Pendidikan Berkarakter [Bagian 4]

Ringkasan Grand Design Pendidikan Karakter (3)

(Kemdiknas)

 

F. Pendekatan Pendidikan Karakter

1. Keteladanan

Ini merupakan pendekatan yang paling sulit dalam implementasinya. Istilah lainnya adalah pemodelan. Seluruh pendidik dan tenaga kependidikan, misalnya orang tua, tokoh agama, tokoh masyarakat, kepala sekolah, guru, instruktur, pegawai tata usaha, penjaga dan seterusnya, memberikan keteladanan kepada seluruh peserta didik. Teladan ini juga ditampilkan dalam bentuk hasil, misalnya kerapian dan kebersihan fasilitas satuan pendidikan. Singkatnya, karakter-karakter positif yang akan ditanamkan terhadap peserta didik telah terlebih dahulu dipraktekan dan ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari pendidik dan tenaga kependidikan.

2. Pembelajaran

Pendekatan ini terutama digunakan oleh satuan pendidikan, baik formal maupun non formal. Penggunaan pendekatan ini tidak hanya dilakukan di kelas, tapi juga di luar kelas dan di luar sekolah. Proses pendidikan sebelumnya, kita tahu, lebih menekankan pembelajaran di kelas. Kegiatan kurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler sama signifikannya, sejauh berkaitan dengan pengembangan karakter.

Pengembangan Budaya Satuan Pendidikan

Budaya satuan pendidikan formal dan nonformal memiliki cakupan yang sangat luas, antara lain mencakup kegiatan ritual, harapan, hubungan sosial-kultural, aspek demografi, kegiatan kurikuler, kegiatan ekstrakurikuler, proses pengambilan keputusan, kebijakan, maupun interaksi sosial antarkomponen. Budaya satuan pendidikan formal dan nonformal adalah suasana kehidupan satuan pendidikan formal dan nonformal di mana peserta didik berinteraksi dengan sesamanya, pendidik dengan pendidik, pendidik/konselor dengan peserta didik, pendidik dengan tenaga kependidikan, antara tenaga kependidikan dengan pendidik dan peserta didik, dan antaranggota kelompok masyarakat dengan warga satuan pendidikan formal dan nonformal. Interaksi sosial kultural internal kelompok dan antarkelompok terikat oleh berbagai aturan, norma, moral serta etika bersama yang berlaku di suatu satuan pendidikan formal dan nonformal. Jujur, bertanggung jawab, cerdas, kreatif, sehat dan bersih, peduli, dan gotong royong merupakan nilai-nilai yang dikembangkan dalam budaya satuan pendidikan formal dan nonformal.

Budaya satuan pendidikan formal dan nonformal merupakan salah satu aspek yang berpengaruh terhadap perkembangan peserta didik. Yang terpenting adalah iklim atau budaya satuan pendidikan formal dan nonformal. Jika suasana satuan pendidikan formal dan nonformal penuh kedisiplinan, kejujuran, kasih sayang, hal ini akan menghasilkan karakter yang baik. Pada saat yang sama, pendidik akan merasakan kedamaian dan suasana satuan pendidikan formal dan nonformal seperti itu akan meningkatkan mutu pengelolaan pembelajaran. Dengan pengelolaan pembelajaran yang baik, akan menyebabkan prestasi akademik yang tinggi. Sebuah temuan penting lainnya adalah bila peserta didik memiliki karakter yang baik, akan berpengaruh langsung terhadap prestasi akademik yang tinggi. Oleh karena itu, langkah pertama dalam mengaplikasikan pendidikan karakter dalam satuan pendidikan formal dan nonformal adalah menciptakan suasana atau iklim satuan pendidikan formal dan nonformal yang berkarakter yang akan membantu transformasi pendidik, peserta didik, dan tenaga kependidikan menjadi warga satuan pendidikan formal dan nonformal yang berkarakter. Hal ini termasuk perwujudan visi , misi, dan tujuan yang tepat untuk satuan pendidikan formal dan nonformal. Visi dan misi satuan pendidikan formal dan nonformal, kepemimpinan satuan pendidikan formal dan nonformal, kebijakan dan manajemen serta partisipasi orang tua dan peserta didik, serta langkah dalam model pembelajaran nilai-nilai karakter akan saling berkontribusi terhadap budaya satuan pendidikan formal dan nonformal.

