Israiliyyat Dalam Tafsir

PENDAHULUAN

Al-Qur’an yang menyatakan dirinya sebagai hudan linnas otomatis sarat dengan berbagai macam ajaran. Di antara ajaran-ajarannya tertuang dalam kisah kisah agar manusia mengambil pelajaran, baik yang tersurat maupun yang tersirat dalam ungkapan Al-Qur’an. Kisah-kisah tersebut ada yang berhubungan dengan kehidupan para Nabi dan Rasul dan ada pula yang berhubungan dengan pribadi, pribadi bukan rasul yang diharapkan menjadi teladan bagi umat manusia, seperti Ashabul Kahfi, Luqman dan Dzulqarnain.

Kitab-kitab terdahulu, yakni Taurat dan Injil, juga memuat kisah-kisah seperti Al-Qur’an, namun terdapat perbedaan, baik dari segi pengungkapannya maupun gaya bahasanya.

Pengungkapan Al-Qur’an lebih bersifat global. Artinya, dalam mengungkapkan suatu peristirwa tertentu Al-Qur’an tidak memerinci tempat kejadian, saat kejadian dan nama-nama tokoh yang terlibat serta jalannya peristiwa. Al-Qur’an hanya menyajikan beberapa fragmen yang berkaitan dengan substansi tema yang mengandung pelajaran, sedangkan kitab-kitab yang lain mengungkapkan secara panjang lebar dan menjelaskan rincian serta bagian-bagiannya. Hal ini membuka peluang masuknya kisah-kisah yang bersumber dari tradisi Yahudi maupun Nasrani ke dalam khazanah Islam, baik dalam penafsiran Al-Qur’an maupun hadits. Berangkat dari hal tersebut penulis akan mencoba menulis apa yang dimaksud dengan israiliyyat itu? apa latar belakang historis tumbuhnya Israiliyyat dan apa kategori Israiliyyat? apa dampak Israiliyat terhadap kesucian ajaran lslam dan bagaimana pandangan ulama tentang hal tersebut?

A. PENGERTIAN ISRAILIYYAT

Israiliyyat secara etimologis adalah bentuk jamak dari kata Israiliyyah; Isim (kata benda) yang dinisbatkan pada kata Israil, dari bahasa lbrani yang berarti hamba Tuhan.[1] Dalam pengertian lain israiliyyat dinisbatkan pada nabi Ya’kub, bin Ishaq bin Ibrahim. Sedangkan istilah Yahudi adalah sebutan bagi Bani Israil.[2] Hal ini sesuai dengan hadis riwayat Abu Daud dan Ibnu Abbas: “Sekelompok orang Yahudi telah mendatangi Nabi, lalu beliau bertanya kepada mereka‘, “Tahukah kamu sekalian bahwa sesungguhnya Israil itu adalah nabi ya’kub? ” Lalu mereka menjawab, “Betul” Kemudian Nabi berdoa, “wahai Tuhanku, saksikanlah pengakuan mereka ini.[3]

Sedangkan dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

israiliyat1

Artinya: “Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya’qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan “.

Dari segi terminologi, kata Israiliyyat, walaupun pada mulanya hanyalah menunjukkan riwayat yang bersumber dari kaun Yahudi namun pada akhimya para ulama ahli tafsir dan ahli hadis menggunakan istilah tersebut dalam arti yang lebih luas lagi. Israliyyat adalah seluruh riwayat yang bersumber dari orang Yahudi dan Nasrani serta selain dari keduanya yang masuk dalam tafsir maupun hadis. Ada pula ulama tafsir dan hadis yang memberi makna israiliyyat sebagai cerita yang bersumber dari musuh-musuh Islam, baik Yahudi, Nasrani ataupun lainnya.[4]

Muhammad Husain AdzDzahabi, misalnya, membagi Israiliyyat ke dalam dua macam . Pertama, Israiliyat sebagai kisah dan dongeng kuno yang menyusup ke dalam tafsir dan hadis yang asal periwayatannya kembali pada sumber Nasrani, Yahudi atau yang lainnya. Kedua, Kisah dan dongeng yang sengaja diselundupkan oleh musuh-musuh Islam ke dalam tafsir dan hadis yang sama sekali tidak dijumpai dasarnya dalam sumber lama. Kisah itu sengaja diselundupkan dengan tujuan merusak aqidah kaum Muslimin.[5]

