Ulumul Quran (Sebuah Pengantar)

PENDAHULUAN

Menurut Mohamad Arkoun, pemikir kontemporer Aljazair. Ia mengatakan bahwa Al-Quran memberikan kemungkinan arti yang tidak terbatas …karena yang diberikanya mengenai pemikiran dan penjelasan pada tingkat wujud mutlak … Dengan demikian, ayat-ayatnya selalu terbuka (untuk interpretasi baru), tidak pernah pasti dan tertutup dalam interpretasi tunggal (the politic of Islamic revivalism: 1988; 34).

Al-Qur’an merupakan kitab yang telah memberikan pengaruh yang begitu luas dan mendalam terhadap jiwa manusia. Bagi kaum Muslimin Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah. Al-Qur’an merupakan dasar keyakinan keagamaan, keibadatan, sumber dari segala sumber hukum dan pembimbing tingkah laku bermasyarakat dan individual.[1]

Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin mengatakan bahwa seluruh cabang ilmu pengetahuan yang terdahulu dan yang akan datang ,yang telah diketahui maupun yang belum bersumber dari Al-Qur’anul Karim.[2]

Hal ini menurut Al-Ghazali, karena segala macam ilmu termasuk ke dalam ‘afal Allah dan sifat-sifatnya. Sedangkan al-Quran menjelaskan dzat, af’al dan sifat-Nya. Pengetahuan itu tidak terbatas.[3]

Pendapat-pendapat di atas telah rnemberikan pemahaman kepada kita, bahwa al-Qur’an memiliki cabang-cabang pengetahuan yang luas dan banyak. Pengetahuan-pengetahuan yang banyak itu membentuk suatu disiplin ilmu tersendiri. Disiplin ilmu tersebut dinamai para ulama dengan Ulumul Qur’an.

Ungkapan ulumul Qur’an telah menjadi nama bagi suatu disiplin ilmu dalam kajian Islam. Secara bahasa ungkapan ini berarti ilmu-ilmu Al-Qur’an . Oleh karena itu, di Indonesia, ilmu ini kadang-kadang disebut ulumul-Quran kadang-kadang disebut ilmu-ilmu Al-Qur’an. Sebagai contoh Al-Tibyan fi ‘Ulum Al-Qur’an karangan Muhammad Ali al-Shabuni diterjemahkan oleh Muhammad Qadirun Nur dengan Ikhtishar Ulumul Quran Praktis dan kitab Mabahis fi ulum’ al-Quran karangan Shubhi al-Shalih diterjemahkan oleh Tim Pustaka Firdaus dengan membahas ilmu-ilmu Al-Qur’an.[4]

ulumul Qur’an sangat penting bagi para pelajar, mahasiswa, ilmuwan muslim dalam mempelajari dan memahami al-Qur’an. Sehingga apabila seorang mufassir atau cendikiawan muslim khususnya yang akan memahami dan menafsirka Al-Qur’an akan terhindar dari kesalahan-kesalahan yang tentu akan berbahaya bagi generasi berikutnya. Misalnya saja menyesatkan atau memalingkan dari makna yang sebenarnya (dikehendaki Allah). Hal ini ditegaskan oleh T. M. Hasby Ashiddiqie, Ia mengatakan bahwa di antara manfaat Ulumul Qur’an adalah kita dapat menafsirkan dan memahaminya dengan sempurna.[5]

Dengan kata lain, ketika kita berbicara Ulumul Qur’an berarti kita berbicara masa depan Sebab kita dapat menciptakan masa depan dengan al-Qur’an. Dengan ulumul Qur’an kaum muslimin konsekuensinya akan terus rnemerankan dirinya sebagai pembaharu, karena ia akan menyusun sebuah tafsir al-Qurannya sendiri. Tentu tidak kita katakan setiap penyusun buku tafsir disebut sebagai pembaharu tetapi apabila kita melihat seperti Muhammad Abduh, ia perlu merasa menyusun buku tafsir baru yang disebut al-manar. Di lingkungan gerakan Ahmadiyah, terdapat juga beberapa buku tafsir, misalnya yang disusun oleh Basyr al-Din Mahmud Ahmad ( aliran Qadiyan atau Mawla Muhammad Ali (Lahore). Di lingkungan Syi’ah kontemporer, muncul juga Tafsir Mizan, Karya Ayatullah Thabathaba’.[6]