Kebersihan dan kenyamanan lingkungan satuan pendidikan formal dan nonformal, baik di kamar mandi dan toilet, di ruang kelas, perpustakaan/taman bacaan masyarakat (TBM), laboratorium, dan lingkungan/taman di satuan pendidikan formal dan nonformal hanya dapat dilakukan dengan dukungan manajemen yang mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap kebersihan lingkungan. Kondisi satuan pendidikan formal dan nonformal seperti itu dilaksanakan bersama antara pendidik, peserta didik, tenaga kependidikan, serta orang tua. Di setiap sudut ruang harus ada tempat sampah yang dapat digunakan untuk menyimpan sampah kering dan basah serta sampah yang dapat didaur ulang. Seluruh warga satuan pendidikan formal dan nonformal dikondisikan untuk membuang sampah ke tempat yang sesuai dengan jenis sampah. Melalui pengkondisian dan pembiasaan seperti itu diharapkan kepedulian seluruh warga satuan pendidikan formal dan nonformal menjadi lebih tinggi terhadap kebersihan lingkungan.

Pengintegrasian Pendidikan Karakter dalam Semua Materi pembelajaran

Pengintegrasian pendidikan karakter ke dalam semua materi pembelajaran dilakukan dalam rangka mengembangkan kegiatan intervensi. Substansi nilai sesungguhnya secara eksplisit atau implisit sudah ada dalam rumusan kompetensi (SKL, SK, dan KD) dalam Standar Isi (Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah), serta perangkat kompetensi masing-masing program studi di pendidikan tinggi atau PNFI. Yang perlu dilakukan lebih lanjut adalah memastikan bahwa pembelajaran materi pembelajaran tersebut memiliki dampak instruksional dan/atau dampak pengiring pembentukan karakter. Pengintegrasian nilai dapat dilakukan untuk satu atau lebih dari setiap pokok bahasan dari setiap materi pembelajaran. Seperti halnya sikap, suatu nilai tidaklah berdiri sendiri, tetapi berbentuk kelompok. Secara internal setiap nilai mengandung elemen pikiran, perasaan, dan perilakiu moral yang secara psikologis saling berinteraksi. Karakter terbentuk dari internalisasi nilai yang bersifat konsisten, artinya terdapat keselarasan antarelemen nilai.

Proses pengintegrasian nilai tersebut, secara teknologi pembelajaran dapat dilakukan sebagai berikut.

  1. Nilai-nilai tersebut dicantumkan dalam silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

b.      Pengembangan nilai-nilai tersebut dalam silabus ditempuh antara lain melalui cara-cara sebagai berikut:

1)      mengkaji Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) pada pendidikan dasar dan pendidikan memengah, atau kompetensi program studi pada pendidikan tinggi, atau standar kompetensi pendidikan nonformal;

2)      menentukan apakah kandungan nilai-nilai dan karakter yang secara tersirat atau tersurat dalam SK dan KD atau kompetensi tersebut sudah tercakup di dalamnya;

3)      memetakan keterkaitan antara SK/KD/kompetensi dengan nilai dan indikator untuk menentukan nilai yang akan dikembangkan;

4)      menetapkan nilai-nilai/ karakter dalam silabus yang disusun;

5)      mencantumkan nilai-nilai yang sudah tercantum dalam silabus ke RPP;

6)      mengembangkan proses pembelajaran peserta didik aktif yang memungkinkan peserta didik memiliki kesempatan melakukan internalisasi nilai dan menunjukkannya dalam perilaku yang sesuai;

7)      memberikan bantuan kepada peserta didik yang mengalami kesulitan untuk internalisasi nilai mau pun untuk menunjukkannya dalam perilaku.

