Jiwa, Pikiran, Tubuh dan Planet (Bagian 1)

Artikel Asli      : Souls, Minds, Bodies & Planets

Penulis             : Mary Midgley

Tahun               : 2004

________________________________________

Jiwa, Pikiran, Tubuh dan Planet

Apa maksudnya mengatakan bahwa kita memiliki masalah tubuh – jiwa? Perlukah kita memikirkan relasi antara “luar” dan “dalam” kehidupan kita sebagai suatu “interaksi” antara dua hal yang terpisah seperti ini, ketimbang antara aspek-aspek dari keseluruhan manusia?

Akal (mind) dan materi (matter), yang dikonsepsikan terpisah seperti ini, adalah abstraksi yang ekstrim. Kedua term ini didesain secara matang oleh pemikir seperti Rene Descartes hingga masing-masing menjadi ekslusif dan tidak kompatibel, itulah mengapa keduanya sangat sulit dipersatukan hingga saat ini. Pada masa Descartes, pemisahan ini dimaksudkan sebagai karantina untuk memisahkan sesuatu yang baru, Sains fisika yang berkembang pesat dengan bentuk pemikiran lain yang bersebrangan dengannya.  Namun demikian, ini hanyalah sebagian dari kecenderungan umum saat itu, upaya untuk memisahkan pemikiran dan perasaaan dan mengukuhkan pemikiran (Akal) sebagai patner dominan, perasaan menjadi sekedar bagian dari tubuh, tidak lebih. Itulah mengapa, selama abad pencerahan, kata soul (jiwa)  secara bertahap digantikan dengan kata mind (akal), dan kata mind  dicerabut dari penggunaan “biasa” menjadi yang murni bermakna kognitif.

Sebagai bagian dari perang antara pikiran  (reason) dan perasaan (feeling), gagasan tentang akal dan jiwa telah disamaratakan agar nampak parallel dengan dan untuk memberikan kecocokkan jawaban atas pertanyaan metafisik yang saat ini dianggap tidak menarik. Ini masih merupakan pertanyaan pra-Socratic; “Apakah bahan dasar dari alam semesta?” dan jawaban seorang dualis adalah tidak hanya satu bahan tapi sebenarnya dua – akal (Mind)  dan materi (matter).

Pendekatakan yang mengakar luas ini adalah tipikal filsafat abad 17.  Mungkin dikarenakan kekacauan politik yang luar biasa pada masa itu. Para pemikirnya secara khusus terarahkan untuk mewujudkan tatanan (order) dengan cara yang simpel, jawaban final terhadap pertanyaan-pertanyaan filosofis melulu dengan logika murni, ketimbang memperhatikan fakta-fakta yang kompleks. Dalam filsafat, sebagaimana dalam politik, mereka menyukai tatanan yang absolut. Struktur besar yang telah mereka bangun – termasuk yang satu ini – menjadi elemen esensial bagi tradisi kita. Tapi mungkin saja hal itu lebih banyak bermanfaat bagi mereka. Kita tidak harus memulai penyelidikan dari pijakan yang sudah terlampau jauh. Ketika kita tahu pendekatan rasionalis tidak membantu, kita dapat meninggalkannya dan mencoba pendekatan lain.

Saat ini, kami filosof berbahasa Inggris secara resmi telah melakukannya dalam permasalahan ini. Setengah abad yang lalu Gilbert Ryle dalam karyanya The Concept of Mind telah mengajak kita untuk berhenti berbicara dalam term “Hantu dalam mesin” (ghost in a machine). Namun demikian, dalam tradisi kita, cara berpikir yang demikian ternyata jauh lebih mengakar daripada yang kita duga.  Kebiasaan membuat gagasan itu begitu jelas dan nyata. Apa seharusnya langkah yang harus ditempuh? Pada akhirnya kita dapat menjawab dengan gemilang pertanyaan kuno “Manakah yang masih dipandang penting?” dengan satu solusi saja. Kita dapat mengukuhkan satu aturan bahwa segala sesuatu adalah materi. Kita tetap pertahankan mesinnya (materi) dan kita buang hantunya (Soul).