Berkaitan dengan tantangan kaum Muslimin terhadap perkembangan ulumul Qur’an menurut Fazlurahman ada tiga kategori pada literatur barat mengenai al-Quran yang sekaligus menjadi tantangan bagi kita. (1) karya-karya yang berusaha mencari pengaruh Yahudi-Kristen; (2) karya-karya yang mencoba membuat rangkaian kronologis dari ayat-ayat al-Quran; (3) menysun karya-karya yang berusaha menjelaskan keseluruhan atau aspek-aspek yang tertentu saja di dalam al-Quran.[7]

Menurut Fazlurahman ada dua hal besar yang menjadi kendala umat-Islam dalam menghadapi perkembangan ide-ide Al-Qur’an, yaitu mereka kurang menghayati relevansi ayat Al-Qur’an untuk masa sekarang dan oleh karena itu mereka tidak dapat menyajikannya untuk memenuhi kebutuhan hidup umat manusia di masa kini, dan yang lebih penting mereka kuatir jika penyajiannya itu menyimpang dari pendapat-pendapat yang telah diterima sera tradisional.[8]

KAJIAN ONTOLOGI

Pembahasan ontologi ulumul Qur’an terdiri dari dua bagian, yaitu :

1. Pengertian Ulumul Qur’an secara Etimologis

Perkataan ulumul Qur’an berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu ‘ulum dan Al-Qur’an. Kata ulum adalah bentuk jamak dari ‘ilm yang berarti ilmu-ilmu.[9] Ilmu dalam bahasa arab berarti pengetahuan (knowladge), sedangkan dalam bahasa Indonesia biasanya merupakan terjemahan science.[10]

Kata ‘Ulum yang disandarkan kepada Al-Quran telah memberikan pengertian bahwa bahwa ilmu ini merupakan kumpulan sejumlah ilmu yang berhubungan dengan Al-Qur’an baik dari segi keberadaannya sebagai Al-Qur’an mahupun dari segi pemahamannya terhadap petunjuk yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, ilmu tafsir, ilmu qiraat, ilm rasm al-Qur’an, ‘ilmu Jazil Quran, ilmu asbab al-Nuzul dan ilmu-ilmu lainnnya yang ada kaitannya dengan al-Quran menjadi bagian dari ulumul Qur’an.[11]

Sedangkankan secara etimologis adalah masdar dari kata qaroa artinya al-Dhummu wal Jam’u. (bergabung dan berkumpul) yang dimaksud di sini adalah kumpulan atau gabungan huruf-huruf sehingga menjadi sebuah susunan kata yang tersusun.[12]

Apa itu al-Quran Secara Terminologis ?

Menurut Muhammad Abdul Azdim al-Zarqani ialah

arab1

Al-Qur’an adalah kalamullah yang menjadi mukjizat, diturunkan kepada Nabi Muhammmad sAW, yang ditulis dalam mushaf-mushaf, disampaikan kepada kita dengan jalan muatawatir dan membacanya dinilai ibadah.[13]

2. Pengertian ulumul Quran secara terminologis.

Adapun secara terminologis, para ulama telah merumuskan berbagai pengertian ulumul Qur’an. Di antara pendapat para ulama yang memberikan definisi tersebut ialah:

Menurut Abdul Adzim Al-Zarqani

arab2

“Beberapa pembahasan yang berhubungan dengan al-Quran al-Karim, dari segi , urut-urutannya, pengumpulannnya, penulisanya, bacaannya, penafsirannya, kemu’jiatannya, nasikh danmansukhnya, penolakana hal-hal yang bisa menimbulkan keraguan terhadapnya, dan sebagaina.[14]

Manna’ al-Qathan mendifinisikan Ulumul Qur’an dengan:

arab3

“Ihnu yang mencakup berbagai pembahasan yang berhubungan dengang Al-Qur’an, dari segi pengetahuan tentang sebab-sebab turunnnya, pengumpulan al-Qur’an dan urut-urutannnya, pengetahuan tentang ayat-ayat Makiyah dan Madaniyah, dan hal-hal lain yang ada hubung kait dengan al-Quran.[15]

Sedangkan Muhammad Ali Ash-Shabuni mengartikan dengan:

arab4

ulumul Qur’an adalah pembahasan-pembahasan yang berhubungan dengan al-Quran yang kekal dari segi turunnya pengumpulannnya, urutannya, pembukuannya, mengetahui asbab nujul, ayat makiyah dan madaniyah, nasikh dan mansukhnya, muhkam dan mutasyabih dan lain-lain yang berkaitan dengan al-Qur’an.[16]

