BELAJAR FILSAFAT

Apa itu Filsafat?

Biasanya orang mulai dengan definisi untuk menjawab pertanyaan itu. Karakter definisi adalah “pembatasan arti” agar kita bisa membedakan sesuatu dari sesuatu yang lainya. Begitulah cara kita mengenali sesuatu. Socrates, sebagai filsuf pertama yang menemukan definisi, pertama-tama ia melakukan metode dialog untuk mengumpulkan berbagai pengertian tentang sesuatu, kemudian ia menyimpulkan sebuah pengertian umum yang diterima semua orang. Dalam membuat kesimpulan tersebut, dia mengumpulkan ciri umum sesuatu (ciri esensial) dan menyisihkan ciri khusus (ciri aksidensi). Inilah yang ia sebut definisi. Kesulitan awal dalam menjawab pertanyaan “Apa itu filsafat?” adalah fakta bahwa terdapat banyak keragaman pengertian filsafat dari masa ke masa dan dari filsuf satu dengan filsuf lainnya. Tak ada jaminan bahwa esok hari atau lusa terdapat pengertian yang benar-benar baru dalam sejarah filsafat.

Kesulitan kedua menyangkut pertimbangan tentang karakter dasar filsafat. Jika definisi dipahami sebagai paparan ciri esensial sesuatu, maka bila filsafat didefinisikan akan berarti ketertutupan terhadap pemahaman lain. Pytagoras, sebagai filsuf pertama yang menggunakan istilah filsafat, mengartikannya sebagai the love for wisdom, sedang wisdom yang ia maksudkan adalah kegiatan melakukan perenungan tentang Tuhan. Maukah orang tetap terpenjara dengan pembatasan semacam ini? Filsafat justru menghendaki keterbukaan total terhadap kemungkinan-kemungkinan baru karena ia bersifat kritis, reflektif dan radikal.

Itulah kenapa Hatta mengatakan bahwa pengertian apa filsafat itu lebih baik tidak dibicarakan terlebih dahulu (hatta, 1966:I:3). Nanti, bila orang telah banyak mempelajari filsafat, orang itu akan mengerti dengan sendirinya apa itu filsafat menurut konotasi filsafat yang ditangkapnya. Langeveld juga berpendapat begitu. Katanya, setelah orang berfilsafat sendiri, barulah ia maklum apa filsafat itu; dan makin ia berfilsafat, akan makin mengerti ia apa filsafat itu (Langeveld, 1961:9).

Namun demikian, saya telah membuat keputusan untuk membuat tulisan ini dan mudah-mudahan seri tulisan berikutnya pun dapat diwujudkan. Konsekuensinya, saya terpaksa harus menetapkan “apa itu filsafat?” agar keseluruhan tulisan ini dapat dimengerti. Semaksimal mungkin akan dupayakan pencarian pengertian yang universal sehingga mengakomodir sebanyak mungkin khazanah intelektual yang disebut orang sebagai filsafat dengan tetap bersikap terbuka terhadap pemahaman-pemahan lain. Sebagai pembuka, berikut disajikan beberapa pernyataan tentang apa itu filsafat yang dikemukakan beberapa filsuf dan akademisi.

  1. Plato: “ Filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran asli”.
  2. Aristoteles: “Pengetahuan yang meliputi kebenaran yang tergabung di dalamnya Metafisika, logika, retorika, ekonomi, politik, dan estetika”.
  3. Bertrand Russel: “attempt to answer ultimate question critically”
  4. William James: “a collecctive name for question which have not been answered to the satisfaction of all that have asked them”.
  5. Immanuel Kant: “Pengetahuan yang menjadi pokok pangkal segala pengetahuan”
  6. Ahmad Tafsir: “Filsafat adalah sejenis pengetahuan yang diperoleh dengan cara berpikir logis tentang obyek yang abstrak logis.
  7. Hasbullah Bakry: “ Filsafat adalah sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu”

Pernyataan yang dikemukakan Plato dan Socrates mengandung kata kunci yang sama, yaitu kebenaran. Filsafat bertujuan untuk menemukan kebenaran. Apa itu kebenaran? Pengertian umumnya adalah kesesuaian antara pengetahuan dengan kenyataan, bahwa pengetahuan kita benar-benar menjangkau dan cocok dengan obyek tindakan mengetahui. Begitu kira-kira. Pernyataan dua filsuf ini lebih mirip dengan teori pengetahuan yang saat ini dikenal dengan istilah epistimologi, cabang besar filsafat yang mengkaji hakikat dan jangkauan pengetahuan, kriteria kebenaran, cara memperoleh pengetahuan, dan seterusnya. Dalam sejarah, pada kenyataan obyek filsafat lebih luas dari itu.