Para psikolog behaviorisme telah mencoba langkah ini.  Selama abad 20, mereka telah berhasil membungkam semua pembicaraan tentang “inner life”. Orang yang ingin nampak seperti saintis tidak pernah menyebutkan kesadaran atau subyektivitas sama sekali. Namun, upaya ini tidaklah berhasil. Sebuah dunia mesin tanpa pengguna atau desainer – sebuah dunia obyek tanpa subyek – tidak dapat dibuat  meyakinkan.  Akhirnya menjadi jelas bahwa konsep mesin tidaklah memadai karena pemahamannya menjadi begini; mesin mestilah telah dirancang sebelumnya agar cocok hantunya. Oleh karena itu, sekitar 30 tahun yang lalu, para saintis menemukan kembali kesadaran dan memandangnya sebagai masalah yang krusial. Namun konsep-konsep yang telah ada tentang kesadaran tetap tidak menjadi suatu pembicaraan.

Inilah kesulitan kita saat ini. Collin McGinn telah memaparkannya dengan sangat mengagumkan dalam bukunya The Mysterious Flame; Conscious Minds in A Material Worl (Basic Books, 1999):

“Masalahnya adalah bagaimana kumpulan sel … dapat menghasilkan adanya kesadaran. Masalahnya terdapat pada bahan material. Jika demikian adanya, jenis baru realitas telah “disuntikkan” ke dalam semesta….Bagaimana bisa materi belaka yang menghasilkan kesadaran?..Jika otak bersifat spasial, sebongkah materi dalam ruang, bagaimana di bumi ini muncul kesadaran yang berasal dari otak? Ini nampak seperti sebuah keajaiban, sebuah keterputusan dalam tatanan dunia natural.” (hal. 13 dan 15)

Satu area dari penyelidikan manusia mengandung anomali, sebuah bintik hitam (black spot) di mana cahaya pikiran tidak dapat menembusnya; subyek yang kita sebut ‘filsafat’ ….apa yang kita sebut filsafat adalah sebuah masalah sains di mana secara mendasar kita tidak memiliki kelengkapan untuk memecahkannya… Masalah mind – body sama halnya dengan masalah fisika dan sains lainnya; kita hanya kekurangan instrumen konseptual untuk memecahkannya.”(hal. 212, Pengarang menekankan)

Jelas sekali, ini kabar baik bahwa ada sebuah analisis yang dengan rendah hati menerima bahwa ada keterbatasan dalam pemahaman kita. Namun, saya pikir masalah besar pada bagian ini muncul dari sumber yang biasa – bahwa tradisi kita mengarahkan untuk salah menempatkan masalah. Kita tidak harus kembali pada solusi putus asa McGinn yang menyalahkan ketidakmampuan otak. Bahwa masalah filosofis hanya merupakan masalah sains, nampak janggal. Masalahnya adalah bagaimana cara kita berfikir. Dan di sini, sebagaimana sering terjadi, jalan terbaik yang berkaitan dengan hal ini adalah memulai kembali dari jalan lain, berpikir beda.

Saya menyarankan kita memulai dari hubungan antara kehidupan “dalam” (inner live) dan kehidupan luar (outer live) – antara pengalaman subyektif dan dunia yang ada di sekita kita –   dalam  konteks kehidupan kita sebagai keseluruhan, bukan mencoba menambahkan kesadaran yang terisolasi. Pijakan awal mestinya bukan badan dalam pengertian abstraksi atau mind, tapi kehidupan manusia sebagai keseluruhan.

Untuk melihat mengapa hal ini penting, mari kita kembali pada momen-momen Descartes.

Sebagaimana telah saya sarankan, bahwa satu faktor yang membuat Descartes mengambil jalan dualisme adalah harapannya untuk mendudukan akal (reason) sebagai penengah dalam kekacauan antara otoritas-otoritas di dunia  yang saling bertentangan. Dan apa yang membuat hal ini diperlukan pada waktu itu adalah berkembangnya sebuah bentuk baru pemikiran, yang disebut fisika modern,  dalam kompetisinya dengan pemikiran-pemikiran lama.