Belajar tentang ilmu pengetahuan tetap penting, tetapi hal itu kini lebih sudah dilakukan karena banyak sumber informasi yang dapat dipelajari. Oleh karena itu, pendidikan seharusnya diarahkan untuk membantu peserta didik belajar bagaimana memperoleh ilmu pengetahuan beserta nilai yang diusungnya. Di situ tersirat perlunya karakter sebagai wahana perwujudan dimensi aksiologi. Dari situ dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya pendidikan harus diarahkan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memperoleh pengetahuan, teknologi, atau seni; dan bagaimana menggunakannya guna memecahkan masalah kehidupan dengan arif, kreatif, dan bertanggung jawab atas kesejahteraan umat manusia.

3. Pemberdayaan dan Pembudayaan

Pengembangan nilai/karakter dapat dilihat pada dua latar, yaitu pada latar makro dan latar mikro. Latar makro bersifat nasional yang mencakup keseluruhan konteks perencanaan dan ilmpementasi pengembangan nilai/karakter yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan pendidikan nasional.

Secara makro pengembangan karakter dibagi dalam tiga tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi hasil. Pada tahap perencanaan dikembangkan perangkat karakter yang digali, dikristalisasikan, dan dirumuskan dengan menggunakan berbagai sumber, antara lain pertimbangan (1) filosofis: Pancasila, UUD 1945, dan UU N0.20 Tahun 2003 beserta ketentuan perundang-undangan turunannya; (2) teoretis: teori tentang otak, psikologis, pendidikan, nilai dan moral, serta sosiokultural; (3) empiris: berupa pengalaman dan praktik terbaik, antara lain tokoh-tokoh, satuan pendidikan formal dan nonformal unggulan, pesantren, kelompok kultural, dll.

Pada tahap implementasi dikembangkan pengalaman belajar dan proses pembelajaran yang bermuara pada pembentukan karakter dalam diri peserta didik. Proses ini dilaksanakan melalui proses pemberdayaan dan pembudayaan sebagaimana digariskan sebagai salah satu prinsip penyelenggaraan pendidikan nasional. Proses ini berlangsung dalam tiga pilar pendidikan yakni dalam satuan pendidikan formal dan nonformal, keluarga, dan masyarakat. Dalam masing-masing pilar pendidikan akan ada dua jenis pengalaman belajar yang dibangun melalui dua pendekatan yakni intervensi dan habituasi. Dalam intervensi dikembangkan suasana interaksi belajar dan pembelajaran yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan pembentulkan karakter dengan menerapkan kegiatan yang terstruktur. Agar proses pembelajaran tersebut berhasil guna, peran pendidik sebagai sosok panutan sangat penting dan menentukan. Sementara itu dalam habituasi diciptakan situasi dan kondisi serta penguatan yang memungkinkan peserta didik pada satuan pendidikannya, rumahnya, dan ingkungan masyarakatnya membiasakan diri berperilaku sesuai nilai sehingga terbentuk karakter yang telah diinternalisasi dan dipersonalisai dari dan melalui proses intervensi. Proses pemberdayaan dan pembudayaan yang mencakup pemberian contoh, pembelajaran, pembiasaan, dan penguatan harus dikembangkan secara sistemik, holistik, dan dinamis.

Dalam konteks makro kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia, pelaksanaan pendidikan karakter merupakan komitmen seluruh sektor kehidupan, bukan hanya sektor pendidikan nasional. Keterlibatan aktif dari sektor-sektor pemerintahan lainnya, khususnya sektor keagamaan, kesejahteraan, pemerintahan, komunikasi dan informasi, kesehatan, hukum dan hak asasi manusia, serta pemuda dan olahraga juga sangat dimungkinkan.

Pada tahap evaluasi hasil, dilakukan asesmen program untuk perbaikan berkelanjutan yang dirancang dan dilaksanakan untuk mendeteksi aktualisasi karakter dalam diri peserta didik sebagai indikator bahwa proses pembudayaan dan pemberdayaan karakter itu berhasil dengan baik, menghasilkan sikap yang kuat, dan pikiran yang argumentatif.

Pada latar makro, program pengembangan nilai/karakter dapat digambarkan sebagai berikut.