Ungkapan ulumul Qur’an telah menjadi nama bagi suatu disiplin ilmu dalam kajia lslam. Secara bahasa ungkapan ini berarti ilmu-ilmu Al-Quran. oleh karena itu di Indonesia, ilmu ini kadang-kadang disebut ulumul-Quran kadang-kadang disebut ilmu-ilmu Al-Qur’an. sebagai contoh At-Tibyan fi Ulum Al-Quran karangan Muhammad Ali al-Shabuni diterjemahkan oleh Muhammad Qadirun Nur dengan Ikhtishar (Ulumur Quran praktis dan kitab Mabahis fi ulum, al-Quran karangan Shubhi al-Shatih diterjemahkan oleh Tim Pustaka Firdaus dengan membahas ilmu-ilmu Al-Qur’an.[17]

Berdasarkan definisi Abdul Adzim Al-zarqati, kita dapat menyusun aspek pembahasan Ulumul Qur’an, yaitu :

1. Turunnya

2. Tertib dan urutannya

3. Pengumpulannya

4. Tulisannya

5. Bacaannya

6. Tafsirannya

7. Penolakan mengenai tantangan-tantangan dari lawannya

8. Nasikh dan masukh

9. Menolak keragu-raguan tentang kebenarannya dan seumpamanya

Manna Qathan hanya menyebutkan 4 aspek pembahasan ulumul Quran, yaitu:

1. Asbab an-nuzulny a

2. Pengumpulannya

3. Urutannya, ayat Makiyah dan ayat Madaniyah

4. dan lain-lain yang berhubungan dengan al-Qur’an.

Sedangkan Muhammad Ali Ash-shabuni menuliskan lebih banyak dari Manna al-Qathan yaitu 8 aspek pembahasan ulum al-Quran, yaitu:

1. Turunnya

2. Pengumpulannya

3. Urutannya

4. Kodifikasinya

5. Asbab al-Nuzul

6. Ayat Makiyah dan Madaniyah

7. Nasikh dan mansukh

8. Muhkam dan mutasyabih.

Ketiga definisi itu pada dasarnya sama. Semuanya menunjukan bahwa ulumul Qur’an adalah kumpulan sejumlah pembahasan yang mulanya merupakan ilmu-ilmu tersendiri. Ilmu-ilmu itu menampilkan aspek pembahasan yang dianggapnya penting. Objek pembahasannya adalah al-Quran al-Karim.

Adapun perbedaannya terletak pada tiga hal. Pertama, pada aspek pembahasannya. Pengertian pertama menyebutkan 10 aspek pembahasan, pengertian kedua menyebutkan 4 aspek pembahasan dan pengertian ketiga 8 aspek pembahasan. Kedua, pada perbedaan aspek pembahasan yang ditampilkan tidak semuanya sama di antara ketiganya. Misalnya, Manna Qathan tidak menampilkan aspek tafsir, qiroah, bacaan dll. Ali Ash-Shabuni tidak mencantumkan aspek penolakan keraguan pada definisi Al-Zarqani, juga tidak ada aspek muhkam-mutasyabih pada definisi Al-Zarqam.

KAJIAN EPISTEMOLOGIS

Epistimologi Al-Quran berbica tentang objek atau wilayah kajian Ulumul Qur’an . Objek kajian ulumul Qur’an tentu setiap ulama akan berbeda. Hal tersebut disebabkan karena perkembangan ulumul Qur’an itu sendiri. Setia abad selalu ada penemuan-penemuan baru atau ilmu-ilmu baru berkaiatan dengan ilmu al-Quran. Misalnya Al-Bulqini telah menyusun Ulumul Qur’an menjadi 50 macam ilmu Qur’an. Jalaluddin Al-Suyuthi telah menulis 102 macam ilmu dalam kitab Al-Tahbir fi Ulum Al-Tafsir. Namun ia masih belum puas, sehingga menyusun lagi kitab al-Itqan fi ulum al-Qur’an yang membahas 80 macam ilmu al-Qur’an secara padat dan sistematis.[18]

Namun demikian, Hasby Ash-Shiddieqy memandang segala macam pembahasan ulumul Quran kembali kepada beberqapa persoalan saja, yaitu :

a. Persoalan nujul.

b. Persoalan sanad

c. Persoalan ada’ al-qiroah

d. Persoalan yang menyangkut lafal al-Quran

e. Persoalan makna al-Quran yang berhubungan dengan hukum

f. Persoalan makna al-Quran yang berhubungan dengan lafal.[19]

Menurut Hasby Ash-Shiddieqy, ada tujuh belas ilmu-ilmu al-Quran yang terpokok, yaitu :