Pada saat disiplin yang mengagumkan ini diperkenalkan ke dalam  khazanah intelektual dunia yang keseluruhannya terbentuk di sekitar teologi – dan pada saat yang sama opini-opini teologi dengan penuh bahaya terkait dengan politik – beberapa perangkat untuk memecahkan lingkaran ini dinilai sangat diperlukan. Perangkat tersebut mestilah menghantarkan pada pluralisme – maksudnya tentu saja tidak berarti meyakini bahwa terdapat banyak bahan dasar (substansi) tapi berarti pengakuan akan banyaknya cara berpikir yang terlegitimasi tentang pola-pola yang berbeda dalam dunia.  Namun pada kenyataannya, kereta pemikiran ini telah berhenti pada stasion pertama – yaitu dualisme –  banyak meninggalkan penumpang di sana hingga saat ini.

Sebagai contoh, kesulitan dualisme mengemuka ketika orang memunculkan masalah identitas personal, pertanyaannya adalah apakah sesungguhnya orang (person) itu? Filosof analitik seringkali mendiskusikan hal ini, biasanya berawal dari contoh John Locke yang terkenal yaitu tentang seorang pangeran yang bertukar jiwa dengan seorang tukang sepatu. Pemikiran mereka tentang cerita ini telah menghasilkan kumpulan sains fiksi yang ganjil, dengan mempertanyakan apakah tokoh dalam cerita tersebut dianggap sebagai “orang yang sama” ketika mereka mengalami peristiwa ganjil tersebut. Jawabannya cenderung tidak membantu, sebab ketika mereka mengambil jarak terlampau jauh dari kehidupan normal, kita tidak memiliki konteks yang membuat pertanyaan tersebut masuk akal. Dan – sebagaimana para mahasiswa seringkali komplain – berbagai spekulasi ini tidak lebih dari sekedar sejenis masalah yang diada-adakan dan membuat orang akhirnya khawatir dengan identitas personal dalam kehidupan nyata.

Para penulis sains fiksi pun menghadapi masalah yang sama dengan topik ini, sebab seni mereka sangat erat terkait dengan dulisme. Tokoh-tokoh yang mereka ciptakan dapat berpindah tubuh, atau tubuh mereka dapat diambil alih oleh jiwa (consciousness) alien. Hal ini terjadi pada film Star Trek. Akan tetapi cerita-cerita ini banyak memiliki keterbatasan sebab diciptakan berdasarkan asumsi-asumsi yang janggal. Mereka memperlakukan jiwa atau kesadaran seperti sebuah paket alien yang secara mendasar terpisah dari tubuh. Mereka tetap berkeyakinan begitu seolah-olah jiwa atau keasadaran  seseorang dapat dicabut kapan saja dan dipasangkan lagi pada badan orang lain, nampak seperti batre dengan slotnya. Namun, kesadaran kita pada kenyataannya tidaklah dalam pengertian didesain untuk pas dengan badan kita. Kesadaran seorang tukang sepatu membutuhkan tubuh seorang tukang sepatu. Dua orang dengan sistem syaraf dan organ berbeda tidak mempersepsi sesuatu dengan cara yang sama, sehingga memiliki perasaan yang sama, tidak juga memori mereka dapat diangkat seluruhnya untuk dimasukan ke otak yang berbeda. Mencoba menukarkan tubuh tidak seperti memasang batre baru pada slotnya. Ini lebih seperti mencoba memasangkan bagian dalam poci teh ke bagian luar poci teh lainnya, di mana hampir tidak ada dari kita yang akan mencobanya.

Kenyataan ini sangat menarik bahwa banyak sekali penulis sains fiksi yang berpegang pada metafisika aneh ini. Ini memperlihatkan bahwa pemikiran dualistik masih ada saat ini. Upaya simplikasi tentang relasi antara inner life dan outer live dengan mengatakan bahwa keduanya adalah sesuatu yang terpisah membuat upaya menghubungankan keduanya secara masuk akal, lebih sulit  dari upaya Descartes sendiri yang mengukuhkan faham dualisme.

Descartes sendiri nampaknya kesulitan mengenai hubungan jiwa – badan. Dia menulis:

Aku tidak hanya berada dalam tubuhku seperti seorang nakhoda kapal….aku secara sangat intim tergabung, seperti tercampur satu sama lain, jiwa dan badanku tergabung dalam kesatuan tertentu. Jika ini tidak terjadi, semestinya aku tidak merasa sakit ketika tubuhku terluka.’ (A Discourse on Method, tr. John Veitch, Dent & Dutton 1937 p.135)

Namun sialnya, dia tidak menghentikan argumennya bahwa keterpisahan tersebut bersifat absolut, membuat jiwa begitu simpel, murni, cahaya kesadaran yang tidak berubah. Dia berbicara seolah tubuh sebagai sesuatu yang di luarnya, sesuatu yang asing dimana jiwa menemukannya ketika ia mulai melihat di sekitarnya. (Pilot terbangun, kemudian bicara, menemukan dirinya secara misterius terkunci di dalam kapalnya). Kodrat dua substansi ini, dia mengatakan, tidak memiliki hubungan yang dapat dipahami (intelligible).