Ahmad Khalil menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Israiliyyat adalah kisah-kisah yang diriwayatkan dari Ahli Kitab, baik yang ada hubungannya dengan agama mereka ataupun tidak.[6]

Amin Al Khuli berpendapat bahwa Israiliyyat merupakan pembauran kisah-kisah dari agama dan kepercayaan bukan Islam yang merembes masuk ke Jazirah Arab Islam. Kisah-kisah tersebut dibawa oleh orang-orang Yahudi yang sejak dulu berkelana ke arah Timur menuju Babilonia dan sekitamya, sedangkan ke arah Barat menuju Mesir. Setelah mereka kembali ke negera asal, mereka membawa bermacam-macam berita keagamaan yang mereka jumpai dari negera negera yang mereka singgahi.[7]

B. LATAR BELAKANG HISTORIS TUMBUHNYA ISRAILIYYAT

Sebelum Islam datang, ada satu golongan yang disebut dengan kaun Yahudi, yaitu sekelompok kaum yang dikenal mempunyai peradaban yang tinggi dibanding dengan bangsa Arab pada waktu itu. Mereka telah membawa pengetahuan keagamaan berupa cerita-cerita keagamaan dari kitab suci mereka.[8]

Pada waktu itu mereka hidup dalam keadaan tertindas. Banyak di antara mereka yang lari dan pindah ke Jazirah Arab. Ini terjadi kurang lebih pada tahtm 70 M. Pada masa inilah diperkirakan teradinya perkembangan besar-besaran kisah-kisah Israiliyyat, kemudian mengalami kemajuan pada taraf tertentu. Disadari atau tidak, terjadilah proses percampuran antara tradisi bangsa Arab dengan khazanah tradisi Yahudi tersebut.[9] Dengan kata lain, adanya kisah Israiliyat merupakan konsekuensi logis dari proses akulturasi budaya dan ilmu pengetahuan antara bangsa Arab Jahiliyah dan kaum Yahudi serta Nasrani.[10]

Pendapat lain menyatakan bahwa timbulnya Israiliyyat adalah, pertama, karena semakin banyaknya orang-orang Yahudi yang masuk lslam. Sebelumnya mereka adalah kaum yang berperadaban tinggi. Tatkala masuk Islam mereka tidak melepaskan seluruh ajaran-ajaran yang mereka anut terlebih dulu, sehingga dalam pemahamannya sering kali tercampur antara ajaran yang mereka anut terdahulu dengan ajaran Islam.

Kedua, adanya keinginan dari kaum Muslim pada waktu itu untuk mengetahui sepenuhnya tentang seluk-beluk bangsa Yahudi yang berperadaban tinggi, di mana Al-Qur’an hanya mengungkapkan secara sepintas saja. Dengan ini maka muncullah kelompok muffasir yang berusaha meraih kesempatan itu dengan memasukkan kisah-kisah yang bersumber dari orang-orang Yahudi dan Nasrani tersebut. Akibatnya tafsir itu penuh dengan kesimpang-siuran, bahkan terkadang mendekati khurafat dan takhayul.[11]

Ketiga, adanya ulama Yahudi yang masuk Islam, seperti Abdullah bin Salam, Ka’ab bin Akhbar, Wahab bin Manabbih. Mereka dipandang mempunyai andil besar terhadap tersebarnya kisah Israiliyyat pada kalangan Muslim.[12] Hal ini dipandang sebagai indikasi bahwa kisah Israiliyyat masuk ke dalam Islam sejak masa sahabat dan membawa pengaruh besar terhadap kegiatan penafsiran Al-Qur’an pada masa-masa sesudahnya.

Kisah Israiliyat semakin berkembang subur di kalangan Islam ketika masa tabi’in dan mencapai puncaknya pada masa tabi’it-tabi’in. Pada masa tabi’in timbul kecintaan yang luar biasa pada kisah Israiliyyat. Mereka cenderung mengambil cerita tersebut secara ceroboh, sehingga setiap cerita yang ada hampir tidak ada yang ditolak. Mereka tidak mengembalikan cerita tersebut pada Al-Qur’an, walaupun terkadang tidak dimengerti akal.[13]

C. KATEGORI ISRAILIYYAT

Dari segi kandungannya, secara garis besar kisah Israliyyat terbagi menjadi tiga kategori:

Pertama, kisah Israiliyyat yang benar isinya, sesuai dengan al-Qur’an dan hadis dan tidak bertentangan dengan keduanya. Contoh kriteria yang pertama, yakni yang sesuai dengan syariat kita, adalah apayarg diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dengan redaksi dari Imam Bukhari, ia berkata: “Telah menceritakan kepada ami Yahya bin Bukhair, dari Lais, dari Khalid, dari Sa’id bin Abu Hilal, dari Zaidbin Aslam, dari ‘Ata’ bin Yasir, dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata, bahwa Rasulullah telah bersabda: “Adalah bumi itu pada hari nanti seperti segenggam roti. Allah memegangnya dengan kekuasaan-Nya sebagaimana seseorang menggenggam sebuah roti di perjalanan. Ia merupakan tempat bagi ahli surga. Kemudian datanglah seorang laki-laki dari Yahudi, dan berkata: Semoga Allah mengagungkan engkau wahai Abal Qasim, tidaklah aku ingin menceritakan kepadamu tempat ahli swga pada hari kiamat nanti? Rasul menjawab, ya tentu. Kemudian laki-laki tadi menyatakan bahwasa,nya bumi ini seperti segenggam roti sebagaimana dinyatakan Nabi, kemudian Rasul melihat kepada kami semua, lalu tertawa sampai terlihat geraham giginya.”[14]

Kedua, kisah Israiliyyat yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadis. Ini harus driauhi dan tidak boleh diriwayatkan kecuali di sertai dengan penjelasan mengenai kedustaannya. Contoh cerita Israiliyyat knteria kedua, yakm yang bertentangan dengan syariat kita, keterangan yang telah kita ketahui terdahulu dalam Kitab Safarul-Khurzg bahwasannya Harun a.s. adalah Nabi yang membuat anak sapi untuk Bani Israil, Ialu ia mengajak mereka untuk menyembahnya. Demikian pula riwayat yang telah kita dapati dari Kitab Safarut-Tala,vin, bahwasanya Allah menyelesaikan seiuruh pekerjaan-Nya pada hari yang ketujuh, Ialu beristirahatlah pada hari yang ketujuh tersebut. Demikian pula apa yang diriwayatican oleh Ibn Jarir di dalam Tafsir-nya, ketika menerangkan firman Allah dalam Qur’an surah Shad ayat 34:

israiliyat2

Artinya: “Dan Sesungguhnya kami Telah menguji Sulaiman dan kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah Karena sakit), Kemudian ia bertaubat.”

Yaitu tentang kisah setan yang datang dan duduk di singgasana Nabi sulaiman dan menguasai singgasana tersebut, tidak ada orang yang mengetahuinya kecuali Nabi Sulaiman. Dan setan tersebut, menurut riwayat Ibn Jarir, dari Abu Hatim, menguasai istri-istri Nabi sulaiman, ia menggauli mereka yang sedang haid, akan tetapi mereka tidak menyadari bahwa yang datang itu bukan Nabi Sulaiman.

Ketiga, kisah Israiliyyat yang tidak diketahui benar atau tidaknya. Yang demikian ini tidak perlu diyakini atau didustakan keberadaannya, sesuai dengan hadis Nabi dari Abu Hurairah:

israiliyat3

Artinya: JanganLah kamu sekaliaan membenarkan Ahli Kitab dan jangan pula mendustakanrrya; ucapkanlah, “Kami beriman kepada Allah dan kepada kitab yang diturunkan kepada kamu.

Contoh cerita Israiliyyat kriteria ketiga, yakni yang didiamkan oleh syariat kita, dalam arti tidak ada yang memperkuat ataupun menolaknya, seperti yang diriwayatkan oleh Ibn Kasir dari Su’udi di dalam Tafsirqra ketika menerangkan ayat-ayat tentang sapi betina, sebagaimana dinyatakan di dalam Qur’an surah al Baqarah (2):67 -7 4. Keterangannya adalah:

“Seorang laki-laki dari Bani Israil, memiliki harta yang banyak dan memiliki seorang anak wanita. la mempunyai pula seorang anak laki-laki dari saudara laki-lakinya yang miskin. Kemudian anak laki-laki tersebut melamar anak perempuan itu. Akan tetapi saudara laki-laki tersebut enggan menerimanya dan akibatnya, pemuda tadi menjadi marah, dan ia berkata: Demi Allah akan kubunuh pamanku itu, akan kuambil hartanya, akan kunikahi anak perempuannya dan akan kumakan diyatnya. Kemudian pemuda tadi datang kepada pamannya, bertepatan dengan datangnya sebagian pedagang Bani Israil. la berkata kepada pamannya: Wahai pamanku, berjalanlah bersamaku, aku akan minta pertolongan kepada para pedagang Bani Israil, mudah-mudahan aku berhasil, dan jika mereka melihat engkau bersamaku pasti akan memberinya. Kemudian keluarlah pemuda itu beserta pamannya pada suatu malam, dan ketika mereka sampai di suatu Eeng, maka si pemuda tadi membunuh pamannya, kemr”rdian ia kembali kepada keluarganya. Ketika datang waktu pagi, seolah-olah ia mencari pamannya, dan seolah-olah ia tidak mengetahui di mana pamannya itu berada, dan berkata: Kalian membunuh pamanku, bayarlah diyatnya.’Kemudian ia menangis sambil melempar-lempar tanah ke atas kepalanya dan berteriak: Wahai paman! Lalu ia melaporkan persoalannya kepada Nabi Musq dan Nabi Musa menetapkan diyat bagi pedagang tersebut. Mereka berkata kepada Musa: Wahai Rasulullah, berdoalah engkau kepada Tuhan, mudah-mudahan Tuhan memberi petunjuli kepada kita, siapa yang melakukan hal ini, nanti keputusan diberikan kepada pelaku. Demi Allah, sesungguhnya membayar diyat itu bagi kami adalah sangat mudah, akan tetapi kami sangat malu dengan perbuatan tersebut.” Peristiwa tersebut dinyatakan Allah dalam Qur’an surah al-Baqarah ayat 72:

israiliyat4

Artinya: Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama Ini kamu sembunyikan.[15]

D. DAMPAK ISRAILIYYAT TERHADAP KESUCIAN AJARAN ISLAM

Menurut Adz-Dzahabi, jika Israiliyat itu masuk dalam khazanah. tafsir Al-Qur’an, ia dapat menimbulkan dampak negatif sebagai berikut. Pertama, Israiliyyat akan merusak aqidah kaum Muslimin, karena ia antara lain mengandung unsur penyerupaan pada Allah, peniadaan ‘ishmalz para Nabi dan Rasul dari dosa, karena mengandung tuduhan perbuatan buruk yang tidak pantas bagi orang adil, apalagi sebagai Nabi. Kedua, merusak citra agama lslam karena ia mengandung gambaran seolah-olah. Islam agama penuh dengan khurafat dan kebohongan yang tidak ada sumbemya. Ketiga, ia menghilangkan kepercayaan pada ulama salaf; baik dari kalangan sahabat maupun tabi’in . Keempat, ia dapat memalingkan manusia dari maksud dan tujuan yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an.[16]

E. PENDAPAT ULAMA TENTANG ISRAILIYYAT

Menurut Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Muqaddimah fi LIslulut-Tafsir Israiliyat itu tiga macam.  pertama, cerita Israiliyat yang shahih, itu boleh diterima. Kedua, Israiliyat yang dusta yang kita ketahui kedustaannya karena bertentangari dengan syari’at, itu harus ditolak. Ketiga, Israiliyyat yang tidak diketahui kebenaran dan kepalsuannya. Itu didiamkan; tidak didustakan dan tidak juga dibenarkan. Jangan mengimaninya dan jangan pula membohongkannya.

Al Biqa’i dalam Al Aqwal Al Qawimah fil hukmi ‘anin naqli menyatakan bahwa hukum menukil riwayat dari ani Israil yang tidak dibenarkan dan tidak didustakan oleh kitab kita adalah boleh, demikian pula dari pemeluk agama lain, karena tujuannya hanyalah ingin mengetahui semata, bukan untuk dijadikan pegangan.”[17]

Muhammad Abduh sangat berhati -hati dalam menerima pendapatpendapat sahabat, apalagi jika pendapat tersebut berbeda satu dengan yang lainnya. Bahkan, lebih jauh dari itu, Abduh tidak menolak pendapat yang terkadang ditolak oleh ulama lain walaupun dirasakan dari pendapat tersebut adanya semacam unsur Israiliyyat.[18] Salah contoh penjelasan Abduh tentang Firman Allah SWT:

israiliyat5

“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Ai Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.”