 

Konteks Makro Pengembangan Karakter

Sumber: Dokumen Grand Design Pendidikan Karakter Kemendiknas

Pada konteks mikro, pendidikan karakter berpusat pada satuan pendidikan formal dan nonformal secara holistik. Satuan pendidikan formal dan nonformal merupakan wilayah utama yang secara optimal memanfaatkan dan memberdayakan semua lingkungan belajar yang ada untuk menginisiasi, memperbaiki, menguatkan, dan menyempurnakan secara terus-menerus proses pendidikan karakter. Pendidikan seharusnya melakukan upaya sungguh-sungguh dan senantiasa menjadi garda depan dalam upaya pembentukan karakter manusia Indonesia yang sesungguhnya.

Secara mikro pengembangan karakter dibagi dalam empat pilar, yakni kegiatan belajar-mengajar di kelas, kegiatan keseharian dalam bentuk pengembangan budaya satuan pendidikan formal dan nonformal; kegiatan kokurikuler dan/atau ekstrakurikuler, serta kegiatan keseharian di rumah dan masyarakat.

Dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas, pengembangan karakter dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan terintegrasi dalam semua materi pembelajaran. Khusus, untuk materi pembelajaran Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan–karena memang misinya adalah mengembangkan nilai dan sikap–,pengembangan karakter harus menjadi fokus utama yang dapat menggunakan berbagai strategi/metode pendidikan karakter. Untuk kedua materi pembelajaran tersebut, karakter dikembangkan sebagai dampak pembelajaran dan juga dampak pengiring. Sementara itu untuk materi pembelajaran lainnya, yang secara formal memiliki misi utama selain pengembangan karakter, wajib dikembangkan kegiatan yang memiliki dampak pengiring bagi berkembangnya karakter dalam diri peserta didik. Dalam hal ini, peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan harus mau mengembangkan diri terus-menerus (belajar secara disiplin sehingga mampu bersaing dan mengikuti perubahan).

Dalam lingkungan satuan pendidikan formal dan nonformal dikondisikan agar lingkungan fisik dan sosiokultural satuan pendidikan formal dan nonformal memungkinkan para peserta didik bersama dengan warga satuan pendidikan formal dan nonformal lainnya terbiasa membangun kegiatan keseharian yang mencerminkan perwujudan karakter yang dituju.

Dalam kegiatan kokurikuler (kegiatan belajar di luar kelas yang terkait langsung pada materi suatu materi pembelajaran) atau kegiatan ekstra kurikuler (kegiatan satuan pendidikan formal dan nonformal yang bersifat umum dan tidak terkait langsung pada suatu materi pembelajaran, seperti kegiatan Dokter Kecil, Palang Merah Remaja, Pecinta Alam, liga pendidikan Indonesia, dan kegiatan kompetisi/festival, lokakarya, dan seni) perlu dikembangkan proses pembiasaan dan penguatan dalam rangka pengembangan karakter.

Di lingkungan keluarga dan masyarakat diupayakan terjadi proses penguatan dari orang tua/wali serta tokoh-tokoh masyarakat terhadap perilaku berkarakter mulia yang dikembangkan di satuan pendidikan formal dan nonformal sehingga menjadi kegiatan keseharian di rumah dan di lingkungan masyarakat masing-masing. Hal ini dapat dilakukan lewat komite sekolah, pertemuan wali murid, kunjungan/kegiatan wali murid yang berhubungan dengan kumpulan kegiatan sekolah dan keluarga.

Program pendidikan karakter pada konteks mikro dapat digambarkan sebagai berikut.

Konteks Mikro Pendidikan Karakter

Sumber: Dokumen Grand Design Pendidikan Karakter Kemendiknas

Konteks mikro pengembangan nilai/karakter merupakan latar utama yang harus difasilitasi bersama oleh Pemerintah Daerah dan Kementerian Pendidikan Nasional. Dengan demikian terjadi proses sinkronisasi antara pengembangan nilai/karakter secara psikopedagogis di kelas dan di lingkungan satuan pendidikan formal dan nonformal, secara sosiopedagogis di lingkungan satuan pendidikan formal dan nonformal dan masyarakat, dan pengembangan nilai/karakter secara sosiokultural nasional. Untuk itu satuan pendidikan formal dan nonformal perlu difasilitasi untuk dapat mengembangkan karakter. Pengembangan budaya satuan pendidikan formal dan nonformal ini perlu menjadi bagian integral sebagai entitas otonom seperti dikonsepsikan dalam manajemen berbasis satuan pendidikan (MBS). Dengan demikian setiap satuan pendidikan formal dan nonformal secara bertahap dan sistemik ditumbuh-kembangkan menjadi satuan pendidikan formal dan nonformal yang dinamis dan maju.