Jiwa yang  terisolasi ini, tentu saja, didesain secara sempurna untuk bertahan setelah kematian. Descartes sangat concern dengan hal ini. Namun, kehidupan setelah mati bukanlah hal pertama yang perlu dipikirkan ketika kita membentuk konsepsi tentang diri kita. Hal pertama yang perlu kita perhatikan adalah cara bagaimana membuat masuk akal kehidupan yang kita jalani saat ini. Dengan membuat kehidupan batin kita begitu renggang dan dapat dilepaskan, Descartes menempatkannya pada posisi berbahaya dilihat sebagai tidak terlalu penting.

Dengan berkembangnya sains fisika, materi dilihat sebagai sesuatu yang masuk akal (intelligible) pada dirinya sendiri. Jiwa dan badan memang mulai dilihat lebih seperti sang nakhoda dan kapalnya, dan orang mulai mempertanyakan apakah pilotnya benar-benar diperlukan. Persepsi dan aksi secara fisis dapat bekerja dengan baik tanpanya. Dengan demikian para psikolog behavioris membuang sang nakhoda ke laut, meninggalkan dunia material yang bekerja otomatis – tubuh yang tak berpenghuni. Dualisme teistik Descartes berbalik menjadi monisme materialistik.

Ini adalah latar belakang yang aneh di mana setiap orang tiba-tiba ingin mempertanyakan masalah kesadaran. Hal itu menjelaskan mengapa penyelidikan-penyelidikan ini seringkali dilihat sebagai masalah bagaimana memasukan sebuah term “extra”, yaitu kesadaran, ke dalam sains fisik.

Dalam mengupayakan hal itu, mereka mencoba membangkitkan lagi jiwa abstrak-nya Descartes – cahaya kesadaran murni – dan mencocok-cocokkannya dalam studi dunia fisik. Sejak upaya memisahkan jiwa dan badan pertama kali tidak bisa dihandel dengan metode-metode sains fisik, upaya ini pun gagal.

Manusia bukanlah kombinasi longgar dari bagian yang kurang cocok. Mereka adalah keseluruhan, makhluk kompleks dengan banyak aspek  yang mesti dipikirkan dalam cara-cara yang berbeda. Jiwa – badan lebih seperti bentuk dan ukuran ketimbang seperti es dan api, atau minyak dan air. Pikiran sadar bukanlah, seperti yang dikatakan Descartes, suatu jenis non fisis yang aneh di dalam dunia (a queer kind of extra-stuff in the world), ia hanyalah salah satu hal yang kita lakukan.

Kedua abstarksi ekstrim yang sejauh ini digunakan dapat dikatakan salah kaprah.

Untuk memikirkan tujuan mental, pertama kita perlu menyingkirkan gagasan Descartes bahwa jiwa pada dasarnya bersifat simpel, kesatuan, entitas yang tak berubah, sebuah kesadaran yang abstrak. Sebuah pemikiran seyogyanya tidak seperti ini. Berpikir berarti berkaitan dengan kompleksitas dunia, jadi bagaimana pun pemikiran memiliki kompleksitas. Ia perlu memahami pertimbangan-pertimbangan yang saling bertolak belakang.