Seluruh bangunan pengetahuan filsafat bertumpu pada pertanyaan, dinyatakan ataupun tidak. Bobot sebuah sistem filsafat bergantung pada bobot pertanyaan yang dimunculkan. Thales dijuluki sebagai seorang filsuf pertama Yunani  dikarenakan bobot pertanyaan yang diajukannya. Apakah bahan alam semesta ini? Pertanyaannya radikal tapi jawabannya sederhana. Air, menurut Thales. Sepenting itulah peran pertanyaan di dalam filsafat. Oleh karenanya, Bertrand Russel dan William James secara khusus menggaris bawahi peran sentral pertanyaan di dalam pernyataannya tentang filsafat. Hanya saja Russel menekankan arti upaya untuk menjawabnya sementara James menekankan arti penting pertanyaan-pertanyaannya itu sendiri.

Pernyataan Immanuel Kant memposisikan filsafat sebagai “adi pengetahuan”. Filsafat dipahami sebagai fondasi bagi pengetahuan-pengetahuan lain. Berikut adalah bagan yang kira-kira menggambarkan pernyataan Kant.

Setiap pengetahuan memproduksi teori dengan menggunakan paradigmanya masing-masing. Paradigma di sini dimaksudkan sebagai “cara pandang” tentang obyek kajian yang pada akhirnya menentukan teori kebenaran yang dianut, dan metode serta teknik kajian yang digunakan. Bagaimana paradigma itu dikukuhkan? Tentunya permasalahan tersebut diluar kajian disiplin itu sendiri. Filsafatlah yang mengambil alih tugas tersebut. Tidak heran kita sering menemukan cabang-cabang filsafat yang membahas disiplin-disiplin tertentu misalkan Filsafat sains, filsafat seni, filsafat matematika, filsafat sejarah, dan lain sebaginya.

Lantas, berdasarkan pernyataan beberapa filsuf di atas, sudah cukupkah kita mengambil kesimpulan tentang apa itu filsafat? Untuk memperlihatkan karakter-karakter tertentu dari filsafat mungkin ya, tapi menurut hemat saya lebih dibutuhkan struktur definisi yang paralel dengan definisi pengetahuan lain agar lebih mudah memilah filsafat di antara pengetahuan lain. Setidaknya ada dua hal yang perlu diperjelas yaitu obyek material dan obyek formalnya.

Dalam hal ini, menarik sekali apa yang dipaparkan Ahmad Tafsir (1990: 15-16). Menurutnya, Secara garis besar pengetahuan manusia itu ada tiga yaitu sains, filsafat dan mistik. Ketiganya dibedakan berdasarkan obyek, paradigma, metode dan ukuran kebenaran. Berikut matrik yang disajikannya.

Macam Pengetahuan

Obyek

Paradigma

Metode

Ukuran

Sains Empiris Positivistis Sains Logis dan bukti empiris
Filsafat Abstrak logis Logis Rasio Logis
Mistik Abstrak Supralogis Mistis Latihan Rasa

 

Filsafat, menurut Tafsir, adalah sejenis pengetahuan yang diperoleh dengan cara berpikir logis tentang obyek yang abstrak logis. Obyek materialnya mencakup segala sesuatu yang ada dan obyek formalnya adalah yang abstrak logis. Produk dari studi filsafat tentu saja teori filsafat yang kebenarannya ditentukan oleh logis tidaknya pembuktian yang disusun.

Pendapat Ahmad Tafsir ini termasuk sangat berani karena selain memberikan definisi filsafat juga sekaligus mereduksi seluruh pengetahuan manusia menjadi tiga jenis saja. Tantangan langsung yang harus dihadapi adalah memilah-milah seluruh pengetahuan manusia berdasarkan tiga kategori tersebut dan hal itu nampaknya belum dilakukan oleh beliau, setidaknya dalam publikasi-publikasinya.