4. Penguatan

Penguatan sebagai respon dari pendidikan karakter perlu dilakukan dalam jangka panjang dan berulang terus-menerus. Penguatan dimulai dari lingkungan terdekat dan meluas pada lingkungan yang lebih luas. Di samping pembelajaran dan pemodelan, penguatan merupakan bagian dari proses intervensi. Penguatan juga dapat terjadi dalam proses habituasi. Hal itu akhirnya akan membentuk karakter yang akan terintegrasi melalui proses internalisasi dan personalisasi pada diri masing-masing individu. Penguatan dapat juga dilakukan dalam berbagai bentuk termasuk penataan lingkungan belajar dalam  satuan pendidikan formal dan nonformal yang menyentuh dan membangitkan karakter. Berbagai penghargaan perlu diberikan kepada satuan pendidikan formal dan nonformal, pendidik, tenaga kependidikan, atau peserta didik untuk semakin menguatkan dorongan, ajakan, dan motivasi pengembangan karakter.

Sementara itu dalam habituasi perlu diciptakan penguatan yang memungkinkan peserta didik pada satuan pendidikan formal dan nonformalnya, di rumahnya, di lingkungan masyarakatnya membiasakan diri berperilaku sesuai nilai dan menjadi karakter yang telah diinternalisasi dan dipersonalisai dari dan melalui proses intervensi. Proses pemberdayaan dan pembudayaan yang mencakup pemberian contoh, pembelajaran, pembiasaan, dan penguatan harus dikembangkan secara sistemik, holistik, dan dinamis.

Selain dalam kegiatan kurikuler, penguatan dalam rangka pengembangan nilai/karakter dapat juga dilakukan dalam kegiatan kokurikuler, yakni kegiatan belajar di luar kelas yan g terkait langsung pada suatu materi dari suatu materi pembelajaran, atau kegiatan ekstrakurikuler, yakni kegiatan satuan pendidikan formal dan nonformal yang bersifat umum dan tidak terkait langsung pada suatu materi pembelajaran, seperti kegiatan Dokter Kecil, Palang Merah Remaja, Pecinta Alam dll, Dalam kegiatan tersebut perlu dikembangkan proses pembiasaan dan penguatan dalam rangka pengembangan nilai/karakter.

Di lingkungan keluarga dan masyarakat diupayakan agar terjadi proses penguatan dari orang tua/wali serta tokoh-tokoh masyarakat terhadap perilaku berkarakter mulia yang dikembangkan di satuan pendidikan formal dan nonformal agar menjadi kegiatan keseharian di rumah. Dalam hal ini, pendidikian karakter mulai terlihat apabila peserta didik sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang   dinyatakan dalam indikator, tetapi belum konsisten biarpun sudah ada pemahaman, dan mendapat penguatan lingkungan terdekat.

5. Penilaian

Pada dasarnya, penilaian terhadap pendidikan karakter dapat dilakukan terhadap kinerja pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik. Kinerja pendidik atau tenaga kependidikan dapat dilihat dari berbagai hal terkait dengan dengan berbagai aturan yang melekat pada diri pegawai , antara lain: (1) hasil kerja: kualitas kerja, kuantitas kerja, ketepatan waktu penyelesaian kerja, kesesuaian dengan prosedur; (2) komitmen kerja: inisiatif, kualitas kehadiran, kontribusi terhadap keberhasilan kerja, kesediaan melaksanakan tugas dari pimpinan; (3) hubungan kerja: kerja sama, integritas, pengendalian diri, kemampuan mengarahkan dan memberikan inspirasi bagi orang lain.

