malaikat itu?”
Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Aisyah ra. Ia berkata: “Adalah Rasulullah SAW apabila wahyu turun kepadanya, terdengar suara gemertak di kepalanya, berubah warna mukanya, gigi-giginya menjadi dingin, dan mengeluarkan keringat sehingga menetes darinya seperi biji -bijian”.
Keenam, Kadang-kadang mirip suara lebah dari jurusan nabi berada. Para sahabat tidak mengetahui isi pembicaraan itu, namun nabi merasa terang benderang apaa yang disampaikan Malaikat.

Bentuk Turunnya wahyu
Rasulullah menceritakan bagaimana cara dan rasa yang Beliau alami waktu turun wahyu pertama seperti yang dikatakan Aisyah ra: Haris bin Hisyam menanyakan kepada rasul SAW. “Wahai rasul SAW! Bagaimana cara turunnya wahyu ? “Jawab Beliau, “Kadang-kadang ia datang kepadaku bagaikan dering lonceng. Itu yang paling berat, tapi jelas, sehingga saya dapat menghafal dan mengumpulkannya, seperti yang diucapkan jibril. Kadang-kadang diperlihatkan kepada saya malaikat jibril, sebagai seorang laki-laki -Dia berbicara dengan saya. Saya dapat mengerti apa yang diucaapkan kepada saya.”
Aisyah menambahkan, bahwa dia melihat keadaan rasul waktu turun wahyu pada hari yang sangat dingin, namun rasul sangat letih dan keringat mengalir dari keningnya.
Yang diwahyukan:
l. Al-Quran
2. Hadits atau sunah rasul SAW.

Wacana al-Quran
Al-Qu’an memberikan petunjuk dalam persoalan-persoalan aqidah, syari’ah, dan akhlak, dengan jalan meletakkan dasar-dasar prinsipil mengenai persoalan-persoalan tersebut; dan Allah swt menugaskan rasul SAW, untuk memberikan keterangan yang lengkap mengenai dasar-dasar itu: Kami telah turunkan kepadamu al-Dzikr (al-Qur’an) untuk kamu terangkan kepada manusia apa-apa yang diturunkan kepada mereka agar mereka berfikir.(Q.S.16:44)
Al-Qur’an diturunkan untuk menjadi pegangan bagi mereka, yang ingin mencapai kebahagiaan dunia akhirat. Tidak diturunkan hanya untuk suatu umat atau untuk suatu abad, tetapi untuk seluruh umat manusia dan untuk sepanjang masa, karena itu luas ajaraan-ajarannya adalah sama dengan luasnya umat manusia.
Ajaran-ajaranya begitu luas serta ditujukan kepada umat manusia dalam peri kehidupan yang bagaimanapun juga, kepada kaum yang masih keadaan primitif maupun kepada kaum yang telah mencapai peradaban dan kebudayaan yang tinggi, bagi seorang pertapa, orang yang tidak begitu mengindahkan harta, maupun bagi seorang usahawan orang yang kaya maupum yang miskin, yang pandai maupun yang bodoh, pokoknya untuk seluruh golongan masyarakat meliputi segala lapangan kegiatan manusia.(Ensiklopedi Islam).
Al-Quran mempunyai perbedaan dengan kitab lainnya. Sifat-sifat tersebut adalah sebagai berikut:
1. Isi al-Quran
Dari segi isi, al-Quran adalah kalamullah atau firman Allah. Denga sifat ini ucapan rasulullah, malaikat, jin, dan sebagainya tidak dapat disebut al-Quran. Kalamullah mempunyai keistimewaan-keistimewaan yang tak mungkin dapat ditandingi oleh perkataan lainnya.
2. Cara Turunnya
Dari segi turunnya, al-Quran disampaikan melalui Malaikat Jibril yang terpercaya (al-Ruh al Amin).
3. Pembawaanya
Dari segi pembawanya, al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW bin Abdullah. Seorang rasul yang terkenal bergelar al-Amin (terpercaya). Ini berarti bahwa wahyu Tuhan yang disampaikan kepada nabi lainnya tidak dapat disebut al-Quran.
1. Fungsinya
Al-Quran berfungsi sebagai dalil atau petunjuk atas kerasulan Muhammad.
5. Susunannya
Al-Quran disusun sesuai dengan petunjuk Nabi Muhammad SAW. Karena itu, susunan ayat ini bersifat tauqifi (diwahyukan). Sedangkan urutan surat yang dimulai dengan al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas disusun atas ijtihad, usaha dan kerja keras para sahabat di zaman pemerintahan Khalifah Abu Bakar dan Utsman bin Affan para sahabat yang meyusun urutan surat-surat tersebut terkenal jujur, cerdas, pandai, sangat mencintai Allah dan Rasul, dan hidup menyaksikan hal-hal yang berkaitan pada waktu ayat al-Qur’an turun.
6. Penyampaiannya
Al-Qur’an disampaikan kepada kita dengan cara mutawatir, dalam arti disampaikan oleh sejumlah orang yang semuanya sepakat bahwa ia benar-benar wahyu Allah SWT dan terpelihara dari perubahan atau pergantian.