Kendatipun matrik di atas terbilang canggih, namun menurut pandangan saya terdapat kelemahan dalam hal pemilahan pengetahuan berdasarkan obyek. Apa makna empiric, abstrak logis dan abstrak supra logis? Menurut Tafsir, yang empirik itu yang dapat diindera (empirik sensual), yang abstrak logis berarti yang non-empirik sensual tetapi logis dan yang abstrak supralogis yang non-empirik sensual tapi tidak logis. Setidaknya ada dua keberatan yang dapat diajukan.

Pertama, penggunaan istilah empirik – abstrak logis – abstrak supralogis pada kenyataanya tidak dapat digunakan secara ketat. Pengetahuan sains tidak melulu berurusan dengan obyek empirik sensual. Pernahkan ada seorang saintis yang dapat mengetahui dunia sub atomik dalam pengetian empirik sensual? Atau barangkali medan elektromagnetik, medan gravitasi atau kecepatan chip processor terkini yang menakjubkan? Berapa banyak lagi hal-hal yang serupa yang mungkin akan menjadi temuan sains di kemudian hari?

Penggunaan istilah abstrak logis (obyek filsafat) juga tidak kalah membingungkan. Abstrak dimaksudkan lawan kata empiris dalam hal ini yaitu yang tidak dapat dindera tapi dapat ditangkap pikiran, misalkan hukum alam, keadilan, kebijaksanaan dan seterusnya. Bila yang abstrak ini dibatasi sebagai yang logis saja, maka bagaimana kita menentukan yang logis dan tidak logis? Barangkali maksudnya sejauh dapat dipikirkan dan masuk akal. Namun penentuan ini dapat dikatakan relatif. Misalkan Tuhan atau konsep Tuhan. Bagi filsuf satu barangkali logis tapi bagi filsuf lain mungkin tidak.

Kedua, penggunaan istilah empirik – abstrak logis – abstrak supralogis bertumpu pada terminologi-terminologi dan kesimpulan-kesimpulan yang justru akan dibuktikan oleh telaah filsafat. Bahwa terdapat alasan memadai untuk memilah-milah aliran pengalaman yang kita sadari; bahwa terdapat entitas-entitas berbeda dalam diri kita yang dapat menangkap aliran pengalaman (indera – akal – rasa); bahwa jenis pengalaman tertentu hanya absah ditangkap oleh entitas tertentu saja dalam diri kita. Justru filsafat berarti penarikan diri dari kesimpulan-kesimpulan umum (common sense) seperti itu. Dalam kaca mata filsafat, seluruh aliran pengalaman sama misterinya. Warna merah, rasa manis, decitan meja yang diseret, dinginnya angin malam, indahnya mentari pagi, mata, tangan, telinga, keadilan. Semuanya mengalir dalam kesadaran, menuntut untuk dipahami. Diri kita menuntut untuk bertanya, apa itu? Apakah ia benar-benar nyata bukan ilusi? Apa itu yang nyata? itulah pengalaman asli kita sebelum muncul bunga-bunga penafsiran tentangnya yang seringkali diambil secara gratis tanpa refleksi kritis.

Namun demikian, upaya yang dilakukan Ahmad Tafsir tidak dapat dipersalahkan begitu saja. Wajar saja seseorang berada pada posisi tertentu dalam pemikiran filsafati. Tapi tujuan kita adalah mencari pernyataan netral yang mengakomodir sebanyak mungkin pemikiran yang dipahami sebagai filsafat. Kerangka yang ditawarkan Tafsir tetap akan digunakan dengan modifikasi pada apa sesungguhnya yang menjadi obyek filsafat. Barangkali pendapat Hasbullah Bakry yang mungkin bisa digunakan dengan sedikit modifikasi.

Bakri (pernyataan no.7), menyatakan bahwa obyek material filsafat adalah segala sesuatu. lantas apa obyek formalnya? Jawabanya bisa diperoleh dari sifat penyelidikan, yaitu secara mendalam. Senada dengan ini adalah pernyataan Russel (pernyataan no. 3) yaitu attempt to answer ultimate question critically. James (pernyataan no. 4), menyebut yang mendalam itu sebagai persoalan yang belum terjawab secara memuaskan. Plato (pernyataan no. 1) menyebutnya sebagai pencapaian kebenaran asli. Hasil dari penyelidikan mendalam itu adalah apa yang menjadi pokok pangkal segala pengetahuan (Pernyataan No. 5).