1. Ilmu Mawathin al-nuzul

2. Ilmu Tawarikh al-nuzul

3. Ilmu Asbab al-nuzul

4. Ilmu Qiroat

5. Ilmu Tajwid

6. Ilmu Gharib al-Qur’an

7. Ilmu I’rab al-Qur’an

8. Ilmu wujuh wa Nazaiir

9. Iknu Ma’rifatil ahkam wa al-Mutasyabihat

10. Ilmu Nasikh wa Mansukh

11. Ilmu Bada’i al-Qur’an

12. IlmuI’ jazll Qur’an

13. Ilmu Tanasub Ayatil Qur’an

14. Ilmu Aqsamil Qur’an

15. ilmu Amtsalil Qur’an

16. Ilmu Jidalil Qur’an

17. Ilmu Adab Tilawah al-Qur’an.[20]

KAJIAN AKSIOLOGIS

Berbicara aksiologi Ulumul Quran berarti kita berbicara nilai (Tujuan, manfaat, fungsi) dari ilmu Al-Qur’an itu sendiri.

Manna’ al-Qathan di antara tujuan Ulumul Qur’an adalah sebagai bekal untuk para peiajar dan mahasiswa dan Umat Islam dalam mempelajari al-Quran. Sekaligus modal bagi umat dalam memahami al-Quran serta merealisasikannya kehidup an.[21]

Sedangkan menurut Muhammad Ali Al-Shabuni,[22]  tujuan ilmu al-Quran adalah

arab5

Apabila kita menganalisis tujuan ulumul Qur’an berdasarkan pendapat M. Ali Ashabuni, kita dapat memahami bahwa adanya ilmu ulum al-Qur’an adalah:

1. untuk memahami kalamullah

2. untuk mengetahui cara para sahabat dalam menukil sesuatu dari Nabi

3. untuk mengetahui metode-metode para mufasir dalam menafsirkan AL-Qur’an

4. untuk mengetahui gaia-gaya penafsiran

5. untuk mengetahui keistimewaan para mufassir

6. untuk mengetahui syarat-syarat para mufassir

7. untuk dapat menterjemahkan al-Quran dengan baik

8. untuk mampu menafsikan al-Qur’an dengan tepat.

Melihat tujuan Ulumul Qur’an di atas, M. Quraish Syihab mengatakan bahwa kaum intelektual muslimin memiliki peran dan tanggungjawab yang besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni untuk terus menerus mempelajari kitab suci dalam rangka mengamalkan dan menjabarkan nilai-nilainya yang bersifat umum dan dapat ditarik darinya petunjuk-petunjuk yang dapat disumbangkan atau diajarkan kepada masyarakat, bangsa, dan negara, yang selalu berkembang, berubah dan meningkat kebutuhan-kebutuhannya . Peran-peran tersebut adalah

1. peran di bidang ketahanan idiologi

2. peran di bidang ketahanan politik

3. peran ketahanan di bidang ekonomi

4. peran ketahanan di bidang sosial budaya

5. peran ketahanan di bidang pertahanan.[23]

D. SEJARAH PERTUMBUHAN DAN PERKEMBAITGAI ULUMUL QUR’AN

Sebagai ilmu yang terdiri dari berbagai cabang dan macam Ulumul Qur’an tidak lahir sekaligus. Ulumul Qur’an menjelma menjadi suatu disiplin ilmu melalui proses pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan kebutuhan dan kesempatan untuk membenahi al-Quran dari segi keberadaannya dan segi pemahamannya.

Pendapat umum di kalangan ahli sejarah mengatakan bahwa lahirnya ulumul Qur’an pada abad ke-7.[24] Menurut Al-Zarqani, UIumul Qur’an lahir pada abad ke-5.[25] Shubhi Shalih tidak setuju dengan kedua pendapat tadi. Ia berpendapat bahwa orang yang pertama kali menggunakan istilah Ilmu al-Qur’an adalah Ibn al-Mirzaban (w.309 H.) penemuannya didasarkan pada penemuannya yang menggunakan istilah Ulumul Qur’an pada beberapa kajiannya tentang Al-Qur’an.[26]