Kegiatan pendidik dan tenaga kependidikan yang terkait dengan pendidikan karakter dapat dilihat dari portofolio atau catatan harian. Portofolio atau catatan harian dapat disusun dengan berdasarkan pada nilai-nilai yang dikembangkan, yakni: jujur, bertanggung jawab, cerdas, kreatif, bersih dan sehat, peduli, serta gotong royong Selain itu, kegiatan mereka dalam pengembangan dan penerapan pendidikan karakter dapat juga diobservasi. Observasi dapat dilakukan oleh atasan langsung atau pengawas dengan bersumber pada niali- nilai tersebut untuk mengetahui apakah mereka sudah melaksanakan hal itu atau tidak.

Selain penilaian untuk pendidik dan tenaga kependidikan, penilaian pencapaian nilai-nilai budaya dan karakter juga dapat ditujukan kepada peserta didik yang didasarkan pada beberapa indikator. Sebagai contoh, indikator untuk nilai jujur di suatu semester dirumuskan dengan “mengatakan dengan sesungguhnya perasaan dirinya mengenai apa yang dilihat/diamati/ dipelajari/dirasakan” maka pendidik mengamati (melalui berbagai cara) apakah yang dikatakan seorang peserta didik itu jujur mewakili perasaan dirinya. Mungkin saja peserta didik menyatakan perasaannya itu secara lisan tetapi dapat juga dilakukan secara tertulis atau bahkan dengan bahasa tubuh.

Perasaan yang dinyatakan itu mungkin saja memiliki gradasi dari perasaan yang tidak berbeda dengan perasaan umum teman sekelasnya sampai bahkan kepada yang bertentangan dengan perasaan umum teman sekelasnya. Penilaian dilakukan secara terus menerus, setiap saat pendidik berada di kelas atau di satuan pendidikan formal dan nonformal. Model catatan anekdotal (catatan yang dibuat pendidik ketika melihat adanya perilaku yang berkenaan dengan nilai yang dikembangkan) selalu dapat digunakan pendidik. Selain itu pendidik dapat pula memberikan tugas yang berisikan suatu persoalan atau kejadian yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan nilai yang dimilikinya. Sebagai contoh, peserta didik dimintakan menyatakan sikapnya terhadap upaya menolong pemalas, memberikan bantuan terhadap orang kikir, atau hal-hal lain yang bersifat bukan kontroversial sampai kepada hal yang dapat mengundang konflik pada dirinya.

Dari hasil pengamatan, catatan anekdotal, tugas, laporan, dan sebagainya pendidik dapat memberikan kesimpulan/pertimbangan tentang pencapaian suatu indikator atau bahkan suatu nilai. Kesimpulan/pertimbangan tersebut dapat dinyatakan dalam pernyataan kualitatif dan memiliki makna terjadinya proses pembangunan karakter sebagai berikut ini.

BT: Belum Terlihat, apabila peserta didik belum memperlihatkan tanda- tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator karena belum memahami makna dari nilai itu (Tahap Anomi)

MT: Mulai Terlihat , apabila peserta didik sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator tetapi belum konsisten karena sudah ada pemahaman dan mendapat penguatan lingkungan terdekat (Tahap Heteronomi)

MB: Mulai Berkembang, apabila peserta didik sudah memperlihatkan berbagai tanda perilaku yang dinyatakan dalam indikator dan mulai konsisten, karena selain sudah ada pemahaman dan kesadaran juga mendapat penguatan lingkungan terdekat dan lingkungan yang lebih luas (Tahap Sosionomi)

MK: Membudaya, apabila peserta didik terus menerus memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten karena selain sudah   ada pemahaman dan kesadaran dan mendapat penguatan lingkungan terdekat dan lingkungan yang lebih luas sudah tumbuh kematangan moral (Tahap Autonomi)

(Bersambung)

__________________________________________________

Sumber:

Silahkan unduh di sini.

Desain-Induk-Pendidikan-Karakter-Kemdiknas

Kebijakan-Nasional-Pendikar

NASKAH-RAN-KEMENDIKNAS-REV-2

Rencana Pembangunan Pendidikan Nasiona Jangka Panjang

 

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s