Lantas apakah yang digunakan untuk penyelidikan mendalam atas segala sesuatu itu? Jawabannya adalah akal. Bagaimana kita tahu keabsahan akal untuk melakukan ini? Di sinilah bagian menariknya. Rupanya sifat penyelidikan yang mendalam itu sekaligus juga penyelidikan kritis atas akal itu sendiri. Keunikan akal terletak pada kemampuan reflektifnya. Selain secara kritis menyelidiki sesuatu, pada saat yang sama juga kritis terhadap proses berpikirnya; kritis terhadap dirinya sendiri. Akumulasi dari hal itu adalah satu disiplin filsafat tersendiri yang disebut epistimologi atau filsafat pengetahuan. Kodrat dasar pengetahuan adalah penerimaan atas akal, tidak sebaliknya. Setiap upaya penolakan akal, pada saat yang sama juga penerimaan atas akal. Tak ada pemikiran yang bisa menghindar dari paradoks ini, sebab agar upaya penolakannya atas akal dapat dimengerti kita akan menggunakan akal; menerima akal. Oleh karena itu tugas utama epistimologi adalah memetakan jangkauan akal itu sendiri. Dalam konteks filsafat, kita tidak bisa keluar dari akal untuk membuktikan akal itu sendiri.

Sampai di sini cukuplah aman untuk menyatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu yang ada secara mendalam dengan berpikir logis.  Obyek material filsafat mencakup segala sesuatu yang ada dan obyek formalnya atau sifat penyelidikannya adalah mendalam, kritis atau radikal. Apa yang ingin dicapai adalah kenyataan atau hakikat, dapat dicapai ataupun tidak. Pengertian semacam ini menurut hemat saya mengakomodir lebih banyak berbagai aliran pemikiran dalam filsafat.

Sistematika Filsafat

Secara garis besar, filsafat di bagi menjadi 3 bidang yaitu teori hakikat, teori pengetahuan dan teori nilai. Teori hakikat cakupannya luas sekali yaitu mencakup pembahasan hakikat segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Termasuk ke dalam cabang ini adalah Metafisika (hakikat benda), antropologi (hakikat manusia, Kosmologi (hakikat kosmos), Teologi (hakikat Tuhan), Filsafat Pendidikan, dan lain-lain. Teori pengetahuan yang juga disebut epistemologi membicarakan asal-usul, jangkauan dan cara memperoleh pengetahuan. Di dalamnya termasuk Logika. Cabang ini membicarakan tentang norma-norma berpikir benar agar diperoleh dan terbentuk pengetahuan yang benar. Teori nilai (axiologi) membicarakan tentang nilai. Etika membicarakan tentang nilai baik – buruk dan Estetika membicarakan tentang nilai keindahan (Tafsir, 1990: 19-37).

Berbeda dengan sistematika di atas, Mudyahardjo (2001:3-7) membaginya filsafat menjadi 2 cabang besar, yaitu Filsafat Umum atau Murni  dan Filsafat Khusus atau Terapan. Berikut adalah bagan yang menjelaskannya secara rinci.

 

Bila diperhatikan, dua sistematika yang saya kemukakan cukup berbeda. Pada sistematika Ahmad Tafsir, beberapa bidang dimasukan pada teori hakikat sementara pada sistematika Redja Mudyahardjo, dimasukan pada cabang filsafat Khusus. Bidang-bidang tersebut antara lain Filsafat pendidikan, filsafat sejarah, filsafat seni, dan seterusnya. Menurut hemat saya, perbedaan tersebut tidak terlalu jadi masalah selama bidang-bidang filsafat yang penempatannya berbeda tetap ada.

 

Belajar Filsafat atau Berfilsafat?