ULUMUL QUIR’AN ABAD PERTAMA DAN KEDUA HIJRAH

Di masa Rasul SAW. dan para sahabat, ulumul Quran belum dikenal sebagai suatu ilmu yang berdiri sendiri dan tertulis. Bila mereka menemukan kesulitan dalam memahami ayat-ayat tertentu mereka dapat menanyakan langsung kepada Rasul SAW. Adapun tentang kemampuan Rasul memahami al-Quran tentunya tidak diragukan lagi karena beliaulah yang menerimanya dari Allah dan Allah yang mengajarinya segala sesuatu. Dengan demikian ada tiga faktor yang menyebabkan ulumul Quran tidak dibukukan di jaman Rasul dan sahabat. Pertama, kondisinya tidak membutuhkan karena mereka memiliki kemampuan yang besar untuk memahami al-Quran dan Rasul dapat menjelaskan maksudnya. Kedua, para sahabat sedikit sekali yang pandai menulis. Faktor ketiga, adanya larangan Rasul untuk menuliskan selain Al-Quran. Semua ini merupakan faktor-faktor yang menyebabkan tidak tertulisnya ilmu ini baik di masa nabi maupun di jaman sahabat.[27]

Di zamanKhalifah Utsman wilayah Islam semakin bertambah luas, sehingga terjadi pembauran antara penakluk Arab dan bangsa-bangsa yang tidak mengetahui bahasa Arab. Keadaan demikian menimbulkan kekhawatiran sahabat akan tercemarnya keistimewaan bahasa Arab dari bangsa Arab. Bahkan dikhawatirkan akan terjadinya perpecahan di kalangan kaum muslimin tentang bacaan Al-Qur’an selama mereka tidak memiliki sebuah Al-Qur’an yang memiliki standar baku. Untuk menjaga terjadinya kekhawatiran itu disalinlah dari tulisan-tulisan aslinya sebuah al-Quran yang disebut Mushhaf lmam. Dengan terlaksananya penyalinan ini maka berarti Utsman telah meletakan dasar Ulumul Quran yang disebut Rasm Al-Qur’an atau Ilm al-Rasm Al-Utsmani.[28]

Di masa Ali terjadi perkembangan dalam ilmu al-Quran. Karena melihat banyaknya umat Islam yang berasal dari non Arab, kemerosotan dalam bahasa Arab dan kesalahan dalam membaca al-Qur’an. Kemudian Ali menyuruh Abu Aswad Al-Duali (W.69H) untuk menyusun kaidah-kaidah bahasa arab. Tindakan Khalifah Ali ini dianggap perintis bagi lahirnya ilmu nahwu dan ‘Irab Al-Quran.[29]

Setelah berakhirnya zaman khalifah yang empat, timbul zaman Bani Umayyah. Orang-orang yang paling berjasa dalam hal periwayatan ini adalah Khalifah yang empat, Ibn Abbas Ibn Mas’ud, zaid Ibn Tsabit, Abu Musa Al-Asy’ari, Abdullah ibn Zubair dari kalangan para sahabat. Sedangkan dari kalangan Tab’in ialah Mujahid Atha, Ikrimah, Qatadah, Hasan al-Bishri, Sayid Ibn Jubair dan Zaid Ibn Aslam di Madinah. Dari Aslam ilmu ini diterima oleh putranya Abdurrahman, Malik ibn Annas dari generasi Tabi’i al’Tabi’in. Mereka ini semuanya dianggap sebagai peletak batu pertama bagi apayang disebut ilmu Tafsir, ilmu asbab al-nujul, ilmu nasikh dan mansukh, ilmu gharib al-Quran dan lainnya.

Kemudian ulumul Quran memasuki masa pembukuan pada abad ke-2 H. para ulama memberikan prioritas perhatian pada ilmu tafsir karena fungsinya sebagai ‘Ulum al-Qur ‘aniyah (induk ilmu-ilmu Al-Qur’an). Para penulis pertama dalam tafsir adalah Syu’bah ibn al-Hajjaj (w.160H.), Sufi’an Ibn ‘Umayah (w.198H.) dan Wali ibn Jarrah (w 197H.).[30]

ULUMUI -QUR’AN ABAD III DAN IV HIJRIYAH

Pada abad ke-3 menyusul tokoh lbn Jarir al-Thabari (w.310H.), Ali Ibn al-Madiai (w.234H.) mengarang asbab al-nujul, Abu Ubaid al-Qasim al-Anbary (w. 328H.) mengarang nasikh mansukh, qiroat dan keutamaan al-Qr’an; Muhammad ibn Ayyub al-Daris (w. 29aH.) tentang ayat Makiyah dan Madaniyah; dan Muhammad Ibn Khalaf ubn al-Mirzaban (w. 309H.) mengarang kitab al-Hawifi ,ulum al-Qur,an.[31]

Pada abad ke-4 lahirlah llmu Gharib al-Qur’an karya Abu Bakar dari Sijistand (w.330 H, ‘Ilmu ulumul Quran; ‘Ajaib ‘ulum al-Quran karya Abu bakar Muhammad bin Qasim (w.328H. ); Al-Istigna’ fi ‘Ulumal Qur’ an karya Muhammad Ibn Ali (w. 388H.).[32]