Tidak juga jiwa ini, sebagaimana Descartes katakan, bersifat tetap. Perubahan kita adalah yang memunculkan persoalan pada identitas personal, dan ini sangat meresap. Kita sering memikirkan, bukan hanya “ apakah orang di dermaga ini adalah orang yang sama dengan sebelumnya?” tapi juga “ apakah aku secara keseluruhan adalah orang sama? Apakah aku (misalkan) benar-benar komitmen dengan proyekku saat ini?” atau, lagi-lagi “Diriku yang manakah yang akan mengambil alih?” Salah seorang temanku biasa komplain karena sialnya dia termasuk tim kerja/ organisasi di mana anggotanya seringkali tidak setuju, dan kebanyakan yang lainnya juga seperti itu. Dan tentu saja sistem organisasi dalam diri (committee) kita tidaklah terisolasi, seperti konsep jiwa Descartes, setiap jiwa berada dalam “menara gading” masing-masing. Kita adalah “pengada sosial” di mana kehidupan dalam kita (inner live) terbentuk oleh hal-hal di sekeliling kita. Semua ini membuat kehidupan kita lebih sulit dari yang kita harapkan, tapi juga hal itu membuatnya menarik.

Tentu saja adalah benar bahwa, dalam satu moment, masing-masing dari kita adalah seseorang. Tapi sebagai satu kesatuan yang kita miliki tidaklah simpel dan given. Ia adalah suatu proses berkembang, sesuatu yang secara terus-menerus  diperjuangkan dan tak pernah selesai. Carl Jung menyebutnya integrasi kepribadian (integration of the personality) dan memikirkannya sebagai suatu persoalan sentral dalam kehidupan.

Plato, sebagai filsuf dualis yang sangat berbeda dengan Descartes, memikirkan konflik-konfilk ini sebagai yang bersifat internal pada jiwa dan mengandung persoalan-persoalan utama. Jiwa (ia mengatakan) tidak dalam makna kesatuan.  Secara konstan, ia tersiksa karena ia terbagi menjadi tiga bagian – keinginan (gairah) baik, keinginan jelek dan akal – yang merupakan tim kuda penghela kereta. Ini, tentu saja, merupakan sebuah doktrin moral. Namun ini juga adalah bagian integral dari metafisika Plato dan pemikirannya mengenai hal ini dilakukan secara mendalam.

Perbedaan antara kedua pandangan dualis ini memperlihatkan secara jelas bahwa terdapat lebih dari satu cara “memecah-mecah” manusia. Tak hanya ada satu garis berlubang “sobek di sini” untuk memecah jiwa dari badan. Kultur yang berbeda secara “semena-mena” menggunakan peta konseptual berbeda dalam hal ini, menganalisis “diri” dalam cara-cara yang berbeda. Tak satu pun cara-cara tersebut yang secara khusus bersifat “saintifik”. Cara-cara yang demikian didesain untuk menampilkan nilai penting dari beberapa aspek tertentu dari kehidupan kita.

Gagasan McGinn yang memperlakukan masalah yang muncul dari trend terkini dalam sejarah intelektual kita sebagai sesuatu penyakit yang diderita seluruh umat manusia karena proses evolusi, membuat saya agak heran.

Concern utama Plato adalah konflik emosional di dalam “diri”. Descartes, sebaliknya, memperhatikan konflik intelektual antara dua gaya berpikir yang berbeda. Perbedaan ini membawa mereka pada pandangan yang berbeda tentang apa sesungguhnya “orang” itu (person). Namun keduanya adalah rasionalis. Mereka berdua ingin mengukuhkan “materi” dengan menobatkan salah satu bagian dari kepribadian (personality) sebagai arbitrator absolut yaitu akal (reason). Mereka tidak mengarahkan perhatian pada konflik internal dalam “diri” sebagai sebuah sistem organisasi diri (internal committee). Mungkin juga sebagian dari kita berpikir bahwa konsep sistem organisasi diri (Committee system), tidak memuaskan. Namun setidaknya konsep ini tidak lebih jelek dari konsep-konsep lain.

____________________________________________

© DR MARY MIDGLEY 2004

Mary Midgley adalah dosen di University of Newcastle-upon-Tyne, sampai jurusan filsafat ditutup. Karya-karyanya yang terkenal antara lain buku Beast and Man, Wickedness, The Ethical Primate and Science and Poetry.

Versi lain dari artikel ini dapat ditemukan dalam buku Philosophy, Biology and Life (ed. Anthony O’Hear, Cambridge Univ. Press 2004) dan (as ‘Mind and Body; The End of Apartheid’) in Science, Consciousness and Ultimate Reality (ed. David Lorimer, Imprint Academic, 2004)

Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Jiwa, Pikiran, Tubuh dan Planet (Bagian 1)

  1. Ping balik: BELAJAR FILSAFAT « Muhsinpamungkas's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s