Jawaban atas pertanyaan ini sebetulnya mudah, namun perlu dikemukakan agar tidak terjadi kesalah pahaman. Belajar filsafat tidaklah sama dengan berfilsafat. Belajar filsafat berarti usaha mempelajari karya atau pemikiran filsafat orang lain sementara berfilsafat berarti berpikir filsafati. Orang yang melakukan ini berarti sedang membuat karya filsafat atau sebuah pemikiran filsafati tentang suatu bidang filsafat. Nampaknya, pada tulisan ini upaya yang saya lakukan adalah belajar filsafat. Namun jika terselip sedikit di sana sini upaya “berfilsafat”, itu melampaui tujuan saya semula. Rasanya saya tidak terlalu takut untuk membuat kesalahan dalam hal ini. Mudah-mudahan saja dengan mengatakan yang salah akan muncul yang benar, dari manapun itu.

Cara Belajar Filsafat

Setidaknya, ada tiga cara dalam belajar filsafat. Pertama, mempelajari sejarah filsafat (filsafat historis). Di sini dibicarakan tentang berbagai karya filsafat dari masa ke masa dan dari filsuf ke filsuf. Kedua, mempelajari secara sistematis. Metode belajar yang digunakan mengikuti sistematika filsafat atau bidang per bidang. Misalkan mempelajari epistemologi terlebih dahulu, kemudian metafisika, axiologi dan begitu seterusnya. Terakhir, adalah metode belajar untuk level advanced yaitu metode kritis. Kita memfokuskan pembahasan pada satu tokoh atau satu aliran tertentu. Pemikirannya kita dalami kemudian dilakukan kritik baik berdasarkan pemikiran pribadi atau orang lain.

Mengapa Belajar Filsafat?

Seluruh aspek peradaban tidaklah terbangun secara serampangan. Terdapat kekuatan-kekuatan fundamental yang menggerakannya. Setidaknya ada dua kekuatan yang telah lama dikenal umat manusia, yaitu agama dan filsafat. Benarkah agama menjadi kekuatan fundamental dalam sejarah umat manusia? Rasanya, orang yang tahu sejarah tidak akan memberikan jawaban negatif. Kita akan arahkan perhatian pada kekuatan kedua, filsafat. Seperti halnya agama, pemikiran filsafati bukanlah barang asing dalam kehidupan kita. Dalam konteks global dikenal istilah Weltanschauung, World View, atau pandangan dunia. Dalam konteks politik dan kehidupan bernegara dikenal istilah ideologi. Dalam konteks kehidupan pribadi dikenal istilah pandangan hidup atau falsafah hidup. Istilah-istilah tersebut mengacu pada sistem konsep dan nilai-nilai fundamental yang merupakan persoalan-persoalan filsafat.

Belajar filsafat tidak harus bagi semua orang, tapi mutlak perlu bagi orang yang ingin berpartisipasi membangun peradaban, membangun negara dan membangun dirinya. Minimal, dengan belajar filsafat seseorang dapat menjadi warga negara dan abdi negara yang baik sebab hampir tidak ada orang yang tidak mengikatkan diri dengan negara. Warga dan abdi negara yang baik adalah yang memahami falsafah negaranya.

Nilai esensial filsafat akan semakin kentara bila berbicara dalam konteks pengetahuan. Seorang ilmuwan rasanya tidak mungkin melepaskan diri dari persoalan filsafat disiplin ilmunya. Arah pengembangan mendasar pada suatu disiplin ilmu terletak pada pengembangan paradigma ilmunya. Dalam hal ini dibutuhkan telaah filosofik pada aspek ontologik, epistimologik dan aksiologik. Kelemahan mendasar seorang ilmuwan dan sarjana terletak pada lemahnya wawasan pada wilayah ini.

 

PROYEK TULISAN

Tulisan ini sebetulnya merupakan pendahuluan untuk tulisan-tulisan berikutnya. Berikut ini adalah bidang-bidang yang akan coba digarap sejauh kemampuan penulis. Mudah-mudahan tulisan-tulisan ini bernilai, sekecil apapun nilainya. Partisipasi anda sangat kami harapkan.

 

Sejarah filsafat

Epistemologi

Logika

Filsafat Sains

Filsafat Matematika

Filsafat Ilmu Pendidikan

Metafisika

Teologi

Filsafat Pendidikan

Filsafat Agama

Etika

Ulasan Artikel

  1. Jiwa, Pikiran, Tubuh dan planet (Bagian 1)
  2. Jiwa, Pikiran, Tubuh dan planet (Bagian 2)

Resensi

Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s