ULUMUL QUR’AN ABAD KE V DAN KE VI HIJRAH

Di abad ke-5 tokoh dalam ilmu qiroat di antaranya ialah Ali Ibn lbrahim Ibn Sa’id al-Hufi (w.a30) mengarang al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an dan I’rab Quran; Abu Amral Dani (w.4a4H.) mengarang kitab al-Taisiir fi al-Qiroat al-Sab’i dan al-Muhkam al-Nuqat. Di abad ini lahir pula ilmu amtsal al-Quran yang antara lain di karang Al-Mawardi (w. 450H.).[33]

Sedangkan pada abad ke-5 lahirlah ilmu (kitab) mubhamat al-Qur’an karya Abu al-Qasim Abd al-Rahman (w. 581H.) dan kitab Funun at-Afnan fi ‘Ajaibil Qur’an dan kitab Al-Mujtaba’ fi ‘Ulum Tata’allaqu bi al-Qur’an karya lbn al-Jauzi (w. 597H).[34]

ULUMUL QUR’AN ABAD VII DAN VIII HIJRAH

Penulisan al-Quran pada abad ke-7 terus berkembang menjadi lebih luas lagi dan terus memperkaya bidang kajian ilmu Al-Quran. Di antara kitab yang lahir pada abad ini adalah kitab llmu Majazil Qur’an yang ditulis oleh Ibnu ‘Abdi al-Salam (wafat tahun 660H) . Selanjutny4 pada abad ke-8 lahir ilmu tentang keindahan membaca al-Quran (kitab bada’ al-Qur’an) oleh Ibn Abi Al-Ishba; ilmu Aqsam al-Qur’an oleh Ibn Qayyim (w. 762H.); dan Al-Burhan fi’ ‘Ulum al-Qur’an oleh Badrudin al-Zarkasyi (w. 79aH. ).[35]

ULUMUIL QUR’AN ABAD KE IX HIJRAH

Pada abad ke.-IX muncul Ulama-ulama yang melanjutkan ilmu-ilmu al-Qur’an. Jalaluddin Al-Bulqini (w. 824H) menyusun Kitabnya Mawaqi’ al-‘ulum min Mawaqi’ al-Nujum Muhammad Ibn Sulaiman Al-Kafiyazy (wafat 879H) mengarang kitab Al-Tafsir fi Qowa’id al-Tafsir. Di dalamnya diterangkan makna tafsir, takwil, al-Qur’an, surat dan ayat. Di dalamnya juga diterangkan tentang syarat-syarat menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Jalaluddin al-Syuyuthi (W.99lH) menulis kitab al-Tahbir fi ‘ulum al-Tafsir. Namun al-Suyuthi, belum merasa puas dengan karya yang monumental ini. Sehingga ia menyusun lagi kitab al-Itqan fi Ulumil Qur’an. Di dalamnya di bahas 80 macam ilmu-ilmu al-Qur’an secara padat dan sistematis. Menurut al-Zarqani, kitab ini merupakan kitab pegangan bagi para peneliti dan penulis dalam ilmu ini. Setelah wafatnya imam al-Suyuthi pada tahun 991 H seolah-olah karangan karang mengarang dalam ulum al-Quran telah mencapai puncaknya sehingga tidak melihat, munculnya penulis yang memiliki kemampuan seperti kemampuannya.[36]

ULUMUL QUIR’AN ABAD KE XIII DAN XIV HIJRAH

Sejak abad penghujung abad ke-13 para ulama terhadap penyusunan kitab-kitab ulum al-Qur’an bangkit kembali, kebangkitan kembali terhadap ulumul Qur’an bersamaan dengan perkembangan kebangkitan modern. Di antara ulama yang menulis ulum al-Quran di abad ini ialah Syekh Tahir al-Jazairy dengan kitabnya At-Tibyan li Ba’dhal mabahis al-muta’lliqat bil Qur’an. Muhammad Jamaluddim Al-Qasimi (W.1332H) menulis Mahasin at-Takwil. Jihad pertama dari kitab ini dikhususkan bagi pembahasan ulum-Qur’an. Muhammad Abd Adzim al-Zarqani menyusun Manahil al’Irfan fi Ulumil Qur’an. Muhammad Ali Salama menulis Manhaf al-Furqan fi ulum al-Qur an. Syeikh Tanthawy Jauhary mengarang al-Jawahir fi tafsir al-Quranil karim. Mushthafa Shidiq al-Rafi’I menulis ‘lzaz Al-Quran. Sayid Qutub menulis al-Tashwir al-Fanny fil Qur’an dan fi Dzilalil Quran. kitab Mabahis fi ulumil Quran karya Subhi Al-Shalih dan ulum al-Quran al-Kariim karya abu Al-Mun’imal Namiir