 

KESIMPULAN
Wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada nabi-nabi-Nya adalah suatu ilnu yang dikhususkan mtuk mereka dengan tidak dipelajari. Kumpulan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW disebut al-Qur’an, yang merupakan pembawa rahmat bagi alam semesta dan petunjuk bagi manusia dalam hidup dan kehidupannya.
Wahyu turun dalam berbagai cara seperti ; Malaikat Jibril langsung atau menyerupai manusia, berupa suara atau gemuruh, atau lonceng.’
Al-Qu’an memberikan petunjuk dalam persoalan-persoalan aqidah, syari’ah dan akhlalq dengan jalan meletakkan dasar-dasar prinsipil mengenai persoalan-persoalan.

 

DAFTAR PUSTAKA
Al-Qathan Manna’, Mabahis fi UIum al-Qur’an, Al-Syarikah al-Muttatridah li al Tauzi, 1973.
Al-Shalih, Shubhi, Mabahis Fi UIum AI-Qur’an, Beirut Dar al-‘Ilm li al-Malayin, 1977.
Al-Ghazali, Abu Hamid, Ihya ‘Ulum al-Din, Al-Tsaqafah al-Islamiyah, Kairo, 1356 H.
Jawahir Al-Qur’an, cetakan I, Mesir, Percetakan Kurdistan t.th.
Arkoun , Mohammad dalam “Shireen” T -Hunter (ed-), Bloomington, Indiana University Press, 1988
Shabuni, Muhammad, Ali Al-, Al-Ttbyan Fi ulum al-Qur’an”. Makkah Al Mukarromah: Dina Mekah Barkah Utama 1985/1405H.
Shihab, Quraish M., Membumikan Al-Qur’an, Bandung : Mizan, 1994.
W. Montgomery Watt. “Pengantar Studi Al-Qur’an” Jakarta : Grafindo Persada 1995
Masyhur, H. Kahar, Pokok-pokok Ilmu al-Quran, Jakarta: Rineka Cipta, I992.
Abidin, S, Zainal, Seluk beluk al-Qur’an, Jakarta, Rineka Cipta, l99l.
Albayadi Ibrahim, Halimudin , Sejarah al-Quran, Jakarta: Rineka Cipta,l99?.
H. A. Mustofa, Sejarah al-Qur an, Surabaya: al-Ikhlas, 1994.
Abuddin Nata, al-Ouran dan Hadits,
Zuhaili Wahbah, al-Quran Paradigma Hukum dan Peradaban,
H. M. D. Dahlan, Syihabu ddin, Kunci-kunci Menyingkap isi al-Qur a n, Bandung: Pustaka Fitri, 2001.

Pos ini dipublikasikan di Ilmu-ilmu Al-Quran dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s