Abduh manyatakan bahwa israiliyat6  (yang memiliki ihnu dari Alkitab ), namanya adalah’Ashif.

Pendapat Jumhur ulama tentang Israiliyyat, pertama, mereka dapat menerima Israiliyyat selama tidak be*entangan dengan Al-Qur’an dan hadis. Keclua, mereka tidak .menerima selagi kisah israiliyyat tersebut bertentangan dengan A1 Qur’an dan. hadis. Ketiga, tarvaqquf atau mendiamkan. Mereka tidak menolak dan tidak membenarkannya, berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah tersebut.

PENUTUP

Dari uraian terdahulu dapat ditarik kesimpulan, pertama, kisah Israiliyyat adalah kisah-kisah yang sebagian besar bersumber dari orang-orang Yahudi, baik diydan atau tidak, yang telah menyusup ke dalam khazanah tafsir Al-Qur’an dan hadis Nabi.

Kedua, latar betakang timbulnya Israiliyyat adalah semakin banyaknya orang-orang Yahudi atau Ahli Kitab yang masuk Islam; adanya keinginan sebagian dari kaum Muslimin untuk mengetahui ihwal orang-orang Yahudi yang mempunyai peradaban tinggi dibanding kaum Muslim di Jazirah Arab pada waktu itu.

Ketiga, Israiliyat mempunyai dampak negatif terhadap penafsiran Al-Qur’an. ia dapat merusak citra agama Islam, merusak aqidah Muslim dan memalingkan kaum Muslimin dari ajaran Al-Qur’an dansunnah shshihah.


[1] Muhammad  Husaini  Al-Khallaf , Al-Yahudiyah  bainal Masihiyah wal  Islam  (Mesir: Al-Mu’assasah Al-Mishriyah,  1962), hal.1 4

[2] Muhammad  Husain AdzDzahabi,  Israil$ahfit  Tafsir  wal Hodits (Kairo  :Mujamma’ul  Buhus Al-Islamiyah),  hal. l9

[3] Abu Dawud  Ath  Thayalitsi”  Sunan  Abu Dawud , Jilid  IV  (Beirut  :  Darul Fikr,t.th) hal.40.

[4] Muhammad Husain Al-Dzahabi,  Israiliyah  dalam Tafsir  dan  Hadits,  terjemah  Didin Hafidzuddin  (Jakarta: Litera  Antar  Nusa,1993), hal. 9

[5] Muhammad Husaini al-Khallaf,  op. cit., hal. 20

[6] Ahmad  Khalil  Arsyad, Dirasah fi  AI-Qur’an,  (Mesir:  Darul Ma’arif, 1972), hal. 115.

[7] . M. Quraish Shihab, Membumikan  AI-Qur’an (Bandung:  Mizan,  1995), hal. 46.

[8] Manna’  Khalil Al Qathan,  Studi  llmu-ilmu  Al-Qur’an, terjemah  Mudzakir  AS , (Jakarta:  Litera Antar  Nusa, 1996), hal. 42

[9] Amin Al-Khuli,  Manhaj al- Tajdid fi al-Tafsir, (Kairo :  Darul  Ma’arif, 196l), hal. 227.

[10] M.Quraish  Shihab,  op.cit., hal. 46

[11] Ahmad Khalil Arsyad, op.cit., hal. 62.

[12] lgnaz Goldziher,  Madzahib  At Tafsir  At  Istaml  (Kairo:  As Sunnah  Al Muhammadiyah  ,  1995), hal.  113.

[13] Muhammad Husain  Adz  Dzahabi,  op.citt., hal. 20

[14] Sahih  Bukhari,  bab. Hamba  Sahaya, pasal: Allah akan mengangkat bumi, Jilid 8, hal. 108, cetakan  Khairiyah.

[15] Tafsir  Ibn  Kasir,  jilid  I  hal. 109,  cetakan  Tijariyah.

[16] Muhammad Husain  Adz  Dzahabi,  op.cit.,h.  26-32.

[17] Ahmad  Syadalidan  Ahmad  Rofi’f,Ulumul  Qur’ar,. Cetakan  f., 1gg4,hal. 54-55

[18] M.Quraish  Shihab,  Studi ,Kritis  Tafsir Al-Manar,,  cetakan f, wg4, hal.  54-55

Tulisan ini dipublikasikan di Ilmu-ilmu Al-Quran dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s