Pada awal abad XIV H penulisan ilmu-ilmu ulumul Qur’an terus berkembang. Lihat saja kitab Al-Tibyan fi Ulum al-Qur’an karya Muhammad Ali Al-Shabuni; ilmu al-Quran pada karya TM Hasby Al-Shuddieqy pengantar ilmu tafsir karya Rifat Al-Syauki Nawawi dan Ali Hasan. Buku membumikan al-Quran karya ahli tafsir Indonesia M. Quraisy Syihab. Bagian pertama dari buku ini banyak berbicara tentang ilmu al-Quran atau lebih tepatnya ilmu tafsir yang merupakan bagian dari bahasan ulum al-Qur’an.

KESIMPULAN

ulumul Qur’an menempati posisi sangat urgen bagi para pelajar, mahasiswa, cendikiawan muslim, dan seluruh manusia yang akan mempelajari al-Qur’an. Sebab disiplin ilmu ini menjadi alat yangmenyampaikan kepada penafsiran dan pemahaman al-Qur’an yang tepat. Bahkan ilmu ini bukan hanya memudahkan mufassir dalam mempelajari, memahami, dan menafsirkan, tetapi juga tataran- tataran aplikasi dan realisasi al-Qur’an dalam kehidupan keseharian.

Wilayah kajian ulumul Qur’an terus berkembang dan saling melengkapi. Hal ini menunjukan adanya kemajuan pemikiran-pemikiran baru dalam memafsirkan al-Quran secara kontinyu dan signifikan. Wilayah kajian ulumul Qur’an ini dapat kita ringkaskan menjadi dua katagori, yaitu kajian ilmu riwayah dan kajian ilmu diroyah.

Ulumul Qur’an yang merupakan kumpulan berbagai pembahasan ilmu-ilmu al-Qur’an akan terus tumbuh dan berkembang sepanjang jaman dan ia akan memiliki dampak besar dalam kehidupan terutama dalam membangun dan mewamai generasi baru zamannya. Kita telah melihat dalam lintasan sejarah pertumbuhan dan perkembangan ulumul Qur’an telah melahirkan ratusan kitab sebagai buah karya para ulama dan cendikiawan sebelum kita.

Akhirnya, hanya kepada Allah kita bersyukur yang telah menurunkan Al’Qur’an sehingga sampai di tangan kita. Semoga kita diberikan kemampuan dalam menggali dan memahami al-Qur’an dengan Ulumul Qur’an sehingga kita mampu mengamalkannya dalam tataran realitas keseharaian. Di samping itu kita dapat menghasilkan karya baru sebagai upaya mewarnai generasi Islam di masa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Zarqani, Muhammad al-‘Azim,  Manahil  al-‘Irfan fi  ‘Ulum  al-Qur’an, Beirut:  Dar al-fikr,  1988.

Al-Qathan, Manna’, Mabahis fi Ulum al-Qur’an,  Al-Syankah  al-Muttahidah  li  al-Tauzi,1973.

Al-Shalih, Shubhi,  Mabahis  Fi Ullum  Al-Qur’an,  Beirut:  Dar al-‘Ilm  li  al-Malayin, 1977.

Al-Suyuthi,  Jalauddin,  Al-Itqan fi ‘Ulum Al-Qur’an , Dar Al-Fikr,  tanpa  tahun.

Al-Ghazali Abu Hamid,  Ihya  ‘Ulum  Al-Din,  Al-Tsaqafah  al-Islamiyah, Kairo, I 356H

Jawahir  Al-Qur’an,  cetakan  I,  Mesir, percetakan Kurdistan t.th.

Arkoun, Mohammad  dalam  “Shireen”  T. Hunter  (ed.),  Bloomington”  Indiana University  Press,  1988

Raharjo, Dawam,  Ensiklopedia AL-Qur’an Bandung: Mizan, 1996.

Fazlurrahman, Tema  Pokok  Al-Qur’an,  (ter.  Anas Mahyuddin),  Bandung  : pustaka, 1980

Nawawi,  Rifat  Syauqy  dan  M. Ali  Hasan, Pengantar  llmu  Tafsir, Jakarta:  Bulan Bintang,  1988

Qutub,  Sayid Fi Dzilal  al-Quran,  (ter.  Rusjdi  Malik), Sumatra Barat:  Kandang Ampek Kayu  taman,  1992.

