Pendidikan Berkarakter [Bagian 1]

Istilah “pendidikan berkarakter” saat ini sudah terlanjur populer pada sebagian insan pendidikan di Indonesia. Popularitas istilah ini memang terkait dengan urgensi dan relevansinya dengan keadaan bangsa saat ini. Peristilahan ini sebetulnya cukup membingungkan. Penambahan prefiks “ber” pada kata “karakter” mungkin dapat membuat orang berpikir bahwa pendidikan berkarakter adalah pendidikan yang memiliki karakter atau menggunakan karakter.

Selidik punya selidik, ternyata yang dimaksud adalah pendidikan yang menyertakan proses character building dalam kurikulumnya. Barangkali yang lebih cocok adalah istilah pendidikan karakter; sepadan dengan istilah pendidikan moral, pendidikan olah raga, pendidikan jasmani dan lain sebagainya. Tentu akan menyebabkan kesalah pahaman jika orang mendengar istilah “pendidikan bermoral” padahal yang dimaksud adalah pendidikan moral. Namun demikian, kekeliruan kecil ini nampaknya menjadi tidak terlalu penting dipermasalahkan asalkan esensinya tetap sama. Akan terasa lebih bermakna jika perhatian ditekankan pada esensi konsep baru ini dan implementasinya pada saat ini dan masa yang akan datang.

Konsep pendidikan karakter pertama kali dipopulerkan pada acara saresahan tanggal 14 Januari 2010 yang penyelenggaraanya didorong oleh Pemerintah. Acara tersebut melibatkan lebih dari 200 pakar, praktisi, tokoh masyarakat, pemuka agama, budayawan, dan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pembangunan karakter bangsa. Pemerintah menyelanggarakan pertemuan tersebut dimaksudkan untuk menggali masukan-masukan yang selanjutnya dijadikan acuan untuk menyusun Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa yang merupakan pelaksanaan amanat Rancangan Pembangunan Jangka Panjang Tahun 2005-2025.

Satu tahun lebih setelah diintrodusir dalam sistem pendidikan nasional, kini konsep pendidikan karakter telah menjelma menjadi sebuah grand design. Saat ini grand design pendidikan karakter ini telah melalui fase awal implementasi. Pada fase ini, upaya pemerintah masih pada tahap persiapan yaitu pengembangan konsep-konsep operasional, pengembangan regulasi atau payung hukum dan sosialiasi hingga tingkat satuan pendidikan. Pada tahun pelajaran 2011-2012, rencananya pendidikan karakter akan benar-benar dilaksanakan mulai dari pendidikan usia dini (PAUD) sampai ke perguruan tinggi. Rencana ini disampaikan sendiri oleh Menteri Pendidikan pada sambutan dalam acara peringatan hari pendidikan nasional dan hari kebangkitan nasional pada tanggal 20 Mei 2011.

Apakah pendidikan karakter merupakan suatu konsep yang baru? Sebagai konsep operasional barangkali jawabannya positif. Namun sebagai sebuah landasan filosofis pendidikan nasional sepertinya tidak demikian. Dengan mudah kita dapat melihat hal itu pada Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) mengenai tujuan pendidikan nasional.

UUSPN Tahun 1989
Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

UUSPN Tahun 2003
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Tujuan pendidikan nasional pada dua UUSPN tersebut mengandung kata-kata kunci yang pada dasarnya merupakan pendidikan karakter. Misalkan pada UUSPN 1989 terdapat kata kunci beriman, bertaqwa, berbudi pekerti, kepribadian mantap mandiri dan tanggung jawab. Pada UUSPN 2003, terdapat kata kunci beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, kreatif, mandir, demokratis dan tanggung jawab. Ini artinya konsep pendidikan karakter semestinya bukanlah hal yang baru. Tujuan pendidikan seharusnya mengarahkan proses pendidikan dan keberhasilan proses tersebut dapat kita lihat pada hasil (output) pendidikan.

Secara umum, nampaknya kita sepakat bahwa generasi-generasi saat ini mengalami krisis moral yang sangat mengakar. Hampir setiap hari kita disuguhi berita tentang perilaku-perilaku amoral anak bangsa dari berbagai lapisan masyarakat, dan yang paling tragis adalah yang diperlihatkan oleh elite-elite yang berada di berbagai lembaga pemerintahan. Diakui atau tidak, hal ini merupakan bentuk kegagalan dari pendidikan nasional. Lantas dimana letak penyebab kegagalan tersebut? Apakah konsep pendidikan karakter yang digulirkan saat ini tidak akan mengalami nasib yang sama?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut nampaknya membutuhkan berbagai macam pendekatan dan merupakan kajian yang multi disipliner. Tentu tidak mudah dilakukan. Pada seri tulisan ini, akan diupayakan untuk menjawab seputar persoalan tersebut. sejauh kemampuan penulis, pada seri tulisan ini akan dilakukan kajian pada wilayah filosofik, teoritik dan kajian-kajian pada wilayah praxis.

(Bersambung)

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan dan tag , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

10 Balasan ke Pendidikan Berkarakter [Bagian 1]

  1. asep sulaeman berkata:

    ditunggu tulisan berikutnya. minta izin kopas. tanks

  2. taupiq hidayat berkata:

    oke mas.

  3. andin berkata:

    kalo menurut aku sih. pendidikan karakter satu terobosan baru dalam sisdiknas

  4. nurfalah berkata:

    pendidikan karakter sebuah konsep bagus. kita tunggu apakah implementasi dan pengembangannya bagus atau tidak

  5. konsep pendidikan karakter perlu ditimbang pada domain filosofis. coba dong kita diskusikan

  6. terimakasih banyak, artikel anda sangat menarik

  7. nana ismulyana berkata:

    bagus tulisannya pa cin… boleh kopas yah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s