Shabuni,  Muhammad, Ali,  Al-Tibyan Fi  Ulum AI-Qur’an,  Makkah  Al-Mukarromah:  Dina Mekah  Barkah Utama,  1985/1405H

Shihab, Quraish  M., Membumikan  Al-Qur’an, Bandung  :  Mizan, 1994.

W. Montgomery Watt. “Pengantar  Studi  Al-Qur’an”  Jakarta  :  Grafindo persada 1995


[1] W. Montgomery  Watt.  “Pengantar  Studi  At-Qlr’an”  (Jakarta:  Grafindo  Persada,  1995),  h.xiii.

[2] Abu  Hamid  Al-Ghazali, Ihya ‘Ulum  AI-Din, Al-Tsaqafah  al-Islamiyah,(Kairo,  t.pn.,  1356 H) , hal  301

[3] Abu Hamid  Al-Ghazali, Jawahir  AI-Qur’an,  (Mesir,  Percetakan  Kurdistan  t.t.),  cet.ke-l,  h.3l-32

[4] Muhammad Abdul al-‘Adzim al-Zarqan, Manahil al-‘irfan fi ‘Ulumil-Our’an, (Beirut: Daral-Fikr, I 988), j.i, hal. 27

[5] T.M. Hasby  Ash-Shiddieqy , Sejarah  dan  Pengantar llmu  Al-Qur’an  dan Tafsir, PT Pustaka Rizki  Putra,  2000), cet.  Ke-3,h.94.

[6] Dawam Raharjo,  Ensiklopedi  AI-Qu’an, Bandung , Mizan, 1996),  cet ke-1,  h.  2.

[7] Fazlurahman,  Tema Pokok  Al-Qur’an,  (ter.  Anas Mahyuddin),  Pustaka  Bandung, 1980  hal. xi

[8] Ibid

[9] Dawam Raharjo,  Ensiklopedi  AI-Qur’an,  (Bandung:  Mizan,1996),  cet.  Ke-|, hal  527

[10] Muhammad Abdul  al-‘Adzim  N-Zarqarrt,  op.cit., j.l, h.12

[11] Manna’Al-Qathan, Mabahis fi Ulum al-Qur ‘arn,  (Al-Syarikah  al-Muttahidah  li  al-Tauzi,  1973), h.15.

[12] Ibid, hal 20

[13] Muhammad  Abdul  al-‘Adzim al-Zarqani,  op.cit.,  j. 1., h.  19.

[14] Ibid, Hal 27

[15] Manna’Al-Qathan, op cit,  hal. 1 5-16.

[16] Muhammad  Ali  al-Shabuni,  At-Tibyan  Fi Ulum  Al-Quran, (Makkah:  Dinamika  Berkah Utama 1985/l405 H),  hal.7

[17] Manna’ Al-Qathan,  op  cit.,h.  15

[18] Muhammad  Abdul al- Adzim  al-Zarqani,  op.cit., j.  1 , hal. 36-37

[19]  T. M. Hasby  Ash-Shiddieqy,  op  cit,  h. 96-97

[20] Ibid,  hal. 98-102

[21] Mana’ Al-Qathan,  op  cit., hal.  15.

[22] Muhammad Ali al-Shabuni,  op cit..,  h. 7

[23] M. Quraish Syihab,  MembumikanAl-Qur’an  (Bandung: Mizan,  1994),h.390.

[24] Muhammad  Abdul al-‘Adzim  Al-Zarqani,  op.cit.,j.l,  h.34.

[25] Ibid.,  h. 34-35

[26] Muhammad  Ati  al-Shabuni,  op  cit.,h.l24

[27] Shubhi Al-Shalih, Mabahis  fi Ulum  al-Qur’an,  (Beirut  :  dal  al-Malayin, 1977),  h.  120

[28] Muhammad  Abdul  al-‘Adzim Al-Zarqani, op,cit.. j.1,  h.30

[29] Ibid,  hal. l7

[30] Shubhi  Al-Shalih,  op cit.,  hal. 121-122

[31] Ibid.  hal. 121-122

[32] T.M. Hasby  Ash-shiddieqy,  op  cit,h.  14

[33] Ibid

[34] R. Syauqi Nawawi  dan  M. Ali Hasan.  Pengantar  llmu  Tafsir  (Jakarta :  Bulan  Bintang,  1988),  h.221

[35] Ibid., hal. 222

[36] Al-Zarqani, loc cit, hal. 36-37

Pos ini dipublikasikan di Ilmu-ilmu Al-Quran dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s